Kekeringan di Sumsel, Satgas Kesulitan Cari Sumber Air Padamkan Api

Kekeringan di Sumatra Selatan membuat Satgas Darat kesulitan memperoleh air untuk memadamkan karhutla karena parit, embung, dan sumber air lain mengering atau berlumpur.
Di Menang Raya, OKI, dan Karang Agung, Muba, tim memanfaatkan sisa air bekas galian proyek serta mencari alternatif melalui pembersihan kanal, sekat air, dan penggalian embung.
Saat sumber air habis, pemadaman dilakukan manual dengan handtools dan sekat bakar; water bombing helikopter turut terhambat karena jarak pandang rendah.
Palembang, IDN Times - Kondisi kekeringan yang melanda Sumatra Selatan (Sumsel) memaksa tim Satgas Darat bersusah payah memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Sumsel mengakibatkan tim harus mencari air ke tempat yang lebih jauh untuk membantu memadamkan api.
"Rata-rata air sudah kering, parit-parit, embung, dan lain-lain," ungkap Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, Jumat (23/10/2026).
1. Air tersisa berlumpur

Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal) Tak hanya masalah kekeringan, Ferdian juga menyebut air yang ada kerap berlumpur sehingga menyulitkan tim untuk mengambil air. Menurutnya, penggunaan air berlumpur tidak mampu mencukupi selama proses operasi.
"Mulai tekor berlumpur airnya, perlu dikeduk dulu lumpurnya," jelasnya.
2. Manfaatkan air yang tersisa

Proses penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Sumatra Selatan dalam upaya pemadaman (Dok: Manggala Agni) Keterbatasan sumber air menjadi salah satu kendala pemadaman karhutla, terutama di kawasan gambut dalam. Kondisi ini terjadi di sejumlah wilayah, di antaranya Menang Raya, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), serta Karang Agung di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).
Saat memadamkan api di Menang Raya, tim Manggala Agni terpaksa memanfaatkan air yang tersisa di bekas galian proyek pembangunan Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayuagung (Terpeka). Namun, persediaan air di lokasi tersebut sangat terbatas sehingga cepat habis, bahkan ketika api belum berhasil dipadamkan sepenuhnya.
"Kita memanfaatkan air yang masih tersisa, itu pun tidak mencukupi," kata Ferdian.
Menghadapi keterbatasan air, tim Manggala Agni berupaya mencari sumber air alternatif agar proses pemadaman berjalan lebih optimal. Upaya ini dinilai penting mengingat masih banyak lahan, khususnya di kawasan gambut, yang terbakar dan berpotensi mengalami kebakaran lanjutan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah meminta bantuan perusahaan terdekat untuk meminjamkan alat berat guna membersihkan kanal dan membuat sekat air. Selain itu, tim juga menggali embung berukuran 3 x 3 meter dengan jarak sekitar 5 meter ke arah kepala api untuk menyediakan sumber air di dekat titik kebakaran.
"Tapi ya, kadang-kadang (perusahaan) mau (mengabulkan permintaan)," kata dia.
3. Upayakan pemadaman manual

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI) Di lokasi karhutla yang tidak lagi memiliki sumber air akibat kekeringan, tim terpaksa melakukan pemadaman secara manual. Selain itu, pemadaman juga dilakukan secara tidak langsung dengan membatasi pergerakan api agar tidak meluas ke area lain.
Namun, metode pemadaman tidak langsung tidak dapat diterapkan di seluruh titik kebakaran. Cara ini dilakukan dengan membuat sekat bakar untuk mengisolasi api sehingga penyebarannya dapat dikendalikan.
"Kita terpaksa pakai metode pemadaman manual dengan handtools," kata Ferdian.
Saat satgas darat terkendala sumber air, pemadaman melalui udara juga terhambat akibat rendahnya jarak pandang. Helikopter water bombing tidak dapat diterbangkan demi menjaga keselamatan penerbangan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
"Kalau visibility rendah, heli waterbombing tidak bisa terbang. Karena itu, netizen juga perlu diedukasi juga, SOP keselamatan kerja perlu ditaati," jelasnya.




















