Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BMKG Bekali Nelayan Sumsel Pengetahuan Cuaca Lewat SLCN 2026
Sekolah Lapangan Cuaca Nelayan (SLCN) 2026 yang dilaksanakan BMKG bersama Pemkot Palembang (Dok: BMKG)
  • BMKG melalui SLCN 2026 membekali nelayan Sumsel agar menjadikan prakiraan cuaca dan peringatan dini sebagai pertimbangan utama sebelum melaut demi keselamatan.

  • Pengetahuan turun-temurun membaca langit, angin, arus, dan pasang surut perlu dilengkapi informasi meteorologi serta komunikasi antar-nelayan untuk menghadapi perubahan cuaca.

  • Karakter perairan Sumsel yang beragam menuntut informasi cuaca spesifik; literasi cuaca membantu nelayan merencanakan operasi, menekan risiko kerugian, dan menjaga produktivitas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Nelayan di Sumatra Selatan (Sumsel) perlu memahami informasi cuaca sebelum melaut untuk mengantisipasi perubahan kondisi alam yang dapat mengancam keselamatan. Selain memahami tanda alam, informasi mengenai perubahan cuaca berdasar sains juga harus dipahami nelayan yang tinggal dan mancari nafkah di jalur perairan yang ada di Sumsel.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto, mengatakan pemanfaatan informasi cuaca menjadi salah satu bekal penting bagi nelayan dalam menentukan keputusan sebelum beraktivitas di perairan.

"Informasi cuaca perlu menjadi salah satu pertimbangan utama nelayan sebelum melaut. Dengan memahami prakiraan cuaca dan peringatan dini, nelayan dapat lebih siap menghadapi perubahan kondisi alam dan mempertimbangkan risiko keselamatan," jelas Siswanto dalam Sekolah Lapangan Cuaca Nelayan (SLCN) 2026, Selasa (27/10/2026).

1. Kenali kondisi cuaca sebelum memutuskan melaut

Sekolah Lapangan Cuaca Nelayan (SLCN) 2026 yang dilaksanakan BMKG bersama Pemkot Palembang (Dok: BMKG)

Siswanto mengatakan, perubahan cuaca dapat memengaruhi aktivitas nelayan, baik yang beroperasi di sungai maupun di kawasan muara dan pesisir. Hujan lebat, angin kencang, petir, serta berkurangnya jarak pandang berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan di perairan.

Risiko tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi nelayan yang menggunakan perahu berukuran kecil. Kondisi cuaca di lokasi keberangkatan juga belum tentu sama dengan cuaca di lokasi penangkapan ikan.

Menurutnya, pengetahuan mengenai cuaca diharapkan membantu nelayan menyusun rencana melaut secara lebih cermat, termasuk menyiapkan perlengkapan keselamatan dan menghindari keputusan berisiko ketika kondisi perairan tidak mendukung.

"BMKG selalu mengeluarkan peringatan dini. Informasi mengenai arah dan kecepatan angin, gelombang, serta kondisi cuaca lainnya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan rencana perjalanan," jelas Siswanto.

2. Pengetahuan turun-temurun perlu dilengkapi teknologi cuaca

ilustrasi kapal nelayan (pexels.com/PHILIPPE SERRAND)

Menurut Siswanto, masyarakat Palembang memiliki hubungan erat dengan Sungai Musi. Sejak dahulu, sungai menjadi jalur transportasi, sumber pangan, pusat perdagangan, sekaligus ruang aktivitas ekonomi masyarakat.

Bagi nelayan, pengalaman mengenali perubahan langit, arah angin, arus, dan pasang surut menjadi bagian dari pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.

"Pengalaman nelayan dalam membaca tanda-tanda alam merupakan pengetahuan yang penting," bebernya.

Kebiasaan berbagi informasi antar nelayan juga dapat membantu meningkatkan kewaspadaan. Nelayan dapat saling mengingatkan ketika kondisi cuaca memburuk serta menjaga komunikasi sebelum keberangkatan dan selama perjalanan.

"Namun, pengetahuan tersebut perlu dilengkapi dengan informasi meteorologi agar keputusan melaut dapat dilakukan secara lebih terencana dan mempertimbangkan kondisi cuaca terkini," jelas Siswanto.

3. Karakteristik perairan Sumsel membutuhkan informasi berbeda

ilustrasi kapal nelayan (pexels.com/PHILIPPE SERRAND)

Wilayah perairan Sumsel memiliki karakteristik yang beragam. Nelayan di sekitar Palembang, misalnya, beraktivitas di alur Sungai Musi, anak sungai, serta kawasan rawa dan perairan banjiran.

Sementara itu, nelayan di wilayah hilir dan pesisir timur Sumsel menghadapi kondisi perairan yang berbeda, mulai dari kawasan muara dan estuari hingga perairan pantai di sekitar Selat Bangka. Perbedaan tersebut membuat informasi yang perlu diperhatikan nelayan juga tidak selalu sama.

"Di perairan sungai, hujan lebat, angin kencang, perubahan arus, kenaikan muka air, dan keterbatasan jarak pandang dapat memengaruhi perjalanan maupun aktivitas penangkapan ikan," jelas Siswanto.

4. Literasi cuaca juga mendukung produktivitas nelayan

ilustrasi kapal nelayan (pexels.com/Nguyễn Hoàng Văn)

Menurut Siswanto, pemahaman mengenai cuaca untuk nelayan tidak hanya bertujuan mengurangi risiko kecelakaan, tetapi juga dapat membantu nelayan merencanakan usaha perikanan secara lebih baik.

Dengan memperhatikan prakiraan cuaca, nelayan dapat mempertimbangkan waktu operasional, mempersiapkan kebutuhan perjalanan, dan menghindari risiko kerugian ketika kondisi perairan tidak mendukung.

"Keberhasilan melaut tidak hanya ditentukan oleh hasil tangkapan, tetapi juga oleh kemampuan nelayan menjaga keselamatan selama perjalanan dan mempertahankan keberlanjutan usahanya," jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article