Karhutla Sumsel Tembus 210 Kasus, Muba dan PALI Zona Merah

Hasil patroli darat dan udara ada 6 temuan titik api
Memasuki musim kemarau pada Mei dan Juni, kejadian karhutla meningkat tajam
Muba dan PALI masuk zona merah karena lebih dari 30 kejadian
Musi Banyuasin, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat sebanyak 210 kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah terjadi di berbagai kabupaten dan kota hingga 29 Juni 2026.
Dari ratusan kejadian tersebut, peningkatan paling signifikan terjadi pada Mei dan masih berlanjut sepanjang Juni. Ditambah peningkatan hotspot sebanyak 45 titik dari data Sipongi Kemenhut diakses, Selasa (30/6/2026) pukul 05.00 WIB.
1. Musim kemarau pada Mei dan Juni, kejadian karhutla meningkat tajam

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan sepanjang Januari-April jumlah kejadian karhutla masih relatif rendah, yakni hanya 11 kejadian. Namun, memasuki musim kemarau Mei dan Juni, angka kejadian meningkat tajam.
"Total karhutla sampai 29 Juni sebanyak 210 kejadian. Paling banyak terjadi pada Juni, yakni ada 108 kejadian di lahan seluas 305,39 hektare. Potensi kemudahan terjadinya kebakaran sangat mudah atau very high pada lapisan atas permukaan tanah," ujarnya, Selasa (30/6/2026).
2. Muba dan PALI masuk zona merah karena lebih dari 30 kejadian

Sudirman menambahkan, tercatat dua daerah masuk dalam zona merah karhutla yakni Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Penetapan dilakukan setelah jumlah kasus karhutla di dua daerah tersebut lebih dari 30 kejadian selama musim kemarau tahun ini
"Kedua daerah tersebut sudah lebih dari 30 kejadian karhutla. PALI menjadi daerah dengan jumlah karhutla terbanyak, mencapai 45 kejadian. Sementara Muba berada 35 kejadian," jelasnya.
Selain dua wilayah tersebut, BPBD juga menetapkan empat daerah dalam kategori zona oranye atau wilayah dengan tingkat kejadian karhutla antara 15 hingga 30 kali. Keempat daerah tersebut yakni Ogan Ilir dengan 27 kejadian, Muara Enim sebanyak 24 kejadian, Musi Rawas Utara (Muratara) dan Banyuasin masing-masing 16 kejadian.
"Daerah yang masuk zona oranye juga menjadi perhatian karena jumlah kejadian karhutlanya sudah cukup tinggi dan berpotensi meningkat apabila tidak dilakukan langkah pencegahan," tegasnya.
Dari lima daerah itu, seluruhnya telah menetapkan status siaga karhutla. Sementara untuk status zona kuning (1-15 kejadian), berada di OKU 12 kejadian, Mura 8 kejadian. Kemudian di OKI, Prabumulih, dan Palembang masing-masing 6 kejadian, OKU Timur 3 kejadian, serta Lubuklinggau 1 kejadian.
"Pagar Alam, Empat Lawang, OKU Selatan, dan Lahat belum terlaporkan adanya kejadian karhutla," jelas Sudirman.
3. Hasil patroli darat dan udara ada enam temuan titik api

Sementara hasil patroli udara dan darat pada 29 Juni menunjukkan temuan titik api sebanyak enam titik. Rinciannya, Banyuasin dua titik, Ogan Ilir dua titik dan Muara Enim dua titik.
BPBD juga menyiapkan satu unit pesawat Cessna untuk patroli, satu unit helikopter patroli, dan empat unit helikopter water bombing. Meski demikian, BPBD Sumsel tetap mengingatkan seluruh pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau.
Sebab, potensi terjadinya karhutla diperkirakan masih cukup tinggi dalam beberapa waktu ke depan. "Kami terus mengimbau pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan. Upaya pencegahan harus terus diperkuat agar jumlah kejadian tidak terus bertambah," ucap Sudirman.



















