87 Hari Tak Hujan, BMKG Ingatkan Potensi Titik Panas di Sumsel Meningkat

Sejumlah wilayah Sumsel mengalami hari tanpa hujan hingga 87 hari, termasuk Babat Supat di Musi Banyuasin dan Tanjung Batu di Ogan Ilir, sehingga risiko titik panas meningkat.
Kekeringan ekstrem lebih dari 60 hari melanda sejumlah wilayah, sementara sebagian besar Sumsel berpeluang mengalami curah hujan rendah hingga akhir September akibat El Nino sangat kuat.
BMKG mengimbau warga, terutama di daerah rawan karhutla, memantau informasi cuaca dan iklim terkini serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi kering.
Palembang, IDN Times - Musim kering di Sumatra Selatan belum menunjukkan tanda berakhir. Sejumlah wilayah bahkan tercatat hingga puluhan hari tidak diguyur hujan, dengan periode terpanjang mencapai 87 hari.
Kondisi tersebut berdasarkan data Pos Hujan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin, dan Pos Hujan BPP Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir. Sementara itu, sejumlah daerah lain seperti Palembang, Prabumulih, OKI hingga Musi Banyuasin telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) 31–60 hari.
"Penurunan curah hujan yang terjadi di sebagian besar wilayah Sumsel berpotensi meningkatkan jumlah titik panas," ungkap Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, Selasa (22/9/2026).
1. Saat ini curah hujan berada di kategori rendah

lahan pertanian yang sedang mengalami kekeringan ekstrem (pexels.com/Jonathan) Wandayantolis menjelaskan, HTH kategori kekeringan ekstrem atau lebih dari 60 hari terpantau di sebagian besar OKU Timur, sebagian PALI, serta sebagian kecil Banyuasin, Muara Enim, Musi Banyuasin, Ogan Ilir dan OKI.
Kondisi kering tersebut diperkirakan masih berlanjut pada dasarian III September. Sebagian besar wilayah Sumsel, terutama bagian tengah hingga timur, memiliki peluang lebih dari 70 persen mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0–50 milimeter.
"Kondisi ini dipengaruhi El Nino yang berada pada intensitas sangat kuat," jelasnya.
2. Kekeringan dipengaruhi El Nino yang kian menguat

ilustrasi kekeringan (pexels.com/Dominika P) Kondisi kering di Sumsel terjadi saat El Nino masih berada pada kategori sangat kuat. Pergerakan angin dari timur juga mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, sementara pola udara yang dapat membantu pembentukan hujan atau MJO sedang tidak aktif. Kondisi tersebut membuat sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masih mengalami cuaca kering, termasuk Sumsel.
Minimnya hujan juga terlihat pada kondisi dasarian II September. Sebagian besar wilayah Sumsel hanya menerima curah hujan kategori rendah, 0–50 milimeter. Curah hujan tertinggi tercatat 80 milimeter di Pos Hujan Gumay Ulu, Kecamatan Gumay Ulu, Kabupaten Lahat.
Sementara itu, wilayah bagian barat dan selatan Sumsel masih memiliki peluang hujan lebih tinggi. Musi Rawas Utara, bagian barat Musi Rawas, selatan Lahat, Pagar Alam, selatan Muara Enim, bagian barat OKU dan bagian barat OKU Selatan memiliki peluang lebih dari 50 persen mengalami hujan kategori menengah.
3. Masyarakat daerah rawan diminta waspada

Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi Wandayantolis mengingatkan masyarakat untuk tetap memantau perkembangan cuaca dan iklim, terutama mereka yang berada di wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim terkini dari BMKG, serta meningkatkan kewaspadaan, khususnya di daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," ujarnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















