Menilik Proses Pembuatan Eco Enzyme di Palembang, Apa Manfaatnya?

Suyanti di Palembang memproduksi eco enzyme dari limbah kulit buah dan sayur untuk membantu memperbaiki lingkungan, menetralisir bau, serta menjaga kualitas udara dalam ruangan.
Pembuatan eco enzyme mencampurkan bahan organik, molase atau gula, dan air dengan rasio 1:3:10, lalu difermentasi dalam wadah kedap udara minimal tiga bulan.
Akademisi Unsri menyebut riset eco enzyme terus dikembangkan untuk pertanian dan lingkungan, termasuk kesuburan tanah serta uji perbaikan sungai, namun terkendala produksi skala besar.
Palembang, IDN Times - Senyum semringah Suyanti nampak jelas, kala menyapa reporter IDN Times saat berkunjung ke kediamannya di Jalan MP. Mangkunegara RT 001 RW 01, Depan Kantor Telkom Palembang.
"Beginilah tempatnya, apa adanya," ucap Suyanti pelan.
Dari balik rumah sederhana, Suyanti berhasil menciptakan manfaat bagi lingkungan. Di halaman rindang di bawah pohon bambu tepat di belakang rumahnya, Suyanti menghasilkan eco enzyme.
"Mungkin sebagian orang masih awam soal eco enzyme. Tapi ini memiliki manfaat. Eco enzyme mampu menghasilkan ion negatif secara alami," kata dia.
Dari hasil beberapa penelitian, eco enzyme menghasilkan dan memancarkan ion negatif alami selama proses fermentasi berlangsung maupun setelah dipanen. Mirip cara kerja pohon hidup. Beberapa manfaat yang dihasilkan eco enzyme bisa membantu memperbaiki lingkungan, menetralisir bau, hingga membuat kualitas udara lebih segar dan bersih bagi pernapasan.
1. Pembuatan eco enzyme butuh fermentasi hingga 3 bulan

Ketua komunitas REBN Suyanti (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Menurut Ketua Komunitas Rumah Enzim Bakti Nusantara (REBN) ini, bahan alami hasil fermentasi eco enzyme tidak memiliki waktu atau batas kedaluwarsa dalam pemanfaatannya. Meski mempunyai beragam manfaat, eco enzyme tidak dapat dikonsumsi. Salah satu manfaat eco enzyme adalah menjaga kualitas udara untuk efektivitas pada skala ruangan atau indoor.
"Bahan mentah (pembuatan eco enzyme) dari kulit buah, batang sayur. Tapi tidak dengan kulit buah alpukat dan kelapa, karena mengandung minyak," kata Suyanti.
Sambil menunjukkan proses pembuatan di halaman belakang rumahnya yang dipenuhi baskom, ember plastik serta beberapa gentong berwarna biru, Suyanti memasukkan semua bahan mentah ke dalam wadah, kemudian ia mencampurkannya dengan air dan molase.
Molase merupakan gula alami dari limbah ampas tahu. Aromanya mirip kecap dan teksturnya pun kental berwarna hitam kecokelatan. Suyanti menunjukkan cara membuat cairan eco enzyme untuk 15 kilogram bahan mentah dengan perbandingan 1:3:10. Apabila tidak memiliki molase, bahan tersebut bisa diganti dengan gula aren atau gula merah.
"Bahan organik dari satu baskom untuk 15 kilogram. Perbandingannya 1:3:10. Jadi, satu botol minum mineral ukuran 1,5 liter gula atau molase atau juga bisa dengan gula merah atau gula aren (yang sudah dicairkan) dengan 3 kilogram bahan organik dan 10-nya itu air 10 mililiter," jelas dia.
Proses pembuatannya, butuh waktu lama. Minimal 3 bulan atau semakin lama dilakukan fermentasi menghasilkan eco enzyme terbaik.
"Semakin banyak bahan, semakin bagus. Eco enzyme tidak kedaluwarsa, makin lama disimpan (difermentasi), makin bagus hasilnya. Jadi, bahan yang telah dibuat dimasukkan ke dalam wadah tertutup dan harus rapat kedap udara hingga siap panen," kata Suyanti.
Ketika proses fermentasi, akan ada perkembangan jamur pitera-lapisan atau cairan fermentasi berupa jamur putih kecokelatan yang muncul secara alami dari proses fermentasi air (atau sisa bahan organik seperti kulit buah dalam pembuatan eco-enzyme).
2. Eco enzyme diharapkan berdampak bagi lingkungan sekitar

