Sumsel Risiko Inflasi usai Lebaran, Pancaroba April jadi Perhatian

- Bank Indonesia Sumsel mengingatkan potensi inflasi pascalebaran 2026 akibat pancaroba April yang bisa ganggu produksi dan distribusi pangan.
- BI Sumsel bersama pemerintah daerah memperkuat strategi 4K dan melakukan operasi pasar serta sidak untuk menjaga stabilitas harga komoditas penting.
- BPS mencatat inflasi Sumsel Maret 2026 sebesar 0,29 persen mtm, turun secara tahunan menjadi 3,09 persen yoy berkat koreksi harga emas dan subsidi transportasi.
Palembang, IDN Times - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Selatan, Bambang Pramono, mengingatkan pemerintah daerah untuk mengantisipasi kenaikan harga pascalebaran 2026. Apalagi, katanya, kondisi pancaroba pada April ini menjadi salah satu risiko inflasi bulanan.
"Faktor cuaca menjadi perhatian. Memasuki periode pancaroba April, curah hujan dengan karakteristik lokal berpotensi mengganggu produksi dan distribusi pangan, memicu kenaikan harga," ujarnya dalam rilis yang diterima, Jumat (3/4/2026).
1. Antisipasi inflasi April 2026 dengan memastikan pasokan pangan

Melihat potensi pancaroba yang diprediksi terjadi panjang pada April, Bambang pun menekankan pentingnya daerah untuk menjaga ketersediaan pasokan komoditas strategis seperti telur, daging ayam, cabai dan bawang.
"Ini untuk memastikan stabilitas harga terjaga," kata dia.
2. Strategi 4K jadi upaya tim pengendali inflasi jaga stabilitas harga

Bambang menyampaikan bahwa BI Sumsel sebagai salah satu tim pengendali inflasi juga terus memperkuat sinergi lewat strategi 4K untuk menjaga stabilitas harga pangan. Program ini meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif.
Hingga akhir Maret 2026, tim pengendali inflasi Sumsel, kata Bambang, telah melaksanakan 145 kegiatan operasi pasar murah serta 32 kali inspeksi mendadak untuk memastikan harga sesuai ketentuan dan stok tetap tersedia.
“Ke depan, kami bersama pemerintah daerah akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga inflasi tetap dalam sasaran serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” jelasnya.
3. Inflasi Sumsel Maret 2026 menurun

Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Sumsel pada Maret 2026 mengalami inflasi sebesar 0,29 persen secara month-to-month (mtm).
Namun, dari data tersebut, angka inflasi Sumsel menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Bahkan, secara tahunan atau year-on-year (yoy) inflasi juga turun menjadi 3,09 persen (yoy).
"Penurunan inflasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antaranya koreksi harga emas dan adanya kebijakan subsidi ongkos angkut dan tarif transportasi. Ini membantu meredam tekanan harga selama Ramadan dan Idul Fitri," kata Bambang.


















