Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kabut Asap Mulai Terasa, Dinkes Sumsel Waspadai Lonjakan ISPA

Kota Palembang
Kabut Asap Mulai Terasa, Dinkes Sumsel Waspadai Lonjakan ISPA
Kondisi kabut asap menyelimuti perairan Sungai Musi kota Palembang, Rabu 12 Agustus 2026. ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI
  • Dinkes Sumsel mewaspadai lonjakan ISPA pada Agustus 2026 setelah kabut asap mulai terasa, sementara data Juli masih dalam proses penginputan di fasilitas kesehatan.
  • Kasus ISPA 2026 cenderung menurun dari 50.651 pada Januari menjadi sementara 23.714 pada Juli, jauh di bawah 46.792 kasus pada Juli 2025.
  • Karhutla memicu 142 hotspot pada 11 Agustus dan 7.050 titik kumulatif; Sumsel menyiagakan 11.567 personel serta mengingatkan perlindungan anak-anak dan lansia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times - Kabut asap mulai terasa di sejumlah wilayah Sumatra Selatan (Sumsel) memasuki puncak musim kemarau. Kondisi ini membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel mewaspadai potensi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang Agustus 2026.

Penanggung Jawab Program ISPA dan Pneumonia Dinkes Sumsel, Murni, mengatakan pengaruh kabut asap terhadap kasus ISPA belum dapat terlihat dari data Juli karena laporan dari sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan masih dalam proses penginputan.

"Belum bisa saya pastikan kalau data Juli naik atau tidak, karena data bulan Juli masih running. Belum semua pelayanan kesehatan entri data laporan," ungkap Murni, Kamis (12/8/2026).

  1. 1. Agustus diperkirakan naik

    Asap tebal membubung dari kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan.
    Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)

    Menurutnya, potensi peningkatan justru perlu diantisipasi pada Agustus. Sebab, dalam beberapa pekan terakhir mulai terpantau adanya kiriman kabut asap yang dapat memperburuk kualitas udara dan memicu gangguan pernapasan.

    "Kalau Agustus kemungkinan iya naik, karena adanya kiriman kabut asap mulai minggu-minggu ini baru terasa," ujarnya.

    Data sementara Dinkes Sumsel mencatat kasus ISPA sepanjang 2026 sebenarnya menunjukkan kecenderungan menurun. Pada Januari terdapat 50.651 kasus, Februari 51.115 kasus, Maret 45.385 kasus, April 43.503 kasus, Mei 35.061 kasus, Juni 34.511 kasus dan Juli sementara 23.714 kasus.

    Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, kasus ISPA pada Juli 2025 bahkan mencapai 46.792 kasus. Artinya, data sementara Juli 2026 masih berada jauh di bawah catatan tahun lalu.

  2. 2. Sumsel masuki puncak kemarau

    Asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan menyelimuti kawasan Kertapati di Palembang, mengurangi jarak pandang.
    Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)

    Senada, Kepala Pelaksana BPBD Sumsel Muhammad Iqbal Alisyahbana mengatakan peningkatan karhutla tersebut juga diikuti oleh tingginya jumlah titik panas.

    Pada 11 Agustus 2026, sebanyak 142 hotspot terdeteksi tersebar di hampir seluruh wilayah Sumsel. Secara kumulatif, jumlah hotspot sejak 1 Januari hingga 10 Agustus 2026 mencapai 7.050 titik.

    Kondisi semakin mengkhawatirkan karena 2.145 titik panas di antaranya muncul hanya dalam 10 hari pertama Agustus.

    OKI, Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Ilir dan Muara Enim tercatat sebagai wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak. Sejumlah kawasan gambut, terutama di OKI, juga mulai mengalami kekeringan berdasarkan hasil patroli udara.

    "Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September dan kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan," kata Iqbal, Selasa (11/8/2026).

  3. 3. Kelompok rentan diminta waspada

    Asap tebal membubung dari kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Kertapati di Palembang.
    Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)

    Menghadapi ancaman tersebut, pemerintah Sumsel menyiagakan 11.567 personel gabungan untuk menangani karhutla. Kekuatan itu melibatkan BPBD, TNI, Polri, Lanud, Manggala Agni, Satpol PP, Polisi Kehutanan, Masyarakat Peduli Api, kelompok tani, regu pemadam kebakaran hingga unsur perusahaan.

    Selain fokus memadamkan api, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk.

    "Kami pun mengingatkan perlunya perlindungan lebih terhadap kelompok rentan, terutama anak-anak dan lansia, apabila kualitas udara memburuk akibat asap karhutla," kata Iqbal.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More