Kisah Sukses Pro Player Free Fire Sumsel: Dulu Putus Sekolah Kini Juara 3 Dunia

- Rafik Hidayat, pro player Free Fire asal Musi Banyuasin, sempat putus sekolah demi fokus meniti karier e-sports dan akhirnya meraih ijazah lewat paket C.
- Meski awalnya tidak mendapat restu keluarga, Rafik membuktikan keseriusan dan ketekunannya hingga berhasil menjadi juara tiga dunia di ajang Esports World Cup 2025 di Riyadh.
- Saat ini Rafik bergabung dengan tim Bigetron by Vitality, sukses mengharumkan nama Sumsel serta mampu memberangkatkan orangtuanya umrah dan berinvestasi dari hasil prestasinya.
Palembang, IDN Times - Gaya bicaranya santai, tapi tatapan mata Rafik Hidayat penuh rasa antusiasme. Mengawal obrolan ramah dengan reporter IDN Times, Rafik adalah Pro Player Free Fire asal Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Pria kelahiran 20 Januari 2003 ini tersenyum kecil ketika mengisahkan perjalanan gaming e-sports-nya dari perjuangan awal hingga puncak tertinggi.
Rafik dengan nama panggung Kojaaa, ternyata pernah putus sekolah. Saat itu, ia tak sempat menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA karena harus fokus meniti karier sebagai pemain Free Fire pemula. Ia memilih berhenti dari sekolah dan menerima tawaran pelatih profesional Free Fire, Loren.
Harapannya agar sukses di industri game. Mujur, Rafik kini bisa membuktikan pilihannya tepat. Sekarang Rafik berhasil jadi putra Sumsel dengan mengemban prestasi juara tiga dunia Pro Player Free Fire.
"Tapi saya kejar paket C, tetap lulus SMA," ujar Rafik dengan bangga sembari menunjukkan jersey merah kebanggaannya sebagai pemain andalan tim Bigetron by Vitality di ruang media center Turnamen Free Fire Nusantara Series 2026 (FFNS) di PSCC Palembang, Minggu (5/4/2026).
1. Fokus gaming Free Fire dari tahun 2017

Rafik sejak tahun 2017 memang gemar bermain gadget. Ia sangat tertarik dengan permainan Free Fire. Katanya, seru dan menegangkan. Dia mengaku kecanduan Free Fire. Bahkan, orang tuanya pun sempat tak menyetujui hobi Rafik. Kala itu, dia dinilai hanya kecanduan permainan tanpa ada hasil.
Namun, di balik rasa gemarnya terhadap gaming, Rafik mulai mencari tahu peluang bermain Free Fire. Apalagi, industri gaming ketika itu memang sedang ramai dan populer di kalangan anak muda. Sebagai Gen Z, Rafik tak menutup mata terhadap potensi fantastis dari turnamen. Ia yakin bila serius pasti ada timbal balik luar biasa.
Ketekunannya membuahkan hasil, dari ikut turnamen lokal yang ia cari tahun mandiri. Ternyata ia berhasil menang. Dilihat dari kemampuan Rafik bermain, salah seorang pelatih e-sport Free Fire pun tertarik dengan semangat dan keseriusannya. Dia pun ditawarkan untuk bergabung dalam tim untuk mengikuti kompetisi dunia.
Bingung membagi waktu antara latihan gaming yang intens hingga 8-10 jam dan harus menjalani sekolah formal, Rafik memutuskan berhenti sekolah di usia produktif saat ia duduk di kelas 2 SMA.
"Saya menerima tawaran (jadi pro player e-sports) jadi setop sekolah. Tapi saya tetap mendapatkan ijazah dari paket C," kata dia.
2. Memulai gaming Free Fire di kampung

Memilih berhenti dari pendidikan formal di waktu mudanya, Rafik mengaku kesulitan mendapatkan dukungan dari sang ibu. Bahkan, kala meminta izin untuk jadi pro player, ia disebut sebagai anak yang tidak patuh dan dicap sebagai anak pembangkang.
Tetapi kejadian itu tak menyurutkan semangat Rafik mengejar cita-cita ke level kompetisi dunia. Kata dia, makin yakin dan optimistis terhadap suatu target, makin besar upayanya agar tidak gagal dan membuktikan keberhasilan.
"Dulu sempat dikekang sama keluarga. Katanya gak layak di e-sport. Awal mulai main juga, cum pemain biasa, pemain kecil-kecilan di kampung. Sampai akhirnya karena kemampuan, saya dilirik, coach profesional," jelasnya.
3. Rafik berhasil berangkatkan umrah keluarga dan beli kebun sawit

Mulai usia 19 tahun, Rafik perlahan meniti karier di dunia e-sports. Meski diawali dengan kondisi buruk karena tidak mendapat restu orang tua, keseriusan dan ketekunan Rafik melahirkan prestasi. Pada 2025, ia menjadi juara tiga dunia pro player Free Fire.
Dia berhasil membawa Sumsel ke kelas dunia saat bertanding dengan negara lainnya di Arab Saudi. Rafik mengharumkan tanah kelahirannya lewat kesuksesan turnamen Esports World Cup (EWC) 2025 Free Fire di Riyadh.
"Alhamdulillah, sekarang saya sudah bisa (membuktikan) bisa menghasilkan (dari Free Fire)," ujar Rafik.
Kini pemain andalan Bigetron by Vitality bahkan sudah bisa membawa orang tuanya berangkat umrah dan telah menyimpan investasi masa depan. Hasil kemenangan dia di kelas dunia, ia menyimpan dalam bentuk aset tanah di Sumsel serta membangun bisnis perkebunan dari komoditas kelapa sawit.
"Alhamdulillah, keluarga bisa berangkat umrah, sudah beli tanah dan punya kebun sawit," kata dia.
Rafik menegaskan, untuk bisa berada di levelnya, pemula pro player jangan cepat puas. Kejar prestasi hingga akhir dengan latihan secara konsisten, yakin atas kemampuan diri serta selalu mengevaluasi performa setiap selesai mengikuti turnamen dan kompetisi baik di kelas lokal, nasional maupun internasional.
"Sekarang saya latihan banyakin main, main dari jam 1 siang sampai jam 10 malam. Terus evaluasi dan ingat kata Ibu, tetap harus jaga salat. Jangan lupa salat," jelasnya.



















