Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Karhutla Sumsel Melonjak Tajam pada Agustus, Sudah 813 Kejadian

Kota Palembang
Karhutla Sumsel Melonjak Tajam pada Agustus, Sudah 813 Kejadian
Tren Kejadian Karhutla Sumsel 2026. (IDN Times/Hafidz Trijatnika)
  • BPBD Sumsel mencatat 813 kejadian karhutla hingga 19 Agustus 2026, naik dari 456 kasus pada Juli; total tahunan mencapai 1.520 kejadian dengan indikasi 1.926,2 hektare terbakar.

  • Cuaca kering memicu peningkatan kebakaran, dengan fokus penanganan di OKI, Muara Enim, dan Musi Banyuasin. Patroli pada 19 Agustus menemukan 57 kejadian, sementara 53 hotspot terdeteksi sehari berikutnya.

  • Dampak asap membuat kualitas udara Palembang dan PALI tidak sehat, masing-masing dengan indeks PM2,5 116 dan 107. BPBD mengimbau pengurangan aktivitas luar ruang, terutama bagi kelompok rentan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN TimesKebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan melonjak drastis sepanjang Agustus 2026. Hingga Kamis, 19 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat 813 kejadian, tertinggi dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan peningkatan ini dipicu cuaca kering yang membuat lahan gambut dan semak belukar lebih mudah terbakar. Saat ini, fokus penanganan berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Muara Enim, dan Musi Banyuasin.

  1. 1. Agustus jadi bulan dengan lonjakan paling tajam

    Data Pusdalops BPBD Sumsel menunjukkan tren karhutla meningkat sejak Mei, namun kenaikan paling signifikan terjadi pada Agustus. Jumlah kejadian tercatat naik dari 456 kasus pada Juli menjadi 813 kasus hingga pertengahan Agustus.

    Secara kumulatif, BPBD mencatat 1.520 kejadian karhutla sejak 1 Januari hingga 19 Agustus 2026. Sementara indikasi luas lahan terbakar mencapai 1.926,2 hektare. Sudirman mengatakan petugas terus melakukan pemantauan melalui patroli udara dan darat untuk menekan pertambahan titik api.

    “Fokus penanganan saat ini berada di wilayah OKI, Muara Enim, dan Musi Banyuasin karena menjadi daerah dengan aktivitas karhutla paling tinggi,” ujarnya.

  2. 2. OKI jadi wilayah dengan penanganan terbanyak

    Petugas Manggala Agni memadamkan api kebakaran hutan dan lahan di Desa Sungai Rambutan, Ogan Ilir.
    Manggala Agni tengah memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Sungai Rambutan, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sabtu (15/8/2026). (Dok.Manggala Agni)

    Hasil patroli gabungan pada 19 Agustus menemukan 57 kejadian karhutla di berbagai wilayah Sumsel. Dari jumlah tersebut, OKI menjadi daerah dengan penanganan terbanyak, yakni 10 kejadian, disusul Muara Enim sebanyak 8 kejadian dan Musi Banyuasin 7 kejadian.

    Selain patroli, BPBD bersama Manggala Agni, TNI, Polri, dan masyarakat peduli api juga melakukan pemadaman darat serta operasi water bombing menggunakan helikopter.

    BPBD turut mencatat sedikitnya 53 hotspot terdeteksi di Sumsel pada 20 Agustus pukul 05.00 WIB. Sebaran terbanyak berada di Banyuasin (21 titik), Ogan Komering Ilir (8 titik), Ogan Ilir (9 titik), dan Musi Rawas Utara (7 titik).

  3. 3. Kualitas udara Palembang masuk kategori tidak sehat

    Asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan menyelimuti kawasan Kertapati, Palembang, akibat karhutla.
    Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)

    Dampak karhutla mulai terasa pada kualitas udara di sejumlah daerah. Berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) pukul 06.00 WIB, Palembang mencatat nilai PM2,5 sebesar 116 dan masuk kategori tidak sehat.

    Selain Palembang, PALI juga berada pada kategori tidak sehat dengan indeks PM2,5 mencapai 107. Sementara Ogan Ilir, Prabumulih, Musi Banyuasin, Muara Enim, Musi Rawas, dan Lahat masih berada pada kategori sedang, sedangkan OKU Selatan menjadi satu-satunya daerah dengan kualitas udara baik.

    Sudirman mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas luar ruang apabila tidak mendesak, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.

    “Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi karhutla dan bersama-sama mencegah kebakaran agar tidak semakin meluas,” katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More