Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kisah Dwi Dahlia, Mantan Perawat yang Kini Padamkan Karhutla di Sumsel

Kota Palembang
4 min read
Kisah Dwi Dahlia, Mantan Perawat yang Kini Padamkan Karhutla di Sumsel
Potret Dahlia, petugas pemadam kebakaran perempuan di Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan (Dok.APP)
  • Dwi Dahlia, mantan perawat, sejak 2022 menjadi petugas Forest Protection di Distrik Lebong Hitam dan satu-satunya perempuan di lingkungan kerja mayoritas laki-laki.

  • Saat memadamkan karhutla, Dahlia menghadapi medan sulit, panas, asap, angin, pohon tumbang, serta risiko tanah gambut berbara, sambil membawa perlengkapan bersama tim.

  • Orang tua Dahlia bangga namun cemas selama penugasan; setelah tugas, Dahlia merindukan pulang, menikmati masakan ibu, dan berkumpul dengan keluarga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times – Kerinduan terhadap keluarga selalu menyertai Dwi Dahlia setiap kali berangkat menjalankan tugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Setelah berhari-hari berjibaku dengan panas dan asap di lapangan, ia hanya ingin kembali ke rumah, menikmati masakan ibu, dan berkumpul bersama keluarga.

Dahlia menjadi satu-satunya perempuan di antara mayoritas petugas pemadam laki-laki di lingkungan kerjanya. Pekerjaan ini menuntut ketahanan fisik, kesiapan mental, dan kemampuan menghadapi berbagai risiko di kawasan kebakaran. Sejak 2022, Dahlia bekerja sebagai petugas Forest Protection di Distrik Lebong Hitam PT SBA, Ogan Komering Ilir. Sebelumnya, ia pernah berprofesi sebagai perawat.

Salah satu tantangan yang harus dihadapinya adalah menerobos hutan bersama tim sambil membawa perlengkapan pemadaman. Selang dan peralatan lainnya harus diangkut melewati medan yang sulit, sementara suhu tinggi, angin kencang, dan asap tebal menambah berat pekerjaan. Di tengah situasi tersebut, Dahlia harus menjaga kondisi tubuh sekaligus mengikuti pergerakan tim. Kelelahan menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika api belum berhasil dikendalikan.

"Perasaan takut tidak bisa pulang dan ketemu keluarga lagi itu wajar dirasakan petugas pemadam. Apalagi, saya satu-satunya perempuan di antara mayoritas petugas laki-laki," ungkap Dahlia.

Risiko yang dihadapi juga tidak terbatas pada kobaran api. Petugas harus mewaspadai paparan asap, pohon tumbang, hingga kemungkinan terperosok ke dalam tanah gambut yang masih menyimpan bara di bawah permukaannya.

  1. 1. Beralih dari merawat pasien menjadi melindungi hutan

    Petugas Manggala Agni memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Pangkalan Lampam, Ogan Komering Ilir.
    Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan tengah melakukan pemadaman karhutla di Pangkalan Lampam, Ogan Komering Ilir, Rabu (19/8/2026). (Dok.Manggala Agni)

    Perjalanan Dahlia dari dunia keperawatan menuju perlindungan hutan memberinya pengalaman berbeda. Meski lingkungan dan tuntutan kerja tidak sama, kedua profesi tersebut memiliki satu kesamaan, yakni menjaga keselamatan.

    Kebanggaan muncul ketika Dahlia bersama tim berhasil mengendalikan kebakaran yang mengancam kawasan hutan, lahan, hingga permukiman masyarakat. Perasaan itu mengingatkannya pada masa ketika masih bekerja sebagai perawat dan bisa membantu pasien.

    "Rasa bangga dan haru saat berhasil menyelamatkan hutan dari kebakaran sama halnya dengan menyelamatkan nyawa orang saat saya menjadi perawat dulu," tuturnya.

    Dahlia merasakan arti kebersamaan ketika para petugas saling berbagi air minum di tengah cuaca terik. Selain kemampuan teknis, pekerjaan pemadaman juga membutuhkan kekompakan tim.

    Momen lain yang membekas baginya adalah ketika seluruh anggota tim berhasil kembali dengan selamat setelah menyelesaikan pemadaman. Rasa lega dan haru muncul ketika mereka saling merangkul setelah melewati situasi penuh risiko. Meski bangga dengan pekerjaannya, Dahlia tidak menampik kerinduan untuk segera pulang. Penugasan yang berlangsung lama membuatnya harus menahan keinginan untuk bertemu keluarga.

