Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kualitas Udara 4 Wilayah di Sumsel Kembali Berbahaya Sore Ini

Kota Palembang
3 min read
Kualitas Udara 4 Wilayah di Sumsel Kembali Berbahaya Sore Ini
Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • DLHP Sumsel mencatat Palembang, Prabumulih, PALI, dan Ogan Ilir berada pada kategori kualitas udara berbahaya, dengan PM2.5 tertinggi di Palembang mencapai 656 µg/m³.

  • Musi Rawas berstatus sangat tidak sehat, sementara Muba dan Lahat tidak sehat; paparan PM2.5 berisiko mengganggu pernapasan serta kardiovaskular, terutama bagi kelompok rentan.

  • Di tengah karhutla, BPBD Sumsel melaporkan 1.832 hotspot dan 64 kejadian kebakaran pada 21 Oktober; OKI mencatat kasus terbanyak, disusul Muba dan Banyuasin.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Kualitas udara di Sumatra Selatan (Sumsel) kembali mengkhawatirkan. Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel melaporkan pembaruan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Ada empat wilayah yang berada di zona hitam atau level berbahaya, Kamis (22/16/2026) pukul 15.00 WIB.

Keempat wilayah tersebut, yakni Kota Palembang, mencatat konsentrasi polutan PM2.5 mencapai 656 µg/m³. Angka tersebut menempatkan Palembang dalam kategori kualitas udara berbahaya nomor 1 saat ini di Sumsel.

Kondisi serupa terjadi di Kota Prabumulih, dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 520 µg/m³. Lalu, posisi ketiga ditempati Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 417 µg/m³, dan terakhir Ogan Ilir dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 378 µg/m³.

  1. 1. Kualitas udara tiga wilayah berada di zona merah dan kuning

    Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan
    Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Sementara satu wilayah lainnya berada di zona merah atau kategori sangat tidak sehat, yakni Kabupaten Musi Rawas dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 237. Selanjutnya, dua kabupaten lain berada di zona kuning atau kategori tidak sehat, seperti Musi Banyuasin (Muba) dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 150 µg/m³ dan Lahat dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 120 µg/m³.

    PM2,5 merupakan partikel udara berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya sangat halus, partikel ini dapat menembus bagian dalam sistem pernapasan dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

    Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, baku mutu udara ambien untuk PM2,5 ditetapkan sebesar 55 mikrogram per meter kubik untuk periode pengukuran 24 jam.

  2. 2. Tingginya paparan PM2,5 meningkatkan risiko paparan partikulat bagi masyarakat

    Salah satu pasien di RSUD Sekayu saat menjalani perawatan.
    Salah satu pasien di RSUD Sekayu saat menjalani perawatan. (Fajeri for IDN Times)

    Memburuknya kualitas udara tersebut terjadi di tengah masih berlangsungnya karhutla di sejumlah wilayah Sumsel. Peningkatan pencemaran udara ini menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat di tengah kabut asap akibat karhutla.

    Tingginya paparan PM2,5 dapat meningkatkan risiko paparan partikulat bagi masyarakat, seperti gangguan pernapasan dan kardiovaskular. Dampaknya perlu menjadi perhatian khusus bagi bayi, anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit jantung atau paru-paru.

  3. 3. Hotspot Sumsel berada di angka 1.832 titik, Kabupaten OKI paling banyak karhutla

    Dokumentasi BPBD Sumsel terkait situasi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan pada 22 Oktober 2026.
    Situasi karhutla Sumsel pada Kamis (22/10/2026). (Dok. BPBD Sumsel)

    Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumsel melaporkan jumlah hotspot atau titik panas di angka 1.832 titik berdasarkan data SiPongi, Kamis (22/10/2026) pukul 05.00 WIB. Secara kumulatif, jumlah hotspot Sumsel sejak 1 Januari hingga 21 Oktober berada di angka 113.975 titik.

    Jumlah tersebut melampaui catatan tertinggi sepanjang 2026, bahkan sejak tahun 2015. Tingginya angka hotspot ini bersama dengan banyaknya kasus karhutla yang mencapai 64 kejadian hasil patroli 21 Oktober. Kabupaten OKI masih berada di atas klasemen kejadian Karhutla terbanyak, yakni 32 titik, disusul Muba dan Banyuasin masing-masing 12 titik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More