RSUP M Djamil Padang (Foto: RSUP M Djamil)
Selain itu, Nuri menyebutkan bahwa hal lainnya yang sangat krusial terjadi dalam penanganan anaknya oleh pihak M Djamil berkaitan dengan pemasangan infus.
"Dalam pandangan kami mereka melakukan pemasangan infus itu asal-asalan. Sehingga tidak ada tempat lagi di bagian vena Alceo untuk dipasangi infus," katanya.
Menurutnya, 4,5 jam terakhir sebelum melakukan operasi, keadaan sang anak sudah memburuk dan pihak rumah sakit tidak memberikan NGT (saluran tempat memasukkan makanan bagi anak-anak) untuk anaknya.
"Kami juga sempat berdebat soal NGT ini. Saat masih di IGD, kami dijanjikan akan dipasangkan NGT saat akan memasuki ruang operasi dan sudah dibius," katanya.
Namun, saat sang anak keluar dari ruang operasi, ia tidak melihat adanya NGT yang dipasangkan. Bahkan, ia menduga anaknya tidak dibius saat melakukan operasi. Karena keadaan anaknya yang menangis menahan sakit saat keluar ruang operasi.
"Saat keluar dari ruangan operasi itu gula darah Alceo berada pada angka 25 dan kalau mereka memberikan NGT, tentunya gula darah Alceo tidak serendah itu," katanya.
Selain itu, ada beberapa hal lain yang dianggap tidak sesuai dilakukan dalam hal penanganan terhadap bayi yang mengalami luka bakar oleh pihak RSUP M Djamil Padang.