    "Rindu pulang pasti ada. Tapi karena sudah mengambil tanggung jawab besar menjadi Forest Protection, ada rasa bangga dan dedikasi yang kuat," katanya.

  2. 2. Di balik pengabdian, ada orang tua yang selalu khawatir

    Petugas Manggala Agni memadamkan api kebakaran hutan dan lahan di Desa Sungai Rambutan, Ogan Ilir.
    Manggala Agni tengah memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Sungai Rambutan, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sabtu (15/8/2026). (Dok.Manggala Agni)

    Di rumah, Ali Usman dan Sumarni menyadari bahwa pekerjaan putri mereka memiliki risiko besar. Mereka bangga karena Dahlia memilih pekerjaan yang berkontribusi terhadap perlindungan lingkungan dan keselamatan masyarakat. Namun, kebanggaan itu berjalan beriringan dengan kecemasan setiap kali putri mereka berangkat bertugas. Mereka memahami bahwa petugas pemadam harus menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kelelahan dan dehidrasi hingga paparan asap serta kemungkinan terjebak dalam situasi berbahaya.

    "Sebagai orang tua, tentu ada rasa khawatir dan berat melepas anak bertugas selama berminggu-minggu, apalagi di lokasi kebakaran yang penuh risiko. Namun, di sisi lain, kami juga bangga karena anak kami menjalankan tugas untuk melindungi masyarakat dan menjaga lingkungan," ungkap orang tua Dahlia.

    Kekhawatiran tersebut semakin terasa ketika Dahlia mendapat penugasan ke lokasi kebakaran. Ali Usman dan Sumarni selalu mengingatkannya agar berhati-hati dan tidak memaksakan diri saat menjalankan pekerjaan. Keduanya juga pernah kesulitan menghubungi Dahlia selama bertugas. Mereka memahami bahwa jaringan telekomunikasi tidak selalu tersedia di lokasi pemadaman. Meski begitu, ketiadaan kabar tetap membuat mereka cemas.

    Bagi Ali Usman dan Sumarni, pesan singkat yang memastikan Dahlia dalam keadaan sehat sudah cukup untuk menenangkan hati. Mereka memahami bahwa putrinya tidak selalu bisa berkomunikasi ketika berada di lapangan.

    Setiap kali Dahlia kembali dari penugasan, hal pertama yang ingin diketahui orang tuanya adalah kondisi kesehatannya. Mereka bangga melihat putrinya menjalankan tanggung jawab, tetapi turut merasakan kesedihan ketika melihat Dahlia pulang dalam keadaan kelelahan.

  3. 3. Ingin pulang, berkumpul, dan menikmati masakan ibu

    Petugas Manggala Agni memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Pangkalan Lampam, Ogan Komering Ilir, Rabu.
    Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan tengah melakukan pemadaman karhutla di Pangkalan Lampam, Ogan Komering Ilir, Rabu (19/8/2026). (Dok.Manggala Agni)

    Bagi Dahlia, kesempatan pulang menjadi momen yang selalu dinantikan. Ia ingin menghubungi saudara-saudaranya agar bisa berkumpul di rumah orang tua. Jika ada kesempatan, ia juga berharap dapat menghabiskan waktu berlibur bersama keluarga. Keinginan sederhana itu menjadi pengingat bahwa di balik tanggung jawab besar sebagai petugas perlindungan hutan, Dahlia tetap seorang anak yang merindukan rumah.

    Ali Usman dan Sumarni berharap putri mereka terus menjalankan pekerjaannya dengan baik tanpa mengabaikan kesehatan dan keselamatan. Mereka juga ingin pengabdian Dahlia menginspirasi lebih banyak orang untuk ikut menjaga kelestarian hutan.

    "Harapan terbesar kami bukan hanya agar kamu berhasil memadamkan api, tetapi agar kamu selalu diberikan perlindungan dan dapat merangkul banyak orang untuk menjaga hutan agar tetap lestari," pesan mereka.

    Di tengah risiko pekerjaan dan tanggung jawab melindungi hutan, Dahlia tetap menyimpan harapan yang sederhana setiap kali penugasan berakhir: kembali ke rumah orang tuanya, menikmati masakan ibu, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More