Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Warga Pangkalan Bayat Muba Keluhkan Debu Jalan Batu Bara
Kondisi debu beterbangan saat mobil pengangkut batu bara melintasi wilayah Pangkalan Bayat (Dok: istimewa)

Musi Banyuasin, IDN Times - Penyakit seperti demam, batuk, hingga sesak napas, menjadi masalah masyarakat yang hidup berdampingan dengan jalan batu bara di Desa Pangkalan Bayat, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Debu tersebut terbawa saat kendaraan melintas dan semakin parah ketika musim kemarau.

Beberapa kali masyarakat melayangkan protes, namun pihak perusahaan tak kunjung menanggapi keluhan masyarakat. Mereka yang lebih dulu tinggal di lokasi hauling (jalan angkut batu bara) mengaku kian menderita menghadapi permasalahan debu tersebut.

"Kita menilai aktivitas bisnis (angkut batu bara) sangat merugikan masyarakat. Kami yang tinggal dan menghirup udaranya sangat terdampak," ungkap Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Pangkalan Bayat, Dicky Sophan Pribadi, Senin (9/10/2023).

1. Pengelola dan pemilik izin angkat tangan

Kondisi debu beterbangan saat mobil pengangkut batu bara melintasi wilayah Pangkalan Bayat (Dok: istimewa)

Dicky menerangkan, jalan batu bara tersebut melintasi wilayahnya sepanjang 22 kilometer. Permasalahan debu sudah disampaikan warga bahkan sejak 2018 silam kepada pengelola jalan batu bara PT Musi Mitra Jaya (MMJ), namun pihak perusahaan tak kunjung menjawab keluhan warga.

Pihaknya sempat melapor ke PT Bumi Persada Permai (BPP) yang memiliki izin hauling batu bara. Lagi-lagi, masyarakat hanya mendapat jawaban seadanya jika permasalahan debu bukan tanggung jawab mereka.

"Mereka masuk wilayah kami tapi kontribusinya tidak ada," beber dia.

Alasan lainnya, hauling batubara itu sudah mendapat izin pinjam pakai dari pemerintah pusat. Masyarakat lokal hanya mendapat debu dan penyakit.

"Selain mengganggu Kesehatan warga, juga merugikan tanaman kebun warga seperti karet dan kelapa sawit," jelas dia.

2. Warga kesulitan saat melintas di jalan batu bara

Kondisi debu beterbangan saat mobil pengangkut batu bara melintasi wilayah Pangkalan Bayat (Dok: istimewa)

Dicky menambahkan, permasalahan debu ini tidak hanya terjadi saat kemarau tetapi juga musim hujan. Masyarakat yang tinggal dekat jalan batu bara berada dalam masa kesulitan ketika harus menghirup udara kotor 24 jam sehari.

Debu yang terbawa dapat mencapai tiga kilometer, dan tanpa disadari berdampak pada desa induk. Debu yang pekat ini membuat banyak masyarakat yang akhirnya jadi korban.

"Jarak pandang hanya dua meter saja. Kita tidak tahu apa dan siapa yang lewat di depan dan belakang kita. Semua tertutup oleh debu," ungkap dia.

3. Warga laporkan permasalahan debu ke DPRD Muba

Kondisi debu beterbangan saat mobil pengangkut batu bara melintasi wilayah Pangkalan Bayat (Dok: istimewa)

Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah desa sudah menyampaikan kelu kesahnya kepada anggota Komisi II DPRD Muba, Rabik HS.

"Makanya dua minggu lalu kami sudah menyurati DPRD Muba untuk memfasilitasi kami dan memohon agar perusahaan tersebut ditinjau kembali. Makanya ada Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU)," jelas dia.

4. Pendapatan masyarakat jadi berkurang

Kondisi debu beterbangan saat mobil pengangkut batu bara melintasi wilayah Pangkalan Bayat (Dok: istimewa)

Sopiah, warga RT 04 Dusun Kelobak Indah, Desa Pangkalan Bayat menuturkan, sejak ada hauling batubara ini banyak warga mengeluh, terutama debu jalan dan dari batu bara itu sendiri.

"Anak cucu saya sangat rentan terkena penyakit akibat debu dari jalan batu bara itu. Karena debunya berterbangan bisa sampai tiga kilometer. Anak cucu selalu batuk, demam, dan penyakit lainnya," beber dia.

Perempuan yang akrab disapa Mbah Iyah ini melanjutkan, penghasilan dari kebun karetnya berkurang sejak jalan angkut batu bara beroperasi. Sebelum ada jalan batu bara, penghasilan satu hektare (Ha) kebun karet bisa sampai 25-30 kilogram per hari. Sekarang hanya hasilnya sekitar 15-20 kilogram sehari.

"Penghasilan itu berkurang sejak jalan batu bara beroperasi atau sejak 2018 lalu. Artinya sudah lima tahun lebih kami merasakan dampaknya itu," tutup dia.

Editorial Team

Related Article