Menata Cita-cita di Sekolah Semi Militer, Antara Harapan dan Tragedi

Palembang, IDN Times - Masuk hari pertama sekolah, Senin (15/7), banyak orang tua dan wali berdatangan secara silih berganti hingga ke pintu gerbang Sekolah Menengah Atas (SMA)Taruna Indonesia plus semi militer Palembang, untuk mengantarkan anak mereka.
Mereka berharap, setelah menempa ilmu di sekolah taruna yang berlokasi di jalan Sukabangun II, Kecamatan Sukarame ini, sang anak bisa meneruskan ke jenjang militer yang sesungguhnya.
Nah, nama SMA Taruna Indonesia plus semi militer Palembang ini sendiri, beberapa hari belakang kerap muncul di sejumlah media. Itu karena adanya peristiwa kematian satu siswa taruna di SMA tersebut, Dlw (14), saat menjalani masa dasar bimbingan fisik dan mental.
Misteri kematian korban juga yang cukup menjanggalkan, lantaran ada luka lebam pada bagian tubuhnya, yang di anggap tim forensik RS Bhayangkara menjadi bukti ada kekerasan. Hingga saat ini, polisi masih belum mau menetapkan tersangka.
1. Ikuti cita-cita sang anak untuk menjadi calon perwira

Masnah (50), warga Kabupten Empat Lawang, Sumsel, menuturkan, sengaja berangkat dari kampungnya di Tebing Tinggi sejak Minggu lalu. Kedatangannya ke Kota Palembang tidak lain untuk melepas kangen usai berpisah selama seminggu.
"Saya belum ketemu anak saya. Dia masih di dalam. Sudah seminggu dia ospek di sekolah," ujar Masnah kepada IDN Times, Senin (15/7).
Masnah sedikit beriksah, bahwa sudah menjadi keinginan anaknya untuk masuk ke SMA Taruna Indonesia ini. Sudah tentu, sebagai orang tua, dia berharap setelah mengenyam pendidikan di sekolah tersebut, anaknya bisa menjadi perwira TNI ataupun Polri.
"Anak saya memang mau sekolah Akmil ataupun Akpol. Waktu itu, dia bilang ingin lanjut ke sekolah semi militer di Palembang. Kita sebagai orang tua ikut mendukung, apa lagi di sekolah ini diajarkan disiplin," jelas dia.
2. Disdik Sumsel lakukan investigasi ke SMA Taruna Indonesia

Sebenarnya minat orang tua dan siswa memilih SMA Taruna Indonesia ini lumayan tinggi, bahkan untuk tahun ajaran 2019/2020 ini jumlah siswa yang diterima mencapai 105 orang.
Hanya saja, akibat adanya peristiwa yang menggegerkan dunia pendidikan di Sumsel atas kematian satu siswa mereka, sekolah ini menjadi atensi berbagai pihak termasuk Pemprov Sumsel.
Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Widodo, langsung turun mendatangi sekolah yang berada di Jalan Pendidikan Sukabangun II, Kecamatan Sukarame, Palembang. "Kita mendapat atensi dari Menteri Pendidikan terkait berita yang sejak beberapa hari ini menjadi perhatian nasional. Ya karena, meninggalnya salah seorang siswa di SMA Taruna Indonesia saat mengikuti masa orientasi siswa," ujarnya.
Widodo melanjutkan, saat ini Disdik Sumsel masih berpatokan pada keterangan sekolah terkait penyebab meninggalnya Dlw, lantaran kelelahan usai mengikuti waktu ospek yang panjang.
"Saya belum mendapat informasi dari hasil visum dan penyidikan. Tapi dari hasil awal, untuk sementara ini saya katakan bahwa siswa tersebut meninggal karena kelelahan. Namun saya belum bisa menunjukkan bukti lain dari hal tersebut. Kelelahan karena latihan yang berat bagi anak tertentu. Karena kan tidak semua anak siap secara fisik. Sehingga tubuhnya kaget dan terjadilah hal yang tidak diinginkan tersebut," terang dia.
3. Disdik Sumsel minta sekolah taruna ini direvisi dan dibenahi

Hasil pemeriksaan dari Disdik Sumsel, ungkap Widodo, secara teknis sekolah Taruna Indonesia Palembang masih harus di revisi dan dibenahi untuk ke depannya. Seperti, untuk ukuran sebuah SMA, tanah atau lahannya masih tergolong kecil.
"Tadi saya sampaikan, bahwa pihak yayasan untuk membeli tanah-tanah di sekitarnya. Karena syarat sebuah sekolah itu memiliki luas tanah sekitar 1,5 hingga 2 hektare. Sementara, sekolah ini hanya setengah hektare. Kemudian bangunannya juga kurang cahaya dan sirkulasi udara," ungkap dia.
Terkait kematian satu siswa di SMA tersebut, Widodo menilai, pihak polisi sudah melakukan penyelidikan. Apa pun hasilnya, Disdik Sumsel berharap sekolah dapat bertanggung jawab jika terjadi pelanggaran.
"Penekanannya, kejadian ini dapat terjadi di mana saja. Hal yang kita pastikan adalah tidak adanya unsur kesengajaan atau kekerasan yang di desain. Jadi ini lebih mengarah pada kelalaian, yang paling tinggi bisa dari pelatih atau pembimbingnya. Kita juga sudah dengar bahwa aparat kepolisian yang melakukan penyidikan di sini, sehingga memberikan penjelasan ke masyarakat terkait kejelasan sebenarnya dari peristiwa ini," tegas dia.
4. Berdiri 15 tahun lalu, SMA Taruna tetap menjalankan sistem pendidikan yang sama

Sementara, Kepala Sekolah SMA Taruna Indonesia Palembang, Tarmizi Hendriyanto mengatakan, pihaknya juga masih menunggu hasil pemeriksaan kepolisian. Namun, dia menyatakan, bahwa sejak SMA Taruna Indonesia ini pertama kali berdiri, baru kali ini terjadi peristiwa yang tak diinginkan.
Tarmizi melanjutkan, bahwa memang setiap tahun sistem pendidikannya sama. Mulai dari program kerja saat masa penerimaan, seperti tes kesehatan, kesamaptaan dan segala macamnya. Berikutnya ada masa dasar persiapan mental.
"Kita setiap tahun selalu melakukan revisi, baik kegiatan maupun pembelajaran. Kalau ada kekurangan, kita lakukan evaluasi agar menjadi lebih baik lagi," kata dia.
Tarmizi membenarkan, kalau mayoritas yang masuk dalam sekolah tersebut adalah calon siswa yang ingin melanjutkan ke pendidikan militer.
"Setiap siswa yang masuk sekolah ini berharap ke depannya dapat masuk ke TNI atai Polri, terlepas itu, Akmil, Tamtama, Caba ataupun Akpol," tandasnya.



















