Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ada Cacing dan Ulat di MBG Sekolah Musi Rawas, Ini Klarifikasi SPPG

Kab. Musi Rawas
Ada Cacing dan Ulat di MBG Sekolah Musi Rawas, Ini Klarifikasi SPPG
Potongan video penampakan ular dan cacing di menu MBG sekolah di Musi Rawas. (Dok. IDN Times)
Intinya Sih
  • Sayur dan buah merupakan produk alami, sehingga masih ada kemungkinan terbawa organisme dari lingkungan

  • Fokus perbaikan ada di tahap pencucian, penyortiran, dan cek akhir sebelum makanan dikemas dan dikirim ke sekolah

  • Dampak dari peristiwa tersebut, dua desa di Kecamatan STL Ulu Terawas kemudian menolak penyaluran MBG

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Musi Rawas, IDN Times – Sebuah video yang diambil di salah satu sekolah di Kecamatan STL Ulu Terawas, Musi Rawas, Sumsel, viral di media sosial. Rekaman tersebut memperlihatkan adanya cacing di selada dan ulat di sayur buncis yang merupakan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bahkan seekor cacing masih hidup dan menggeliat di sela-sela sayur. Sementara di video lainnya juga memperlihatkan seekor ulat berada di buah jeruk dan oseng tempe buncis di salah satu ompreng milik siswa.

Menanggapi hal ini, Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG Haza Al-Zein, Kecamatan STL Ulu Terawas, angkat bicara dan mengklarifikasi terkait adanya temuan cacing di daun selada dan ulat dalam paket MBG tersebut.

1. Sayur dan buah merupakan produk alami, ada kemungkinan terbawa organisme

Potongan video penampakan ular dan cacing di menu MBG sekolah di Musi Rawas.
Potongan video penampakan ular dan cacing di menu MBG sekolah di Musi Rawas. (Dok. IDN Times)

Kepala SPPG Haza Al-Zein, Septa Arya Nugraha, mengatakan pihaknya langsung merespons setiap aduan yang masuk. Hal itu merupakan bentuk tanggung jawab untuk menjaga mutu dan keamanan pangan bagi penerima manfaat.

"Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Setiap laporan kami jadikan evaluasi serius sesuai SOP yang berlaku," ujarnya Rabu (5/8/2026).

Ia menjelaskan, semua bahan pangan didapatkan dari supplier terpilih. Sayuran segar sebelum diolah wajib melalui tiga tahap, yakni sortir, cuci bersih, dan pengecekan ulang sesuai standar dapur SPPG.

"Sayur dan buah merupakan produk alami. Sehingga masih ada kemungkinan terbawa organisme dari lingkungan saat panen. Untuk itu, kami terus mengevaluasi dan memperketat pengawasan di setiap proses produksi agar kejadian serupa tidak terulang," ungkapnya.

Pihak SPPG Haza Al-Zein berkomitmen untuk meningkatkan layanan Program MBG. Selain evaluasi internal, dapur juga membuka ruang bagi sekolah, orang tua, dan penerima manfaat untuk memberi saran dan kritik.

"Dengan klarifikasi ini, kami berharap masyarakat mendapat informasi berimbang dan memberi kesempatan tim untuk melakukan perbaikan berdasarkan fakta di lapangan," jelasnya.

2. Korwil SPPG sebut dapur Haza Al-Zein selama ini rutin dipantau

Program makanan bergizi gratis yang menyediakan hidangan bernutrisi tanpa biaya bagi para penerima manfaat.
Program makanan bergizi gratis(IDN Times/Aditya Pratama)

Sementara Korwil SPPG Kabupaten Musi Rawas, Tommy, menegaskan dapur Haza Al-Zein selama ini rutin dipantau. Mulai dari penerimaan bahan, penyimpanan, memasak, hingga distribusi, semua mengacu pada SOP.

"Laporan tersebut akan jadi bahan evaluasi menyeluruh. Fokus perbaikan ada di tahap pencucian, penyortiran, dan cek akhir sebelum makanan dikemas dan dikirim ke sekolah. Kami melakukan monitoring berkala untuk memastikan kualitas dan keamanan makanan tetap terjaga," ungkapnya.

Tommy menyebut peristiwa tersebut bukan kejadian baru. Ia mengatakan peristiwa itu terjadi pada Jumat (24/7/2026) lalu. Namun, video tersebut kembali diunggah hingga akhirnya viral di media sosial.

"Itu video lama tapi baru diunggah baru-baru ini. Begitu menerima informasi tersebut, kami langsung memberikan teguran kepada pihak dapur SPPG selaku penyalur MBG," ujarnya.

Terkait jumlah sekolah yang terdampak, Tommy mengaku belum dapat memastikannya. Namun, berdasarkan surat yang diterima pihaknya, disebutkan terdapat SD dan SMP yang melaporkan adanya temuan cacing dan ulat tersebut.

"Kalau berdasarkan laporan, ada dua desa yang sekolahnya ada temuan itu di MBG siswa. Hanya saja, kami belum tahu sekolah yang mana saja. Untuk informasi ini masih akan diverifikasi lagi," ujarnya.

3. Dua desa di Kecamatan STL Ulu Terawas kemudian menolak penyaluran MBG

Ilustrasi menu makanan bergizi gratis berisi nasi, lauk, sayuran, buah, dan susu yang tersaji dalam wadah makan.
Ilustrasi menu makanan bergizi gratis.(IDN Times/Daruwaskita)

Dampak dari peristiwa tersebut, dua desa di Kecamatan STL Ulu Terawas kemudian menolak penyaluran MBG. Tommy mengatakan dua desa yang melakukan penolakan, yakni Desa Sukamana dan Desa Sukamerindu.

"Seluruh persoalan ini akan kami evaluasi, kami akan menelusuri kebenarannya, mulai dari pihak sekolah hingga pemerintah desa yang menyampaikan penolakan tersebut," katanya.

Ia menambahkan bahwa sejak surat penolakan diterima, distribusi MBG dihentikan sementara di wilayah tersebut. Penghentian itu diperkirakan telah berlangsung sekitar dua pekan. Sementara sekolah di wilayah lain yang tidak menyampaikan penolakan tetap menerima distribusi MBG seperti biasa.

"Untuk sanksi, kemungkinan akan diberikan apabila hasil evaluasi membuktikan adanya pelanggaran. Semua laporan dan kritik dari masyarakat tentu kami terima sebagai bahan evaluasi. Alasan penolakan memang terkait temuan cacing dan ulat tersebut," tegasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More