Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

600 Ribu Warga Sumbar Mengidap ISPA, Karena Kabut Asap?

Kota Padang
3 min read
600 Ribu Warga Sumbar Mengidap ISPA, Karena Kabut Asap?
Ilustrasi ISPA. IDN Times/ istimewa
  • Dinkes Sumbar mencatat 601.396 kasus ISPA sepanjang Januari hingga 20 Oktober 2026, di tengah kualitas udara yang memburuk akibat kabut asap di sejumlah wilayah.

  • Kasus ISPA berfluktuasi bulanan, dari 69.503 kasus pada Januari hingga 68.349 pada Agustus; paparan asap karhutla diduga memperburuk gangguan pernapasan.

  • Kelompok dewasa mendominasi penderita dengan 216.065 kasus, sementara Padang tertinggi; Dinkes mengimbau masker, pengurangan aktivitas luar, dan pemeriksaan bila bergejala serius.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Padang, IDN Times - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatera Barat mencatat sebanyak 601.396 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang Januari hingga 20 Oktober 2026. Tingginya jumlah kasus tersebut menjadi perhatian di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatra Barat.

  1. 1. Peningkatan sejak awal tahun

    Ilustrasi ISPA. IDN Times/ istimewa
    Ilustrasi ISPA. IDN Times/ istimewa

    Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumbar, Riena Sovianty, mengatakan kasus ISPA mengalami fluktuasi sejak awal tahun. Meski pemantauan telah dilakukan sejak Januari, paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diduga turut memperburuk kondisi kesehatan masyarakat.

    “Kita tidak hanya memantau ISPA saat kabut asap, tetapi sejak awal tahun. Ada naik turun angka ISPA dan hingga Oktober ini kita mencatat setidaknya 601.396 kasus di Sumbar,” katanya, Kamis (22/10/2026).

  2. 2. Peningkatan kasus ISPA Sumbar

    Ilustrasi ISPA. IDN Times/ istimewa
    Ilustrasi ISPA. IDN Times/ istimewa

    Berdasarkan data Dinkes Sumbar, kasus ISPA pada Januari tercatat sebanyak 69.503 kasus, Februari 61.559 kasus, Maret 53.790 kasus, April 65.976 kasus, dan Mei 52.750 kasus. Selanjutnya, pada Juni tercatat 59.470 kasus, Juli 60.164 kasus, Agustus 68.349 kasus, September 66.284 kasus, serta 43.551 kasus selama periode 1–20 Oktober 2026.

    Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah kasus ISPA mengalami perubahan dari bulan ke bulan. Pada Januari, jumlah kasus tercatat 69.503, kemudian menurun hingga mencapai 52.750 kasus pada Mei. Angka tersebut kembali meningkat pada bulan-bulan berikutnya, dengan jumlah kasus mencapai 68.349 pada Agustus sebelum tercatat 66.284 kasus pada September.

  3. 3. Kelompok dewasa tertinggi

    Ilustrasi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebagai gambaran gangguan kesehatan pada sistem pernapasan manusia.
    Ilustrasi ISPA. IDN Times/ istimewa

    Menurutnya, kebanyakan masyarakat yang terkena ISPA tersebut adalah para orang dewasa yang lebih dominan.

    "Berdasarkan data Januari hingga September 2026, kelompok dewasa mendominasi penderita ISPA dengan 216.065 kasus atau 39,64 persen," katanya.

    Berikutnya, kelompok lanjut usia (lansia) tercatat sebanyak 101.920 kasus atau 18,65 persen, balita 94.516 kasus atau 17,30 persen, anak-anak 67.223 kasus atau 12,21 persen, serta remaja sebanyak 66.709 kasus atau 12,30 persen.

    Riena menyebut Kota Padang sebagai wilayah dengan jumlah penderita ISPA terbanyak di Sumatera Barat. Sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap, Dinkes Sumbar telah menerbitkan surat edaran yang berisi upaya mitigasi dan pencegahan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan masyarakat.

  4. 4. Penyebab ISPA di Sumbar

    Ilustrasi perempuan sakit batuk dan sesak napas sambil memegang dada, menggambarkan gejala infeksi saluran pernapasan.
    Ilustrasi ISPA. IDN Times/ istimewa

    Ia menjelaskan, ISPA dapat disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri. Namun, paparan kabut asap akibat karhutla dapat memperburuk gangguan pernapasan dan meningkatkan risiko terjadinya kondisi yang lebih serius, termasuk pneumonia.

    Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam lebih dari tiga hari, sesak napas, atau napas cepat. Sementara itu, pada anak-anak, gejala yang perlu diwaspadai meliputi rewel, kesulitan makan atau minum, serta batuk berkepanjangan.

    “Penggunaan masker tetap dianjurkan selama kualitas udara masih terdampak kabut asap. Masyarakat juga diharapkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memantau informasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU),” tutupnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More