Salma Gadis Asal Padang Belajar Sains di Kampus Luar Negeri, ini Impiannya

- Salma bercita-cita menjadi ilmuwan di bidang neuroscience untuk memberi dampak positif pada anak-anak dan orangtua, serta memahami otak manusia secara lebih utuh.
- Salma aktif mencari peluang beasiswa dan mengembangkan diri melalui kompetisi, kegiatan organisasi, proyek sosial, hingga bergabung dengan LSM di bidang pendidikan.
- Salma berhasil melanjutkan studi ke perguruan tinggi luar negeri setelah meraih berbagai macam beasiswa dan mendaftar ke puluhan universitas di beberapa negara.
Padang, IDN Times - Salma, warga Lubuk Kilangan, Padang, Sumatra Barat menjadi salah satu penerima Beasiswa Amartha Cendekia. Bantuan pendidikan diberikan ke siswa-siswi kelas 11 tingkat SMA/SMK di seluruh Indonesia.
Penerima beasiswa memperoleh bantuan dana pendidikan senilai Rp3 juta dan program mentoring persiapan menuju universitas selama satu tahun oleh kakak asuh dari kalangan profesional. Beasiswa ini juga memberikan dana pendidikan tambahan senilai Rp5 juta untuk anak-anak yang berhasil diterima di universitas.
Kini, Salma yang merupakan penerima Beasiswa Amartha Cendekia Batch 1 tengah menempuh pendidikan di Universitas Albukhary, Malaysia.
Salma mengaku ibunya Eny, membesarkan anak-anak dengan satu keyakinan kuat, yaitu pendidikan sebagai jalan untuk mengubah masa depan. Ia berupaya membuka ruang bagi anak-anaknya untuk tumbuh, bermimpi, dan meraih cita-cita.
“Ibu ingin anak-anak punya kesempatan yang lebih luas yaitu lewat pendidikan supaya mereka bisa mewujudkan impian mereka,” ujar Eny.
1. Bercita-cita jadi ilmuwan

Salma memiliki cita-cita sebagai peneliti di bidang neuroscience. Ia ingin membangun masa depan riset yang kuat secara akademik, sekaligus memberi dampak nyata, khususnya untuk anak-anak. Ketertarikan ini tumbuh dari pengalamannya semasa sekolah.
“Aku melihat masih banyak orang menilai kemampuan hanya dari peringkat atau siapa yang jadi nomor satu. Padahal, cara kerja otak manusia jauh lebih luas dari itu. Otak kita sangat adaptif dan itu yang membuatku semakin tertarik mempelajarinya,” ujar Salma.
Ia berharap riset yang dilakukan dapat membantu anak-anak tumbuh lebih sehat dan percaya diri, sekaligus mendorong orangtua untuk mendampingi anak tanpa menghakimi. “Aku juga bersyukur karena keluargaku, terutama orangtuaku sangat supportif dalam proses ini,” tambahnya.
Bagi Salma, neuroscience adalah bidang yang memberi ruang untuk memahami manusia secara lebih utuh. “Aku pengin belajar hard skill yang benar-benar inti. Di neuroscience, aku mau belajar memahami otak manusia bekerja dan bagaimana otak memproses serta menghubungkan berbagai hal,” katanya.
Ia pun memilih menekuni computer science karena melihat keterkaitan kuat dengan neuroscience sekaligus menawarkan pendekatan lebih teknis sesuai arah yang ingin didalami.
2. Aktif mencari peluang beasiswa
Untuk mewujudkan cita-citanya, Salma mencari jalan penuh inisiatif. Ia aktif mencari peluang beasiswa sebagai bagian dari langkah mandiri untuk menyiapkan masa depan akademik dan kariernya.
Ia pun terus mengembangkan diri melalui kompetisi, kegiatan organisasi, menjalankan proyek sosial atas inisiatifnya sendiri, hingga bergabung dengan LSM di bidang pendidikan.
Salma mengenal Beasiswa Amartha Cendekia dari keluarganya. Walau tidak berekspektasi tinggi, tapi saat dinyatakan lolos, ia menyebutnya sebagai salah satu titik penting dalam hidupnya.
“Aku sempat khawatir karena perjalanan akademikku kurang matang. Ternyata Amartha kasih kesempatan,” jelasnya.
Lebih dari sekadar dukungan pendidikan, Salma merasakan kehadiran kakak asuh menjadi ruang belajar yang membuka perspektifnya tentang masa depan dan karier.
“Kehadiran kakak asuh di Beasiswa Amartha bagi aku sangat berharga. Selama ini aku hanya dapat perspektif dari ibu. Dengan adanya kakak asuh, wawasan aku terhadap kesempatan meraih pendidikan tinggi, memahami dunia kerja, dan cara menyusun prioritas hidup jadi semakin terbuka,” jelasnya.
3. Jalan panjang menjadi scientist

Salma menjadi salah satu penerima beasiswa Amartha yang berhasil melanjutkan studi hingga perguruan tinggi. Ia diterima berbagai macam universitas di dalam dan luar negeri.
Di tengah proses tersebut, Salma mengaku sempat merasa putus asa ketika beberapa beasiswa yang diincar tidak membuka pendaftaran. Namun ia tidak berhenti mencoba. Ia mendaftar ke puluhan universitas di sejumlah negara seperti Kanada, Malaysia, dan Australia. Beberapa universitas ternama menerimanya, seperti Albukhary International University di Malaysia, University of Melbourne dan University of Toronto.
Ia memilih Albukhary International University, karena menawarkan program yang dinilai sesuai minatnya dan lokasi yang lebih dekat dengan Indonesia. Bagi Salma, kunci dari perjalanan panjang ini adalah memiliki tujuan yang jelas.
“As long as I have a purpose, I can do everything. Semuanya bisa masuk ke aku,” katanya.
Ia juga menyebutkan dukungan keluarganya sebagai bagian penting dari proses ini.
“Sejak awal orangtua transparan soal kondisi ekonomi keluarga. Aku nggak mau membebani orang tua. Dari awal aku pengen kuliah full scholarship dan belajar mandiri,” ujarnya.


















