Dinas Ketahanan Pangan Sidak, Jamin Kesehatan Kurban dengan SKKH

Palembang, IDN Times - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palembang bersama asosiasi dokter hewan, melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke lokasi penjualan hewan kurban di sepanjang jalan Soekarno Hatta Palembang. Sidak tersebut dilakukan untuk memastikan hewan kurban yang dijual masyarakat sehat dan sesuai syariat Islam.
"Sejak awal Juni 2020 kita sudah melakukan pemeriksaan hewan kurban ke para penjual. Mereka yang sudah diperiksa akan mendapat Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) yang ditandatangani otoritas kesehatan hewan," ungkap Kadis Ketahanan Pangan Palembang, Rabu (15/7/2020).
1. Banyak pedagang dadakan belum memastikan kesehatan hewan

Sidak yang dilakukan hari ini juga mengantisipasi banyaknya penjual hewan kurban dadakan menjelang Iduladha. Pada tahun lalu saja, Dinas Ketahanan Ketahanan Pangan mencatat ada 206 pedagang dadakan yang menjual hewan kurban. Kondisi ini harus diwaspadai, karena kesehatan hewannya tidak bisa teruji.
"Asosiasi yang kita bina sejauh ini ada 67 penjual. Masyarakat belilah kambing atau sapi di asosiasi karena kesehatan hewan lebih terjamin, dan sesuai dengan syarat," jelas dia.
Dengan banyaknya pedagang yang menjual dadakan, pemerintah mengkhawatirkan banyak kambing dan sapi yang dijual masih di bawah umur. Hal itu seharusnya tidak diperjualbelikan karena berdampak pada kesehatan hewan.
"Kemarin banyak kambing yang dijual di bawah umur. Padahal syarat kambing minimal usia satu tahun dan sapi masuk tahun ketiga. Kambing dan sapi yang sudah siap kurban dicirikan dengan tumbuh gigi tetap," beber dia.
2. Penjualan hewan kurban mengalami penurunan

Sayuti mengakui, sampai hari ini penjualan hewan kurban menurun drastis. Hal ini terjadi akibat Pandemik COVID-19 yang menyebabkan ekonomi menjadi lesu.
"Tahun lalu populasi sapi ada 6.600 ekor dan kambing ada 7.100 ekor. Namun nampaknya akibat pandemik ini agak menurun. Sebab saat kita cek di masjid-masjid masih sedikit kambing yang akan dikurbankan," jelas dia.
3. Pemeriksaan hewan kurban dilakukan untuk menghindari penyakit

Ketua Persatuan Dokter Hewan Indonesia Sumatra Selatan (PDHI Sumsel), drh. Jafrizal mengungkapkan, pihaknya memantau kondisi hewan kurban agar terhindar dari penyakit sejak awal di penjualan hingga usai dipotong. Biasanya hewan kurban sering terpapar penyakit Zoonosis atau cacing pita di dalam tubuh hewan.
"Pemeriksaan antemortem dilakukan saat ini sehingga dapat dicegah kalau hewan kurban memiliki penyakit. Lalu pemeriksaan postmortem juga akan dilakukan setelah dipotong. Sejauh ini kita belum menemukan ada hewan yang sakit seperti Antraks yang terjadi di Gorontalo dan sebagian Jawa," beber dia.
PDHI Sumsel mengimbau daging hewan kurban yang perlu dihindari adalah bagian hati. Sebab terkadang bagian tersebut mengandung cacing pita.
"Penyakit helminthiasis (cacing) ditakutkan berada di hati, tapi untuk daging aman. Sapi yang cacingan mudah terlihat dari matanya," jelas dia.
4. Pedagang akui ada penurunan penjualan jelang Iduladha

Sementara itu, pedagang hewan kurban bernama Julkafi Teman Gumay mengatakan, saat ini terjadi penurunan penjualan hewan kurban. Jika tahun lalu dirinya bisa menjual 36 ekor sapi dan 47 ekor kambing, maka pada tahun dirinya baru menjual 10 hewan kurban saja.
"Ini anjlok benar, biasanya 3 minggu sebelum Iduladha terjual 20 sampai 30 sapi dan kambing yang laku, tapi sekarang justru baru 8 sapi dan 2 kambing," beber dia.
Julkafi mengaku menjual sapi berjenis Simental, Bali dan lokal. Dari ketiga jenis sapi itu, yang biasanya paling laku adalah jenis Bali karena ukurannya yang lumayan besar namun harga yang terjangkau.
"Banyak orang yang penting beli murah. Makanya banyak yang tidak membeli sesuai syariat, belum waktu potong sudah dijual. Harga siap potong itu mencapai Rp30 juta, sedangkan sapi muda hanya Rp15 juta. Kita tidak jual yang masih muda," tandas dia.



















