Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BI Sumsel Ungkap Sebab Beras 5 Kg Masih Sulit Ditemukan di Pasaran

Kota Palembang
2 min read
BI Sumsel Ungkap Sebab Beras 5 Kg Masih Sulit Ditemukan di Pasaran
Kemasan baru Beras SPHP. (IDN Times/Trio Hamdani)
  • Beras premium kemasan 5 kilogram masih sulit ditemukan di Palembang karena petani dan pedagang cenderung menjual gabah ke luar Sumatra Selatan.
  • BI Sumsel menyebut stok Bulog untuk kebutuhan SPHP mencukupi, sementara Pemprov Sumsel berkoordinasi dengan Bulog untuk melakukan intervensi pasokan.
  • Pantauan warga menunjukkan stok 5 kilogram kosong di sejumlah swalayan dan aplikasi digital; yang tersedia di beberapa wilayah harganya naik dari sekitar Rp70 ribu menjadi lebih Rp85 ribu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times - Sejumlah masyarakat di Kota Palembang masih mengeluh perihal beras kemasan ukuran 5 kilogram yang sulit ditemukan di pasaran. Padahal, secara nilai ekonomis, kemasan tersebut banyak dicari karena harganya sesuai dengan kemampuan keuangan sebagian besar masyarakat kelas menengah ke bawah.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Sumatra Selatan Bambang Pramono, kuantitas beras kemasan yang disebut masih minim di pasaran, terutama untuk ukuran 5 kg, disebabkan oleh petani maupun pedagang, lebih memilih menjual gabah ke luar kota.

"Ada perilaku pedagang itu membawa gabahnya itu ke luar Sumsel," ujarnya, dikutip Minggu (20/9/2026).

  1. 1. Bulog dijanjikan intervensi masalah beras

    Kepala Bank Indonesia Sumatera Selatan Bambang Pramono dalam dokumentasi untuk liputan berita IDN Times.
    Kepala BI Sumsel Bambang Pramono (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

    Bambang menyebut, Pemprov Sumsel telah berupaya menjaga kuantitas dan stok beras di Palembang. Salah satunya adalah melakukan koordinasi bersama stakeholder terkait, sekaligus melakukan sinkronisasi dengan Gubernur Sumsel Herman Deru.

    "Kemarin sudah koordinasi, kami juga sudah rapat waktu itu dengan Pak Gubernur dan bersama Bulog. Insyallah Bulog akan melakukan intervensi," kata dia.

  2. 2. Masalah stok beras disebut karena pedagang

    Warga Desa Tulung, Kecamatan Kawedanan, membawa bantuan pangan berupa beras seberat 30 kilogram setelah pengambilan.
    Warga desa Tulung Kecamatan Kawedanan mengambil bantuan pangan beras 30 Kg. IDN Times/Riyanto.

    Lebih lanjut, Bambang mengklaim pasokan beras di pasaran sebenarnya masih tercukupi terutama untuk kebutuhan SPHP. Namun, memang kata dia, ada permainan pasar yang membuat stok disebut sedikit dan tak memenuhi kebutuhan harian masyarakat.

    "Karena sebenarnya stok di Bulog mencukupi, cuman memang ada masalah di perdagangan, sehingga harga juga berubah menjadi lebih mahal," jelasnya.

  3. 3. Beras premium 5 kg di aplikasi digital juga kosong

    Salah satu toko di Sekayu yang menjual beras premium secara eceran.
    Salah satu toko di Sekayu yang menjual beras premium secara eceran. (IDN Times/Yuliani)

    Sementara itu, dari pantauan IDN Times di lapangan, pasokan beras ukuran 5 kilogram di swalayan pun semakin kosong. Menurut Ria, warga Sekip, salah satu minimarket di kawasannya sudah lama tak menjual beras ukuran tersebut, khususnya jenis premium. Alasannya karena biaya kemas lebih mahal ketimbang biaya produktivitas padi.

    "Di Fresh Sekip udah sebulan gak ada. Nanya juga sama karyawan di sana, memang sudah jual 10 kg. Kalau 5 kg gak ada lagi stoknya," kata dia.

    Titin, warga Tanjung Barangan, menambahkan, stok di sekitar perumahannya masih tersedia untuk beras ukuran 5 kg. Tetapi katanya, harga jual naik cukup tinggi.

    "Biasanya dari Rp70 ribuan sekarang lebih dari Rp85 ribu," ujar Titin.

    Sedangkan dari pantauan di aplikasi belanja digital, beras premium ukuran 5 kilogram sudah kosong sejak sebulan yang lalu. Meskipun kemasan beras tersedia, pasokan yang dijual merupakan produk SPHP dan bukan beras premium.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More