Padi Apung Disebut jadi Inovasi Baru Penguatan Pangan Sumsel

- Sumatra Selatan mengembangkan program Padi Apung sebagai inovasi pertanian di atas air untuk mengoptimalkan lahan rawa tergenang dan memperkuat pangan daerah.
- Program yang telah berjalan dua tahun ini didukung Bank Indonesia melalui media tanam apung, lalu dikembangkan di Kawasan Potensial Jakabaring.
- Optimalisasi rawa lebak lewat cetak sawah dan Padi Apung ditargetkan mengurangi risiko karhutla serta menjaga produktivitas pangan saat kekeringan atau El Nino.
Palembang, IDN Times - Sumatra Selatan berupaya mengoptimalkan lahan potensial dalam langkah penguatan pangan daerah. Salah satu program yang sedang dikembangkan adalah Padi Apung. Program tersebut diyakini menjadi lambang keberhasilan pertanian sekaligus inovasi baru dalam pengembangan lahan rawa tergenang.
"Selain pencetakan sawah konvensional, saat ini dinas pertanian juga mengembangkan inovasi pertanian di atas air lewat padi apung," ujar Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono, Minggu (20/9/2026).
1. Lokasi padi apung berada di area Jakabaring

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Diketahui program Padi Apung sudah berjalan selama dua tahun dan mendapatkan dukungan dari Bank Indonesia. Dukungan itu berupa media tanam apung yang sudah diterima dan sekarang masuk dalam proses pengembangan di Kawasan Potensial Jakabaring.
“Kita di September 2025 melakukan gebyar perbenihan mengundang seluruh stakeholder terkait dan program yang kita tonjolkan adalah Padi Apung," kata dia.
2. Harap potensi lahan rawa lebak dapat mengatasi kekeringan

Lahan pertanian di Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan (IDNTimes/Wira Sanjiwani) Menurut Bambang, proses pengembangan Padi Apung di Jakabaring merupakan salah satu bukti nyata pemanfaatan lahan rawa lebak menjadi area pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
"Dengan mengoptimalkan lahan rawa lebak, baik melalui cetak sawah maupun inovasi Padi Apung, diharapkan dua masalah bisa diselesaikan sekaligus. Yaitu mengurangi risiko karhutla sekaligus meningkatkan ketahanan pangan di wilayah rawa," jelasnya.
3. Sumsel memiliki 73 persen lahan rawa lebak potensial

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Sebelumnya, Bambang menyampaikan, optimalisasi lahan rawa lebak menjadi salah satu opsi dalam kondisi kekeringan dan karhutla karena area tersebut dapat diandalkan sebagai lahan produktif ketika lahan irigasi teknis mengalami kekeringan atau saat terjadi fenomena El Nino.
Lahan rawa lebak merupakan dataran rendah berbentuk cekungan di pedalaman yang tergenang air secara periodik minimal selama satu bulan dalam setahun. Lahan ini sangat bermanfaat sebagai cadangan lumbung pangan nasional untuk mendukung ketahanan pangan di Indonesia.
Tercatat, Sumsel kini memiliki lebih dari 73 persen lahan rawa dari keseluruhan luasan area produktif tanam.


