Cairan eco enzyme (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Dirinya, sembari menyemprotkan cairan eco enzyme, menjelaskan lebih rinci proses awal dirinya fokus mengenalkan eco enzyme di lingkungan sekitar. Semula ia mengetahui tentang eco enzyme pada tahun 2019 dan konsisten belajar membuatnya pada tahun 2023 ketika merasa polutan udara masuk ke dalam ruangan.
"Saya belajar dari Dr. Joean (peneliti)," kata dia.
Dr. Joean Oon (sering ditulis Dr. Joen Oon atau Joean Oon) adalah peneliti naturopati asal Penang, Malaysia, dan berperan dalam mempopulerkan dan menyebarluaskan eco enzyme ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Suyanti berharap langkah kecil yang ia lakukan di rumah dapat membantu lingkungan sekitar. Dirinya mengaku, selama membuat eco enzyme sejak 2023, tidak ada bantuan dana dari pemerintah. Semua proses dari biaya mandiri maupun hasil donasi ke REBN.
"Niat awalnya untuk berbagi kebaikan. Kita baik dan membagikan kebaikan bisa jadi berkah," katanya.
Bagi yang ingin memperbaiki lingkungan, memanfaatkan limbah kulit buah serta menyumbang bahan organik lainnya untuk pembuatan eco enzyme, bisa menghubungi Suyanti di WhatsApp 0895323332333, Instagram @rebn_official1, dan bisa berdonasi ke REBN melalui rekening BCA (1510391265).
3. Eco enzyme efektif bila digunakan di dalam ruangan

Pembuatan eco enzyme (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Sementara itu, dari hasil riset dan penelitian, eco enzyme memiliki berbagai enzim aktif seperti amilase, protease, dan lipase. Melalui proses fermentasi, kandungan eco enzyme menghasilkan asam organik seperti asam asetat, alkohol, serta unsur hara mikro dan makro seperti nitrogen, kalium, dan kalsium.
Dalam proses organik, asam dari kandungan eco enzyme menghasilkan asam asetat (CH₃COOH) yang memberikan sifat asam dengan pH rendah (sekitar 3–4) serta berfungsi menekan pertumbuhan bakteri jahat.
Menurut akademisi sekaligus ahli kebun riset Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Ir. Ulil Amri, eco enzyme terbukti cairan serbaguna untuk tanaman maupun manusia.
"Dalam pertanian, penelitiannya sudah ada. Beberapa dosen kita juga fokus pada pengembangan. Salah satunya, bisa menyuburkan tanah. Secara lingkungan, mampu mengatasi perubahan lingkungan dan berdampak baik untuk kesehatan," jelasnya.
Lebih lanjut, Ulil menyampaikan bahwa secara ilmiah, penelitian eco enzyme masih dalam proses pengembangan dan, khusus di Universitas Sriwijaya, riset eco enzyme menjadi fokus di beberapa fakultas, termasuk pertanian.
"Karena ini dari lingkungan untuk lingkungan," kata dia.
Hasil penelitian perbaikan lingkungan lanjutnya, sudah ada pada zaman COVID-19. Namun, Ulil menegaskan, penggunaan eco enzyme efektif di dalam ruangan dan dampaknya besar.
"Saya pribadi pada 2021 sudah menggunakan eco enzyme dan membuatnya sendiri," jelas dia.
4. Uji coba eco enzyme saat ini dilakukan di sungai

Pembuatan eco enzyme (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Berdasarkan efektivitas manfaat, eco enzyme yang terbuat dari bahan limbah kulit buah dan sayur sebaiknya dibuat dari minimal 5 jenis kulit buah ataupun sayur.
"Bagusnya lagi, lebih dari lima. Karena kandungan eco enzyme lebih banyak, lebih baik," lanjut Ulil.
Penelitian terkini, kata dia, eco enzyme sedang diuji coba dalam perbaikan lingkungan di sungai dan hingga sekarang masih dan telah mulai penelitian dan riset.
"Ini di Sumsel masih awam. Kalau di Bali ini, perbaikan udara sudah lama dilakukan. Termasuk memperbaiki lingkungan dan tanah dan udara," katanya.
Tetapi catatan penting: uji coba di luar ruangan memerlukan eco enzyme yang banyak. Saat ini, hambatan penelitian adalah jumlah skala eco enzyme tidak terlalu besar, sehingga riset perbaikan udara memerlukan bahan organik dengan konsentrasi tinggi.
"Kebanyakan di kita awam, karena justru masyarakatnya tidak tertarik memperbaiki lingkungan dan sosialisasi yang minim. Kemudian ditambah, mayoritas yang justru aktif adalah mereka dari keturunan Chinese," jelasnya.










![[BREAKING] Mahasiswa Segel Kantor Gubernur Sumsel Buntut Kabut Asap Tak Kunjung Usai](https://image.idntimes.com/post/20261021/img_6787_54aa73ee-53d6-427d-bbfe-d470991d2ceb_watermarked_idntimes-1.jpeg)








