Dinkes Sumsel Sebut Dana COVID-19 Rp84,7 Miliar Habis di Akhir Juni

Palembang, IDN Times - Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Selatan (Dinkes Sumsel), Lesty Nurainy mengatakan, dana penanganan COVID-19 yang disiapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) sebesar Rp84,7 miliar sejak Maret 2020 lalu, kini sudah hampir mendekati limit.
Lesty memprediksi dana itu akan habis hingga akhir Juni. Padahal kasus COVID-19 di Sumsel masih meningkat. Data hari ini, Rabu (10/9), kasus positif di Sumsel sudah mencapai 1.229 setelah penambahan 41 kasus baru.
"Anggaran penanganan COVID-19 Sumsel sebesar Rp84,7 miliar tidak mencukupi dan hanya bisa sampai Juni. Kita belum memiliki skema pendanaan untuk Juli mendatang," ujar Lesty Nurainy, Rabu (10/6).
1. Alokasi 90 persen anggaran untuk membeli APD, PCR, rapid test serta tracing

Lesty menjelaskan, dana tersebut digunakan Gugus Tugas sudah sesuai ketentuan yang diamanatkan. Sekitar 90 persen anggaran digunakan untuk membeli alat pelindung diri (APD), tracing, rapid test hingga pengadaan alat Polymarese Chain Reaction (PCR) yang memperkuat laboratorium di Sumsel. Plus untuk pembiayaan administrasi.
"Seluruh anggaran sudah kita manfaatkan dan didistribusikan pada penanganan COVID-19 berapa bulan belakangan. Anggarannya digunakan untuk mendukung kegiatan penanganan COVID-19, utamanya untuk tracing dan memperkuat laboratorium serta treatment," jelas dia.
2. Biayai perawatan ODP dan PDP di Wisma atlet
Belum lagi untuk penanganan pasien dengan pengawasan (PDP) dan orang dalam pantauan (ODP) di Wisma Atlet Jakabaring. Jumlah orang dirawat yang mencapai ratusan di sana mengharuskan pihak medis menggunakan banyak APD.
"Provinsi menyiapkan tempat karantina di Rumah Sehat Wisma Atlet. Ada ODP Center dan PDP Center di sana untuk yang ringan serta pusat screening. Makanya kami mengajukan penambahan anggaran lagi," jelas dia.
3. Pemenuhan reagen PCR jadi prioritas

Menurut Lesty, dana terbesar juga dikeluarkan untuk pengadaan reagen, sebuah cairan sebagai komponen pemeriksaan PCR. Beberapa laboratorium sempat kekurangan reagen, sebab pemerintah pusat juga mengirim dalam jumlah terbatas.
"Laboratorium ini juga memerlukan reagen. Bantuan dari pusat untuk BBLK Palembang tidak mencukupi. Kita berupaya untuk meningkatkan kapasitas pemeriksaan dengan meningkatkan kemampuan yang memiliki alat. Apalagi sekarang sudah ada tiga laboratorium yakni BBLK Palembang, Rumah Sakit Pusri dan RSMH Palembang," tandas dia.



















