Dampak Kemarau di Ogan Ilir, Petani Karet Keluhkan Getah Berkurang

- Kemarau mulai mengeringkan kebun karet di Ogan Ilir; pohon menggugurkan daun dan hasil sadapan getah dilaporkan berkurang.
- Produksi lateks dipengaruhi umur tanaman, klon, tanah, kesehatan, penyadapan, dan curah hujan; petani diminta tidak berlebihan memakai stimulan.
- BMKG memperkirakan puncak kemarau Sumsel terjadi pada Agustus 2026, sehingga petani perlu memantau tanaman dan mencatat perubahan produksi getah.
Palembang, IDN Times - Musim kemarau mulai dirasakan petani karet di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan (Sumsel). Sejumlah petani melaporkan kondisi kebun yang semakin kering, pohon mulai menggugurkan daun hingga hasil sadapan getah mulai berkurang.
Petani di Desa Tanjung Lalang, Kecamatan Payaraman menyebut kemarau mulai memengaruhi kondisi tanaman di kebun. "Cuaca di musim kemarau harus menjadi perhatian karena secara umum kondisi saat ini agak kering, sehingga masyarakat diminta meningkatkan dampak kekeringan," ungkap Sekjen Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumsel, Rudi Arpian, Selasa (18/8/2026).
1. Daun karet mulai berguguran

Petani karet Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal) Tanaman karet membutuhkan air untuk mendukung pertumbuhan dan produksi lateks. Saat kondisi tanah semakin kering, tanaman bisa mengalami tekanan yang memengaruhi hasil getah. Kekeringan juga dapat membuat pohon karet menggugurkan daun. Jika kondisi terjadi cukup berat, proses pertumbuhan tanaman hingga produksi lateks bisa ikut terganggu.
"Turunnya produksi ini disebabkan banyak faktor seperti umur tanaman, jenis klon, kondisi tanah, kesehatan tanaman hingga sistem penyadapan dan curah hujan di masing-masing wilayah yang dapat memengaruhi hasil produksi," ungkap Rudi.
2. Petani diminta tidak memaksakan jumlah produksi

Petani karet Sumsel tengah menyadap hasil kebunnya (IDN Times/Rangga Erfizal) Menurut Rudi, musim kemarau tidak otomatis membuat produksi karet turun. Hasil sadapan dipengaruhi banyak faktor, termasuk kondisi tanaman dan aktivitas penyadapan. Saat hasil getah berkurang, petani diminta tidak langsung memaksakan produksi dengan menggunakan obat perangsang atau stimulan secara berlebihan.
"Stimulan itu bukan pengganti air bagi tanaman. Perlu penyesuaian perawatan tanaman seperti mengurangi gulma, mempertahankan penutup tanah, dan memantau kondisi pohon saat daun berguguran," jelasnya.
3. Puncak kemarau diperkirakan terjadi bulan ini

Perkebunan karet Sumsel (IDN Times/Istimewa) BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Sumsel cenderung lebih kering dari kondisi normal. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus.
Kondisi ini membuat petani karet perlu memantau kondisi tanaman dan hasil sadapan. Jika produksi getah mulai berkurang, petani perlu mencatat hasilnya untuk mengetahui seberapa besar penurunan yang terjadi. "Dengan begitu, dampak kemarau terhadap petani karet tidak hanya menjadi keluhan, tetapi bisa diketahui secara jelas melalui data produksi di lapangan," jelasnya.















.jpg)

