Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pemprov Sumsel Pertimbangkan Liburkan Sekolah Jika Kabut Asap Memburuk
Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)
  • Pemprov Sumsel mempertimbangkan meliburkan sekolah dan menghentikan sementara perkantoran jika ISPU memburuk hingga tidak dapat ditoleransi, demi mencegah paparan udara tidak sehat.
  • Gubernur Herman Deru menyebut kualitas udara Sumsel mulai menurun, namun masih dalam ambang toleransi; pemerintah fokus memadamkan api untuk menekan dampak asap.
  • Penanganan karhutla tetap mendapat dukungan sumber daya tanpa terhambat efisiensi anggaran, sementara kekeringan El Nino membuat lahan mengering dan lebih mudah terbakar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) membuka kemungkinan menghentikan sementara kegiatan sekolah dan perkantoran jika kualitas udara terus menurun. Kondisi ini harus diantisipasi guna mencegah dampak negatif pada kesehatan masyarakat secara luas.

"Kalau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sudah tidak bisa ditoleransi, tentu kita ambil kebijakan," ungkap Gubernur Sumsel, Herman Deru, Kamis (12/8/2026).

1. ISPU masih diambang batas

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)

Deru mengakui, dalam beberapa waktu terakhir kondisi udara di Sumsel mulai memburuk. Sejumlah upaya telah dilakukan pemerintah yang berfokus pada pemadaman api untuk mengantisipasi dampak asap yang lebih parah.

"Kita tidak mau anak-anak atau kita semua ini terpapar akibat ISPU yang tidak sehat. Tapi selama ini masih di ambang batas yang bisa ditoleransi," jelas dia.

2. Anggaran penanganan karhutla dinilai tidak terbatas

Kondisi kabut asap menyelimuti perairan Sungai Musi kota Palembang, Rabu 12 Agustus 2026. ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI

Deru menjelaskan, penanganan Karhutla di Sumsel tidak akan terhambat oleh efisiensi anggaran yang terjadi. Pemerintah akan tetap mengerahkan sumber daya yang dibutuhkan untuk menangani karhutla, termasuk ketika kondisi di lapangan membutuhkan penanganan lebih besar.

"Kalau untuk penanganan karhutla, kita unlimited," ucapnya.

3. Penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)

Menurut Deru, penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak karena kebakaran dapat terjadi kapan saja dan di lokasi yang sulit dipantau secara langsung.

Informasi mengenai kebakaran biasanya diperoleh pemerintah melalui sistem pemantauan sebelum petugas dikerahkan ke lokasi untuk melakukan pemadaman.

"Kadang datangnya tengah malam. Baru bisa dikerjakan setelah kita mendapat informasi dari aplikasi yang kita miliki," ujarnya.

4. Kondisi lahan mulai mengering

Kondisi kabut asap menyelimuti perairan Sungai Musi kota Palembang, Rabu 12 Agustus 2026. ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI

Di sisi lain, Deru mengakui kondisi lahan semakin mengering seiring kekeringan yang terjadi akibat El Nino. Di lapangan, kondisi yang sebelumnya masih memiliki genangan, endapan air, maupun lumpur basah kini mulai mengering sehingga lahan lebih mudah terbakar.

"Sekarang kita sadari saat ini kering. El Nino ini kemaraunya adalah kemarau kering. Yang biasanya terdapat endapan, genangan, lumpur basah, saat ini sudah mulai mengering," bebernya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article