Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Diduga Salah Penanganan, Bayi 14 Bulan Meninggal di RSUP M Djamil

Diduga Salah Penanganan, Bayi 14 Bulan Meninggal di RSUP M Djamil
Doris dan Nuri, orang tua Alceo, bayi 14 bulan yang meninggal dunia di RSUP K Djamil Padang (IDN Times/Halbert Caniago)
Intinya Sih
  • Bayi 14 bulan bernama Alceo Hanan Flantika meninggal di RSUP M Djamil Padang setelah dirawat akibat luka bakar, dan keluarganya belum mendapat penjelasan resmi dari pihak rumah sakit.
  • Orang tua korban menilai ada kelalaian serius selama perawatan, termasuk anak dibiarkan 29 jam di IGD tanpa kepastian operasi serta puasa panjang hingga kondisi memburuk.
  • Pihak keluarga juga menyoroti pemasangan infus yang dianggap asal-asalan dan dugaan prosedur operasi tanpa pembiusan memadai, yang memperparah kondisi bayi sebelum akhirnya meninggal dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Padang, IDN Times - Dua pekan lebih setelah kepergian anaknya, pasangan Doris Flantika dan Nuri Khairma Putri masih belum mendapatkan penjelasan dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M Djamil Padang soal penyebab kematian anaknya, Alceo Hanan Flantika yang baru berumur 14 bulan.

Pasangan suami istri itu masih menunggu hasil dari penyelidikan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit terbesar di Sumatra itu sampai saat ini.

"Alceo meninggal tanggal 3 April lalu dan sampai saat ini belum ada kejelasan dari pihak M Djamil," kata Doris saat diwawancarai IDN Times, Rabu (22/4/2026).

1. Dirawat selama 7 hari

RSUP M Djamil Padang (Foto: RSUP M Djamil)
RSUP M Djamil Padang (Foto: RSUP M Djamil)

Doris mengatakan, anak keduanya itu terpaksa harus dirawat di RSUP M Djamil setelah mengalami luka bakar pada 26 Maret 2026 lalu.

"Alceo sempat dirawat selama kurang lebih 7 hari dan selama 7 hari itu banyak hal-hal tidak patut dilakukan oleh pihak RSUP M Djamil Padang baik dalam hal pelayanan maupun penanganan terhadap anak kami," katanya.

Menurutnya, kesalahan dalam penanganan terhadap anaknya merupakan penyebab meninggalnya bayi malang tersebut. Alceo harus kehilangan nyawa setelah banyaknya kelalaian yang diduga dilakukan.

2. Dibiarkan 29 jam di IGD tanpa kepastian

Ilustrasi IGD RSUP M Djamil Padang. Korban ledakan gas di Pabrik Indarung V PT Semen Padang tiba di RSUP M Djamil Padang, Selasa (20/2/2024). IDN Times/Andri NH
Ilustrasi IGD RSUP M Djamil Padang. Korban ledakan gas di Pabrik Indarung V PT Semen Padang tiba di RSUP M Djamil Padang, Selasa (20/2/2024). IDN Times/Andri NH

Sementara, Nuri mengatakan bahwa ada beberapa hal krusial yang membuat sang bayi sempat kritis hingga meninggal dunia pada 3 April lalu.

"Hal pertama itu sebelum melakukan operasi anak kami disuruh berpuasa selama 24,5 jam tanpa kepastian jadwal operasi," katanya.

Ia mengatakan, anaknya yang mengalami luka bakar tersebut tetap dibiarkan berada di ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang penuh dengan orang sakit.

"Alceo dibiarkan selama 29 jam di IGD tersebut yang kami anggap sebuah kesalahan fatal yang dilakukan oleh pihak M Djamil," katanya.

3. Pemasangan infus asal-asalan

RSUP M Djamil Padang (Foto: RSUP M Djamil)
RSUP M Djamil Padang (Foto: RSUP M Djamil)

Selain itu, Nuri menyebutkan bahwa hal lainnya yang sangat krusial terjadi dalam penanganan anaknya oleh pihak M Djamil berkaitan dengan pemasangan infus.

"Dalam pandangan kami mereka melakukan pemasangan infus itu asal-asalan. Sehingga tidak ada tempat lagi di bagian vena Alceo untuk dipasangi infus," katanya.

Menurutnya, 4,5 jam terakhir sebelum melakukan operasi, keadaan sang anak sudah memburuk dan pihak rumah sakit tidak memberikan NGT (saluran tempat memasukkan makanan bagi anak-anak) untuk anaknya.

"Kami juga sempat berdebat soal NGT ini. Saat masih di IGD, kami dijanjikan akan dipasangkan NGT saat akan memasuki ruang operasi dan sudah dibius," katanya.

Namun, saat sang anak keluar dari ruang operasi, ia tidak melihat adanya NGT yang dipasangkan. Bahkan, ia menduga anaknya tidak dibius saat melakukan operasi. Karena keadaan anaknya yang menangis menahan sakit saat keluar ruang operasi.

"Saat keluar dari ruangan operasi itu gula darah Alceo berada pada angka 25 dan kalau mereka memberikan NGT, tentunya gula darah Alceo tidak serendah itu," katanya.

Selain itu, ada beberapa hal lain yang dianggap tidak sesuai dilakukan dalam hal penanganan terhadap bayi yang mengalami luka bakar oleh pihak RSUP M Djamil Padang.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More