Hilirisasi Kelapa Potensi Perkuat Ekonomi, Tapi Harga Pasar Anjlok

TPID Sumsel mendorong hilirisasi kelapa untuk memperkuat ekonomi daerah, meski sektor pertanian dan pengembangan industri kelapa masih belum optimal.
Harga kelapa di tingkat petani Sumsel turun dari sekitar Rp4.000 menjadi Rp1.800 per butir pada Agustus 2026, dipicu pelemahan permintaan ekspor selama sekitar enam bulan.
Produk olahan kelapa Sumsel telah diekspor ke Prancis, China, dan Taiwan; pengiriman ke China mencakup 46 ton arang tempurung kelapa serta 25 ton keripik kelapa.
Palembang, IDN Times - Tim Pengendali Inflasi Daerah Sumatra Selatan (TPID Sumsel) terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan pasar. Salah satu komoditas unggul yang berpotensi memperkuat pertumbuhan ekonomi adalah kelapa. Namun, berdasarkan pergerakan perdagangan, harga jual kelapa Sumsel justru mengalami penurunan signifikan.
"Solusinya kita upayakan hilirisasinya kelapa," ujar Kepala Bank Indonesia Sumsel sekaligus bagian TPID Sumsel Bambang Pramono, Senin (21/9/2026).
1. Optimalisasi sektor pertanian disebut mampu dorong penguatan ekonomi

Ilustrasi aktivitas ekspor Sumsel (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Meski memiliki peluang menopang pertumbuhan ekonomi positif dari hilirisasi kelapa, neraca perdagangan nilai jual komoditas tersebut malah tertekan dan harganya anjlok. Apalagi, penjualan yang menurun secara signifikan sudah berlangsung cukup lama di tingkat petani.
Kondisi ini menjadi tantangan besar yang dihadapi sektor perkelapaan nasional di tengah potensi hilirisasi kelapa yang diyakini mampu mendorong ekonomi Sumsel dalam tren tanda panah ke atas.
"Optimalisasi sektor-sektor yang belum maksimal dapat mendorong penguatan ekonomi, dan memang sektor kayak pertanian memang belum optimal," kata Bambang.
Sementara berdasarkan data yang dilaporkan dalam Musyawarah Nasional (MUNAS) II Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (PERPEKINDO) pada 23-24 September 2026, hilirisasi kelapa di Sumsel mengalami hambatan.
Menurut Ketua Panitia MUNAS II PERPEKINDO, Muhammad Asri Lambo, persoalan harga, pengembangan industri, dan hilirisasi kelapa menghadapi persoalan dan membutuhkan kekuatan organisasi yang lebih solid agar kepentingan petani dapat diperjuangkan.
"Persoalan harga kelapa saat ini dirasakan langsung di sejumlah daerah sentra produksi, termasuk Banyuasin," kata dia.
2. Harga kelapa Sumsel turun di angka Rp1.800 per butir

Ekspor santan beku dari Sumsel ke Tiongkok (Dok. Karantina Sumsel untuk IDN Times) Dari laporan, harga kelapa di tingkat petani dilaporkan mengalami penurunan sepanjang 2026. Bahkan pada Agustus tahun ini, harga kelapa turun dari sekitar Rp4 ribu menjadi Rp1.800 per butir.
Penurunan harga tersebut sudah berlangsung sekitar enam bulan dan salah satu faktor pemicu harga anjlok adalah keterkaitan dengan pelemahan permintaan ekspor.
"Kondisi ini menunjukkan kerentanan pendapatan petani ketika komoditas kelapa masih banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah dan bergantung pada kondisi pasar," jelas Asri.
Diketahui, Banyuasin memiliki basis perkebunan kelapa yang cukup besar. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Banyuasin, luas perkebunan kelapa rakyat mencapai 48.266 hektare dengan produksi sekitar 46.927 ton pada 2023.
3. Komoditas kelapa berupa olahan turunan sudah mulai ekspor ke China

Sumsel ekspor turunan komoditas kelapa dari Pelabuhan Boom Baru Palembang (Dok. Balai Karantina) Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sumsel pada kuartal kedua 2026, nilai ekspor dari berbagai komoditas tercatat sebesar Rp1,6 miliar ke pasar internasional. Dari nilai tersebut, termasuk ekspor produk olahan kelapa yang dikirim ke Prancis, China, dan Taiwan.
Sebelumnya, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumsel dan Babel, Arifin Susanto, sempat menyampaikan bahwa nilai ekspor dengan pertumbuhan cukup positif itu berasal dari ekspor berbagai produk turunan kelapa.
Secara rinci, pergerakan perdagangan luar negeri dari olahan kelapa Sumsel meliputi pengiriman produk olahan kelapa berupa kelapa parut kering 3 ton dan gula kelapa 5 ribu unit. Sementata dari komoditas non-olahan kelapa ada pala 100 kg, bubuk kayu manis 200 kg, batang kayu manis 200 kg, serta bubuk kunyit 5 ton.
"Untuk produk yang diekspor ke China, ada arang tempurung kelapa 46 ton dan keripik kelapa 25 ton," kata Arifin pada April lalu.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















