Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Polemik Pajak Yayasan IGM Marzuki Alie: Minta Pemkot Palembang Buka Ruang Dialog
Pendiri Yayasan Indo Global Mandiri (IGM) Marzuki Alie (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • Pendiri Yayasan IGM Marzuki Alie mempersoalkan banner Pemkot Palembang yang menyebut UIGM penunggak pajak, karena menilai persoalan utamanya adalah penerapan aturan pemerintah daerah.

  • Marzuki mengaku sulit bertemu Wali Kota Palembang Ratu Dewa untuk membahas masalah tersebut, padahal ia menilai sengketa ini seharusnya diselesaikan melalui komunikasi langsung.

  • Ia meminta Pemkot membuka ruang dialog dan informasi berimbang, serta menegaskan tidak takut membayar pajak; keberatannya terkait dugaan kesewenang-wenangan dalam penerapan aturan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Pendiri Yayasan Indo Global Mandiri (IGM), Marzuki Alie, mempersoalkan pemasangan banner yang menyebut lembaga pendidikan yang dipimpinnya tersebut sebagai penunggak pajak. Ia menilai persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut besaran pajak, melainkan cara pemerintah daerah menjalankan aturan.

Marzuki mengatakan, IGM sebagai lembaga pendidikan tetap tunduk pada ketentuan perundang-undangan. Menurutnya, anggaran dasar yayasan juga mengacu pada UU Yayasan yang mengatur bidang sosial, kemanusiaan, dan keagamaan.

"UIGM tunduk pada aturan undang-undang yang berlaku," ungkap Marzuki Alie di depan awak media, Jumat (30/10/2026).

1. Marzuki Alie mengaku sulit bertemu Wali Kota Palembang

Pendiri Yayasan Indo Global Mandiri (IGM) Marzuki Alie (IDN Times/Rangga Erfizal)

Marzuki Alie menilai persoalan pemasangan banner penunggak pajak tersebut seharusnya bisa dibicarakan melalui komunikasi antara kedua pihak. Namun, Marzuki mengaku kesulitan untuk bertemu dengan Wali Kota Palembang, Ratu Dewa.

"Susahnya setengah mati untuk bersilaturahmi. Bagaimana seorang pemimpin, baru mendapatkan sedikit jabatan, sudah sombong luar biasa," ujarnya.

Marzuki juga mengungkit hubungannya dengan Ratu Dewa sebelum menjabat sebagai Wali Kota Palembang. Ia mengungkapkan, Ratu Dewa pernah berkampanye di kediamannya dan dirinya turut mengundang sejumlah tokoh untuk hadir.

"Ratu Dewa ini berkampanye di rumah saya. Tapi sekarang hilang. Minta ketemu saja tidak mau. Kelewatan ya," katanya.

2. Marzuki minta Pemkot Palembang buka ruang dialog

Pendiri Yayasan Indo Global Mandiri (IGM) Marzuki Alie (IDN Times/Rangga Erfizal)

Marzuki menegaskan, dirinya ingin persoalan tersebut diselesaikan melalui pembicaraan dan duduk bersama kedua pihak. Ia juga menyinggung amanat konstitusi mengenai kewajiban negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, termasuk akses pendidikan hingga perguruan tinggi.

Menurutnya, pendidikan harus dapat diakses secara gratis hingga perguruan tinggi agar masyarakat memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup dan menjamin masa depan generasi berikutnya.

"Mencerdaskan kehidupan bangsa itu amanat konstitusi, harus dilakukan pemerintah. Pendidikan harus gratis sampai perguruan tinggi. Itu UU, itu konstitusi. Biar apa? Anak-anak kita cerdas, masa depannya terjamin, masyarakat di desa maju, jangan justru diusik," ungkapnya.

Ia juga mempersoalkan pemasangan banner yang dinilainya perlu diimbangi dengan kesempatan bagi pihak UIGM untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.

"Ini sudah macam-macam, masang spanduk. Kalau mau masang spanduk, izinkan kami memasang informasi yang seimbang," katanya.

3. Akui tidak takut untuk membayar pajak

Polemik PBB IGM Palembang: Klaim Bebas Pajak vs Tunggakan Rp2,33 M (Dok. IDN Times)

Lebih lanjut, Marzuki menegaskan, keberatannya bukan terletak pada besaran pajak yang harus dibayarkan. Ia justru mempersoalkan dugaan kesewenang-wenangan pemerintah daerah dalam menerapkan aturan.

"Ini bukan masalah besaran pajak, tapi masalah kesewenangan dalam menjalankan aturan," tuturnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article