Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Petani Karet Sumsel Nilai Program Hilirisasi Abaikan Bahan Baku

Petani Karet Sumsel Nilai Program Hilirisasi Abaikan Bahan Baku
Petani karet Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)
Intinya Sih
  • Apkarindo Sumsel menilai kebijakan hilirisasi karet terlalu fokus pada industri akhir dan mengabaikan masalah hulu, terutama penurunan bahan baku akibat kebun tua dan minimnya peremajaan.
  • Banyak petani karet di Sumsel beralih ke komoditas lain seperti sawit karena lebih cepat menghasilkan, menyebabkan luas lahan karet menyusut dan pasokan bahan baku industri menurun.
  • Apkarindo mendesak pemerintah memprioritaskan peremajaan kebun karet rakyat, memberi insentif bagi petani, serta memperkuat dukungan teknis agar sektor hulu tidak melemah di tengah dorongan hilirisasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Palembang, IDN Times - DPW Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumatra Selatan (Sumsel) menyoroti arah kebijakan pembangunan karet nasional dinilai terlalu berfokus pada hilirisasi. Langkah itu dianggap mengabaikan persoalan mendasar di sektor hulu, yakni ketersediaan bahan baku yang terus menurun.

"Sebagian besar kebun karet rakyat saat ini sudah memasuki usia tidak produktif, rentan terhadap hama dan penyakit. Tanpa peremajaan yang masif, produksi akan terus menurun dan tidak mampu memenuhi kebutuhan industri," jelas Sekretaris DPW Apkarindo Sumsel, Rudi Arpian, kepada IDN Times, Sabtu (4/4/2026).

1. Petani karet banyak beralih ke komoditas lain

Perkebunan karet Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)
Perkebunan karet Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)

Rudi mengatakan, kondisi karet di Sumsel menunjukan kondisi tren yang mengkhawatirkan. Selain luas kebun karet yang terus menurun, banyak petani karet yang akhirnya beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan seperti sawit.

"Petani tentu memilih komoditas yang lebih cepat memberikan pemasukan. Ini bukan semata-mata soal pilihan, tapi soal bertahan hidup," jelasnya.

2. Banyak pabrik akhirnya berhenti beroperasi

Petani karet Sumsel tengah menyadap hasil kebunnya (IDN Times/Rangga Erfizal)
Petani karet Sumsel tengah menyadap hasil kebunnya (IDN Times/Rangga Erfizal)

Rudi menyampaikan, kondisi ekonomi yang tak menentu membuat petani mengambil langkah rasional dalam berkebun. Pasalnya, tanaman sawit dapat dipanen dalam waktu sekitar tiga tahun, sementara karet membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan.

"Dampaknya terasa bagi industri pengelolaan karet di Sumsel banyak yang limbung. Pabrik banyak kekurangan bahan baku, kapasitas pabrik tidak sebanding dengan ketersedian karet dan bukan tidak mungkin industri (pabrik) karet di Sumsel akan mengalami penurunan drastis bahkan berhenti beroperasi," jelas dia.

3. Konsep hilirisasi pemerintah perlu juga memikirkan hulu

Getah Karet saat dikumpulkan (IDN Times/Rangga Erfizal)
Getah Karet saat dikumpulkan (IDN Times/Rangga Erfizal)

Apkarindo Sumsel menilai, apa yang terjadi di industri karet saat ini tak sejalan dengan langkah hilirisasi. Disatu sisi, lahan karet terus menurun diikuti hilangnya peran Indonesia sebagai produsen karet.

Untuk itu, asosiasi Ini mendesak pemerintah memprioritaskan program peremajaan karet rakyat secara besar-besaran, memberikan insentif bagi petani agar tetap bertahan di komoditas karet, serta memastikan ketersediaan sarana produksi dan pendampingan teknis di lapangan.

"Kami tidak menolak hilirisasi, justru mendukung penuh. Namun kami mengingatkan, hulu yang lemah akan menghancurkan hilir," jelasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More