Penderita ISPA Akibat Asap Karhutla di Palembang Didominasi Warga Usia Produktif

Warga usia produktif 15–24 tahun di Palembang dinilai rentan terkena ISPA saat asap karhutla, terutama karena banyak bekerja di luar ruangan.
Dinas Kesehatan Palembang mencatat sekitar 8.000 kasus ISPA sepanjang Oktober 2026; Puskesmas Sabokingking menangani lebih dari 200 pasien hingga 21 Oktober.
Keluhan pasien meliputi batuk, sesak napas, tenggorokan kering atau sakit, mata perih, dan pusing; masyarakat diminta memakai masker rapat serta mengurangi aktivitas luar ruangan.
Palembang, IDN Times - Masyarakat Kota Palembang dengan usia produktif mulai dari sekitar 15-24 tahun berpotensi sangat besar terdampak infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) saat wilayah dikepung asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Kalau untuk kategori dominan terdampak ISPA di Puskesmas Sabokingking justru bukan usia anak-anak. Melainkan warga usia produktif. Kenapa usia produktif? Mungkin karena mereka kerja ya, di luar ruangan. Mereka (pasien) di sini kebanyakan begitu (usia produktif)," ujar Kepala Puskesmas Sabokingking Palembang Dokter Gigi Kiki Ayu, Kamis (22/10/2026).
1. Kasus ISPA capai 15-17 orang per hari

Puskesmas Sabokingking Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Sementara berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Palembang, kasus ISPA sepanjang Oktober 2026 telah menyentuh 8 ribu orang. Namun, dari laporan, penderita rata-rata terjadi pada anak usia di bawah dua tahun hingga usia sekolah dan sebagian lainnya terdampak pada warga lanjut usia. Menurut Kiki, khusus di Puskesmas Sabokingking per 21 Oktober 2026, penderita ISPA sudah mencapai lebih dari 200 pasien.
"Kalau memang kita hitung lagi rata-rata, pasien ISPA ini per harinya bisa sampai 15-17 orang. Pasien dengan keluhan sesak napas, tenggorokan kering dan sakit, mata perih dan kepala pusing," kata dia.
2. Gejala ISPA dimulai dari batuk

Pasien Puskesmas Sabokingking mencoba oksigen di Ruang Aman Asap Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Kiki mengaku jumlah pasien ISPA di Puskesmas Sabokingking pada Oktober 2026 menjadi jumlah tertinggi sepanjang tahun. Jumlah itu, bila diakumulasikan dari bulan sebelumnya, pasien gangguan pernapasan sudah hampir menembus 500 orang.
"Mereka kebanyakan gejalanya itu batuk. Kita juga harus membedakan antara batuk biasa dan batuk kering. Gejala gangguan pernapasan merujuk ke ISPA," jelasnya.
3. Minta warga jaga kesehatan saat asap karhutla

Pasien Puskesmas Sabokingking saat konsultasi dengan dokter di Ruang Aman Asap Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Lebih lanjut, Kiki menyampaikan, tak hanya batuk dan sesak napas, keluhan kebanyakan pasien yang datang juga karena mereka merasakan tidak nyaman saat menelan. Kondisi ini biasanya, karena radang tenggorokan.
"Harapan kami juga, masyarakat tetap menjaga kesehatan, tetap memakai masker, mengurangi aktivitas bagi yang memang tidak ada pekerjaan di luar ataupun terpaksa harus bekerja di luar, tetap menggunakan masker yang cukup aman, ketat. Jangan masker yang ke bawah hidungnya terbuka," jelas dia.



















![[BREAKING] Mahasiswa Segel Kantor Gubernur Sumsel Buntut Kabut Asap Tak Kunjung Usai](https://image.idntimes.com/post/20261021/img_6787_54aa73ee-53d6-427d-bbfe-d470991d2ceb_watermarked_idntimes-1.jpeg)
