11 Persen Kebun Karet di Sumsel Sudah Tak Produktif, Perlu Peremajaan

Palembang, IDN Times - Dampak anjloknya harga kadar karet kering (KKK) 100 persen mencapai harga terendah dalam beberapa bulan terakhir yakni, Rp19.742 per 2 September. Dalam sepekan terakhir, harga karet tersebut terus merosot.
Sepanjang 2022 harga karet bahkan sempat stabil di atas angka Rp20.000. Dampak kondisi karet yang semakin tua dianggap menjadi salah satu penyebabnya sehingga kualitas karet dihasilkan di Sumatra Selatan tak begitu baik.
"Tanaman umumnya sudah tua. Dari luas areal 1.2348.415 Hektare terdapat 11 persen atau 139.295 Ha tanaman Karet tua atau tanaman rusak. Sudah saatnya replanting harus dipercepat," ungkap Analisis PSP Ahli Madya Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpian, Sabtu (3/9/2022).
1. Produktivitas karet di Sumsel dinilai rendah

Dalam upaya peremajaan para petani juga kerap melakukan proses pembibitan secara asal-asalan. Ditambah dalam perawatan tanaman karet kerap kurang diperhatikan sehingga menyebabkan hasil panen karet kurang maksimal.
"Sebagian besar produksi karet petani rendah. untuk mencari 1 ton saja susah. Ini dikarenakan banyak petani yang asal-asalan dalam merawat karet," beber dia.
2. Karet kebanyakan kotor

Tak hanya permasalahan menuanya tanaman karet. Disbun mencatat banyak petani karet yang mengambil jalan pintas guna mengakali kondisi jual karet.
Salah satunya dengan membekukan karet. Umumnya petani karet di Sumsel menggunakan pembeku lateks untuk menyerap air ke bokar sehingga bokar yang akan ditimbang menjadi lebih berat.
Penggunaan pembeku lateks seperti pupuk fosfat maupun tawas akan meningkatkan kadar abu atau kadar kotoran menjadi. Secara signifikan akan menyebabkan turunnya kualitas bokar.
"Kebiasaan sebagian petani karet di Sumsel dalam menyimpan bokarnya secara direndam atau dicampur dengan bahan bukan karet untuk memperberat timbangan juga mempengaruhi kualitas mutu," jelas dia.
3. Indonesia bisa kalah saing dengan Thailand

Jika kondisi ini tak diperbaiki, para konsumen karet dunia dapat beralih mengekspor karet dari Thailand. Negara Gajah Putih itu dinilai memiliki produktivitas maupun harga karet yang lebih murah dibanding Indonesia.
"Untuk mempertahankan mutu, kita menyarankan jangan dijual ke pengepul. Kita sudah ada kelembagaan petani karet antara lain Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) yang menjual secara berkelompok melalui kemitraan atau lelang mingguan," jelas dia.
4. Libatkan sarjana untuk tingkatkan produksi karet dengan benar

Pemprov Sumsel pun sudah menurunkan 220 Sarjana Tenaga Pendamping Peningkatan Produksi Perkebunan (TP4) untuk membimbing petani dalam meningkatkan produksi dan mutu perkebunan. Ke-220 sarjana pertanian itu telah disebar ke seluruh kabupaten dan kota.
"Kepandaian dari para intelektual ini diharapkan dapat mendampingi para pekebun untuk meningkatkan produktifitas dan pendapatan petani," tutup dia.



















