Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hotspot Sumsel Kini 73 Titik, Kualitas Udara 2 Wilayah Masih Berbahaya

Kota Palembang
2 min read
Hotspot Sumsel Kini 73 Titik, Kualitas Udara 2 Wilayah Masih Berbahaya
Peta sebaran hotspot di Sumsel pada Senin (26/10/2026). (Dok. Dinas Kehutanan Sumsel)
  • BPBD Sumsel mencatat 73 hotspot hingga 26 Oktober 2026 pukul 05.00 WIB, turun tajam dari 823 titik sehari sebelumnya setelah perubahan kondisi cuaca.
  • Kualitas udara PALI dan Musi Rawas masih berbahaya dengan ISPU PM2,5 masing-masing 436 dan 353; Prabumulih sangat tidak sehat, sementara Palembang tidak sehat.
  • OKI mencatat hotspot terbanyak, 62 titik, dan 37 dari 67 kejadian karhutla. Asap sudah tak terdeteksi di beberapa wilayah, termasuk Palembang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel melaporkan jumlah hotspot atau titik panas dalam 24 jam terakhir hingga Senin (26/10/2026) pukul 05.00 WIB tercatat sebanyak 73 titik. Angka tersebut turun dari sehari sebelumnya, Minggu (25/10/2026), yang masih mencatat angka 823 titik.

Kendati demikian, kualitas udara di dua wilayah masih masuk kategori berbahaya. Kabupaten Penukal Abab dan Lematang Ilir (PALI) serta Musi Rawas masih mencatatkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) PM2,5 masing-masing 436 dan 353. Sementara Prabumulih berada di kategori sangat tidak sehat dengan angka 207.

Perubahan signifikan terjadi di Kota Palembang yang mencatat angka 177 atau masuk kategori tidak sehat. Sejumlah daerah lain juga mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat, yakni Ogan Ilir dengan angka 101, Musi Banyuasin 110, Muara Enim 122, dan Lahat 169.

Sebaran hotspot Sumsel pada Senin (26/10/2026).
Sebaran hotspot Sumsel pada Senin (26/10/2026). (Dok. BPBD Sumsel)

Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan penurunan titik panas tersebut terjadi di tengah perubahan kondisi cuaca setelah Sumsel mengalami musim kemarau panjang. Berdasarkan tren selama tujuh hari terakhir, jumlah hotspot di Sumsel menunjukkan penurunan.

Pada 21 Oktober tercatat 2.524 titik, kemudian turun menjadi 2.332 titik pada 22 Oktober dan 1.874 titik pada 23 Oktober. Jumlah tersebut kembali menurun menjadi 1.452 titik pada 24 Oktober, sebelum tercatat sebanyak 336 titik pada 25 Oktober.

"Penurunan tersebut terjadi di tengah kondisi cuaca yang mulai menunjukkan perubahan setelah Sumsel mengalami musim kemarau panjang," ujarnya.

  1. 2. Kabupaten OKI masih menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak

    Tim BPBD dan Manggala Agni saat melakukan pemadaman lahan yang terbakar.
    Tim BPBD dan Manggala Agni saat melakukan pemadaman lahan yang terbakar. (Dok. Manggala Agni)

    Sudirman menambahkan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) masih menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak dalam pembaruan data 24 jam terakhir, yakni 62 titik. Selanjutnya, Kabupaten Lahat mencatat delapan titik panas. Lalu Kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Banyuasin, dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan masing-masing mencatat satu titik.

    "BPBD Sumsel masih melakukan upaya penanganan karhutla karena sejumlah wilayah tetap berpotensi mengalami kebakaran, terutama kawasan dengan lahan gambut dan vegetasi kering," ungkapnya.

  2. 3. Asap sudah tidak terdeteksi di beberapa wilayah Sumsel

    Laporan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Sumatera Selatan pada Senin, 26 Oktober 2026, dari DLHP Sumsel.
    Laporan ISPU Sumsel pada Senin (26/10/2026). (Dok. DLHP Sumsel)

    Selanjutnya, hasil patroli dan pemadaman pada 25 Oktober 2026, total karhutla ada 67 kejadian, dengan Kabupaten OKI masih terbanyak, yakni 37 kejadian. Disusul Muba 10 kejadian, Ogan Ilir 8 kejadian, Muara Enim 4 kejadian, PALI dan Palembang 2 kejadian, serta Prabumulih, OKU Timur dan Banyuasin masing-masing 1 kejadian.

    "Asap sudah tidak terdeteksi di beberapa wilayah Sumsel, termasuk Palembang. Uji coba inovasi dry ice cukup efektif membantu meningkatkan jarak pandang dan perlu evaluasi serta analisis lebih lanjut," terang Sudirman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More