Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Data Desil jadi Polemik, BPS Sumsel Ungkap Penyebabnya
Ilustrasi grafik data Badan Pusat Statistik (BPS) (http://pexels.com/Goumbik)
  • BPS Sumsel menyebut polemik data desil bansos dipengaruhi pendataan yang belum sempurna, karena kesejahteraan dinilai memakai 41 variabel dan datanya terus berubah.
  • Hingga 10 Juli 2026, DTSEN Sumsel mencatat 9.309.748 individu dan 2.905.756 keluarga, tetapi pemutakhiran baru mencapai 33,13 persen.
  • Kendala meliputi penolakan warga memberi informasi dan sekitar 2.170 data belum ditemukan dalam Sensus Ekonomi; BPS meminta partisipasi masyarakat untuk pembaruan data.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Polemik pengelompokan desil untuk sasaran bantuan sosial muncul karena data dinilai tidak selalu sesuai kondisi kesejahteraan masyarakat. BPS Sumsel menyatakan pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional masih menghadapi kendala.
  • Who?
    Zahira selaku Ketua Tim DTSEN BPS Sumsel, petugas pendataan, serta masyarakat Sumatra Selatan terlibat dalam proses pemutakhiran data dan penentuan desil.
  • Where?
    Pemutakhiran dan persoalan data desil berlangsung di Sumatra Selatan, dengan keterangan disampaikan BPS Sumsel di Palembang.
  • When?
    Zahira menyampaikan keterangan pada Rabu, 9 September 2026. Data DTSEN Sumsel tercatat pada 10 April 2026 dan kembali diperbarui pada 10 Juli 2026.
  • Why?
    Pembaruan belum optimal karena sebagian masyarakat menolak atau sulit memberikan informasi. Perubahan kelahiran, kematian, perpindahan domisili, dan kondisi sosial ekonomi juga membuat data terus berubah.
  • How?
    DTSEN memeringkat kondisi sosial ekonomi melalui 41 variabel, termasuk NIK dan data pelanggan listrik. Hingga saat ini, pemutakhiran di Sumsel mencapai 33,13 persen; sekitar 2.170 data masyarakat belum ditemukan dalam Sensus Ekonomi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Data orang di Sumsel untuk bantuan masih jadi masalah. BPS Sumsel bilang data belum banyak diperbarui, baru 33,13 persen. Ada orang yang tidak mau memberi info saat didata. Data juga bisa berubah karena lahir, meninggal, pindah rumah, atau keadaan uang berubah. BPS minta warga memberi info yang benar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah polemik, pengelolaan DTSEN di Sumatra Selatan menunjukkan upaya membangun pemetaan sosial ekonomi yang lebih menyeluruh. Penggunaan 41 variabel serta pembaruan berkala mengakui bahwa kondisi warga terus berubah, sementara bertambahnya catatan individu dan keluarga memberi dasar yang semakin luas bagi verifikasi data dan penyesuaian sasaran bantuan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Polemik pengelompokan desil sebagai salah satu acuan pemerintah dalam menentukan sasaran program bantuan sosial (bansos) masih jadi sorotan masyarakat. Selain data yang tidak dinilai sesuai dengan tingkat kesejahteraan, pengelompokan angka pendapatan masyarakat pun disebut tak valid.

Menanggapi persoalan tersebut, Ketua Tim Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) Badan Pusat Statistik Sumatra Selatan (BPS Sumsel), Zahira, mengakui masih banyak kendala yang terjadi di lapangan pada saat proses pendataan, termasuk pembaruan informasi.

"Penentuan kesejahteraan tidak ditentukan oleh satu variabel saja, tetapi ada 41 variabel. DTSEN itu bukan data sekali dibuat langsung selesai karena datanya dinamis dan terus dimutakhirkan," ujarnya, Rabu (9/9/2026).

1. Sebut DTSEN merupakan data yang bersifat dinamis

Cara cek desil DTSEN. (IDN Times/Nisa Zarawaki)

Dia menyampaikan sejumlah kendala dalam penentuan desil dari DTSEN, salah satunya adalah karena sebagian masyarakat ada yang menolak memberikan informasi saat proses pendataan dilakukan. Ia mengaku, bahwa di Sumsel pemutakhiran DTSEN belum sempurna dan baru 33,13 persen data yang telah dimutakhirkan atau diperbarui.

"Pemutakhiran DTSEN bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sekali kemudian dianggap selesai. Data bersifat dinamis karena kondisi sosial dan ekonomi masyarakat terus mengalami perubahan," katanya.

Menurut dia, perubahan data penduduk dapat terjadi setiap saat, mulai dari kelahiran, kematian, perpindahan domisili hingga perubahan kondisi sosial ekonomi. Di Sumsel, pada 10 April 2026 tercatat sebanyak 9.288.375 record individu dan 2.887.897 record keluarga dalam DTSEN.

Kemudian lanjut Zahira, saat pemutakhiran kembali dilakukan pada 10 Juli 2026, jumlahnya meningkat menjadi 9.309.748 record individu dan 2.905.756 record keluarga.

"Dari keseluruhan data tersebut, tingkat pemutakhiran baru mencapai 33,13 persen," ujarnya.

2. Masih ada 2 ribuan data di Sumsel yang belum masuk sensus ekonomi

Ilustrasi Pemutahiran DTSEN dan Desil/ IDN Times Dini Suciatiningrum

Zahira mengaku, tingkat pemutakhiran yang rendah tersebut tidak lepas dari kendala di lapangan dan ia menegaskan, persoalan ketidaksesuaian data pun tak sepenuhnya dapat dibebankan kepada BPS.

Sebab, katanya, pemutakhiran membutuhkan keterlibatan masyarakat, terutama transparansi sejumlah informasi yang harus terkonfirmasi secara langsung.

“Kami masih sulit mendapatkan data dari masyarakat. Dan masih ribut kenapa data tidak sesuai, maka kami akui ini memang tugas bersama untuk memutakhirkan data ini," jelasnya.

Selain itu, kata dia, BPS juga menemukan masih adanya masyarakat yang belum tercatat dalam pendataan tertentu. Di Sumsel, terdapat sekitar 2.170 data masyarakat yang belum ditemukan dalam Sensus Ekonomi sehingga cukup menyulitkan proses pemutakhiran.

3. Banyak variabel penentu DTSEN

Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia (ppid.bps.go.id)

Dia menjelaskan, dalam penentuan DTSEN digunakan 41 variabel. Penentuan itu selanjutnya akan menggambarkan kondisi sosial ekonomi seseorang. Informasi penting yang diperlukan adalah data administrasi maupun informasi dari sumber lain yang juga dapat menjadi bagian dari proses pemeringkatan.

“Banyak variabel penentu untuk pemeringkatan desil. Walaupun belum didata, dia bisa masuk dari satu atau dua variabel,” jelasnya.

Salah satu informasi yang dapat digunakan antara lain Nomor Induk Kependudukan (NIK) serta data pelanggan listrik. Penggunaan daya listrik, misalnya, dapat menjadi salah satu variabel dalam menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

"BPS Sumsel mendorong masyarakat turut berperan dalam proses pemutakhiran DTSEN dengan memberikan informasi yang benar ketika dilakukan pendataan," kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article