Palembang, IDN Times - Mata Siti Nurul terpana, melihat sederet produk di Workshop Ankubas Pengolahan Eceng Gondok Kelurahan Talang Putri, Kecamatan Plaju, Palembang pada awal September 2026 lalu. Tangan kanannya sibuk memegang sambil memutarbalikkan kemasan kotak yang dikemas cantik. Produk tersebut adalah pengharum ruangan yang diolah dari eceng gondok. Bukan parfum impor, produk itu adalah hasil karya masyarakat sekitar.
Nurul, sapaan akrabnya, lalu mencoba mencium aroma dari luar kemasan. Kata dia, aroma kopinya khas sekali. Tak hanya kopi, beberapa aroma lain pun ia cium, seperti stroberi dan berbagai aroma buah-buahan.
"Ini (pengharum eceng gondok) adalah kebaruan inovasi di Indonesia, khususnya di Sumsel. Kita mengapresiasi Pertamina yang menjadi bagian dari TJSL dan membantu (CSR) dalam inovasi pemanfaatan eceng gondok. Energi seperti ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat," kata Nurul, perwakilan Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Dari sisi penelitian, jelasnya, BRIN mendukung pemberdayaan eceng gondok yang selama ini dikenal sebagai gulma atau tanaman pengganggu. Riset ini, kata dia, dilakukan untuk mendorong dan memaksimalkan eceng gondok menjadi produk bernilai guna.
"Eceng gondok masih tergolong baru dan menjadi tantangan tersendiri. Selama ini, pola pandang terhadap eceng gondok adalah sebagai biomassa yang harus dibersihkan karena mengganggu ekosistem perairan. Melalui riset ini, paradigma tersebut diubah dari objek yang harus dibersihkan, menjadi subjek bernilai guna," kata dia.
Nurul menyampaikan, hingga saat ini BRIN masih terus melakukan pemeriksaan laboratorium untuk proses sertifikasi dan pengajuan ekolabel yang sedang berjalan. Sehingga, produk yang dihasilkan layak, ramah lingkungan, sehat, dan siap diproduksi secara massal agar bisa menjamin keberlanjutan ekonomi masyarakat sekitar.
