Banyak Kasus Menu MBG Sumsel saat Ramadan Dirapel, BGN: Ini keliru

Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sumsel tetap berjalan selama Ramadan, namun ditemukan praktik distribusi makanan kering secara dirapel yang dinilai keliru oleh Badan Gizi Nasional.
BGN menegaskan akan mengevaluasi dan menindak dapur penyedia yang melanggar SOP, termasuk kemungkinan pencabutan izin operasional jika terbukti melakukan pelanggaran distribusi MBG.
Sejumlah orangtua penerima manfaat mengeluhkan kualitas menu kering yang dibagikan, dinilai kurang bergizi, tidak layak konsumsi, serta menambah sampah plastik dalam proses penyalurannya.
Palembang, IDN Times - Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sumatra Selatan khususnya di Palembang masih terus berjalan saat Ramadan 2026. Namun dalam pelaksanaan MBG di sekolah umum, menu yang dibagikan berupa paket makanan kering, dan kebanyakan penyedia dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menerapkan distribusi dengan cara dirapel dan bukan per hari.
"Makanan yang dibawa pulang ke rumah itu per hari. Bukan 1 hari dibagikan untuk jumlah makanan selama 3 hari (dirapel), ini keliru," kata Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Irjen Pol Sony Sonjaya, dalam konferensi pers rapat konsolidasi MBG bersama Pemprov Sumsel, Yayasan, Mitra Se-Sumsel di Palembang pada 28 Februari 2026.
1. Sebut BGN konsisten bagikan MBG memenuhi kebutuhan gizi

Dia menjanjikan, permasalahan soal sistem distribusi yang dirapel oleh sejumlah SPPG akan ditindak dan dievaluasi. Apabila dalam pengecekan ditemukan banyak pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) dan tidak sesuai kebijakan BGN, maka dapur penyedia risiko pencabutan izin operasional dan akan disetop sementara.
Sony menyampaikan, selama Ramadan program MBG harus tetap berjalan. Tujuannya agar penerima manfaat tetap bisa mendapatkan asupan gizi meski dalam kondisi berpuasa. Ia memastikan pembagian MBG berjalan tanpa henti dan BGN berupaya agar gizi penerima manfaat seimbang.
"Selama ramadan tidak berhenti kita memberi asupan gizi. Jadi kita bagikan makanan kering ke sekolah umum," jelasnya.
2. Pembagian menu MBG saat Ramadan dinilai memperbanyak sampah plastik

Pembagian menu MBG kering memang kerap jadi polemik di lapangan, sebab selain dinilai tak efektif. Distribusi paket kering dinilai tidak mampu memenuhi gizi penerima manfaat. Berbeda dengan masakan yang disediakan di atas ompreng yang lengkap dengan karbohidrat dan protein.
Menurut Jesi, wali murid di TK swasta Palembang, sejak Ramadan berlangsung, sekolahnya menerima MBG dengan sajian kurang layak. Seperti pembagian roti dengan plastik. Penyaluran paket yang disajikan pakai plastik, kata dia, justru terkesan menambah sampah plastik yang tidak sejalan dengan aturan.
"Dikasih roti cokelat, roti cokelat yang eceran. Harganya mungkin cuma Rp2 ribuan. Kandungan makanan ini lebih banyak gulanya ketimbang vitaminnya. Dibagikan pakai plastik, malah tambah banyak sampah nanti," katanya.
3. Harapkan pembagian menu MBG lebih layak

Selain Jesi, menurut Eli, orangtua siswa penerima MBG di Palembang, pembagian paket kering sistem rapel sudah sering ia terima. Namun ia berpikir, mungkin cara tersebut mempermudah proses distribusi. Ia tak paham bila cara bagi langsung dalam jumlah banyak dalam sehari adalah kekeliruan proses pembagian MBG.
Eli mengaku, selama bulan puasa dirinya tidak puas terhadap menu yang dibagikan oleh penyedia dapur. Sebab katanya, makanan yang disajikan tidak layak konsumsi dan masuk kategori menu bergizi.
"Untuk balita dapat susu dan roti, tapi untuk karbohidrat cuma dikasih gorengan pisang. Belum lagi susunya kebanyakan gula, terus untuk takjil cuma dapat kurma satu, tidak seimbang dan harganya juga hitungannya lebih murah dari standar BGN," ungkapnya.
Dia berharap agar penyedia dapur MBG bisa memaksimalkan menu yang dibagikan kepada penerima manfaat dengan lebih layak konsumsi. Sehingga penyaluran tepat sasaran dan tidak menimbulkan keributan di lapangan.
















