Cuaca Panas di Sumsel Masih Normal, Ini Penjelasan BMKG

- BMKG menyebut suhu udara di Sumatera Selatan berkisar 25–34 derajat Celsius dan masih tergolong normal untuk musim kemarau.
- Fenomena suhu terasa lebih panas disebabkan oleh rendahnya kelembapan, tingginya suhu udara, serta paparan sinar matahari langsung.
- BMKG mengimbau masyarakat menjaga hidrasi, menggunakan pelindung diri, menghemat air, dan tidak membakar lahan untuk mencegah karhutla.
Palembang, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut suhu udara di Sumatra Selatan saat ini berkisar antara 25 hingga 34 derajat Celsius. Meski terasa cukup panas di sejumlah wilayah, BMKG menegaskan kondisi tersebut masih tergolong normal dan sesuai karakteristik musim kemarau di Bumi Sriwijaya.
"Suhu maksimum memang terjadi pada siang hingga sore hari. Pada waktu tersebut masyarakat akan merasakan cuaca lebih panas, terutama saat beraktivitas di luar ruangan," ungkap Kepala Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Siswanto, Jumat (12/6/2026).
1. Suhu udara terasa lebih panas bagi tubuh

Siswanto menyebutkan meski suhu udara yang tercatat masih dalam kategori normal, masyarakat dapat merasakan kondisi yang lebih panas dibandingkan dengan suhu aktual. Fenomena ini membuat suhu yang dirasakan tubuh bisa mencapai sekitar 39 derajat Celsius, meskipun suhu udara yang terukur berada di bawah angka tersebut.
"Ada beberapa faktor yang memengaruhi, seperti tingginya suhu udara, rendahnya kelembapan, serta paparan sinar matahari langsung yang mengenai kulit," jelasnya.
2. Masyarakat diingatkan konsumsi air untuk cegah dehidrasi

Siswanto mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah kondisi cuaca panas yang ada. Masyarakat diminta memperbanyak konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan.
"Gunakan pelindung diri saat beraktivitas di luar ruangan dan pastikan tubuh tetap terhidrasi," jelasnya.
3. Waspada penggunaan air saat kemarau

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk menghemat penggunaan air selama musim kemarau guna mengantisipasi potensi kekeringan. Selain itu, warga diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun hutan karena dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

















