Musi Banyuasin, IDN Times - Bukan perkara mudah bagi Novrita, petani Desa Sidomulyo, Kecamatan Tungkal Jaya, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), untuk menceritakan peristiwa pilu yang dialaminya pada Februari 2026 silam. Dengan nada getir, ibu tiga anak ini menceritakan bagaimana dirinya nyaris bertemu maut saat beberapa selongsong peluru melesat di sekitar kepalanya.
Novrita merupakan salah satu dari puluhan petani sawit yang dituduh melakukan pencurian di kebun mereka sendiri. Hari itu, senapan aparat dibidik ke arahnya, dengan dalih menghentikan aksi pencurian. Namun, Novrita yang kala itu dalam posisi hamil, tak gentar dan meyakini bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan.
"Posisinya, saya dan suami sedang panen. Saya bagian ambil brondol sawit. Ada dua preman yang mengatakan itu lahan punya Muchtar Edi. Dengan lantang saya bilang ini lahan saya, dan mereka sempat mundur. Tak lama kemudian mereka datang bersama rombongan tentara," ujarnya, Sabtu (22/8/2026).
Kedatangan segerombolan diduga preman dan pria berseragam loreng ini tak digubris oleh Novrita dan suaminya. Hingga terdengar letusan tembakan seolah sengaja ditargetkan untuk dirinya. Novrita yang menyadari hal tersebut langsung memasang badan menghadapi para penyerangnya.
"Saya diteriakin maling oleh mereka. Saya langsung lawan. Sejak 1985 ini tanah kami dan punya orang tua kami. Suratnya jelas dan diakui secara hukum. Saya langsung melindungi suami yang saat itu dikasari mereka," ungkapnya.
Namun Novrita masih berpikir jernih. Menghadapi para preman yang didampingi aparat bersenjata bukan ajang untuk melawan lebih frontal. Seraya memikirkan ketiga anaknya yang masih kecil, belum lagi sang calon bayi dalam kandungan, dengan sadar ia memilih mundur.
"Sejak kejadian itu, saya trauma. Jika kami ngotot pada saat itu, yang ada bisa chaos. Maka itu, apa mau mereka kami turuti saja. Bahkan saat mereka hendak menyeret kami ke Polsek, tetap kami ikuti. Karena saya merasa tidak mencuri," ucapnya penuh emosional.
