Harga Karet Sumsel Awal Mei Naik Stabil

- Harga karet global awal Mei 2026 stabil di level tinggi setelah penguatan sepanjang April, meski laju kenaikan mulai melambat menurut Apkarindo Sumsel.
- Data SGX-Sicom menunjukkan harga karet mencapai 214,8 US sen per kilogram atau sekitar Rp37.141 per kilogram untuk kadar karet kering 100 persen.
- Kepercayaan pasar terhadap karet Indonesia menjaga kestabilan harga, sementara kualitas produksi tetap jadi faktor utama penentu pendapatan petani.
Palembang, IDN Times - Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) mencatat harga karet global pada awal Mei 2026 bergerak stabil di level tinggi. Kondisi ini terjadi setelah penguatan sepanjang April, sehingga harga mampu bertahan meski laju kenaikan mulai melambat.
"Memasuki awal Mei, harga karet global bergerak stabil di level tinggi setelah penutupan April yang kuat," ungkap Sekjen Apkarindo Sumsel, Rudi Arpian, kepada IDN Times, Senin (4/5/2026).
1. Tren kenaikan harga karet tak segaresif sebelumnya

Rudi menjelaskan bahwa harga karet terbaru dapat dilihat berdasarkan data SGX-Sicom yang naik mencapai 214,8 US sen per kilogram. Dengan kurs Rp17.291 per dolar AS, harga kadar karet kering (KKK) 100 persen berada di level Rp37.141 per kilogram.
"Tren kenaikan harga karet masih kuat, namun tidak seagresif sebelumnya," jelasnya.
2. Kenaikan harga karet tak lepas dari kepercayaan pasar

Menurut Rudi, di tengah kondisi pergerakan harga yang cenderung datar, pasar karet saat ini mampu bertahan meski tidak lagi seagresif sebelumnya. Hal ini tidak terlepas dari kepercayaan pelaku pasar terhadap karet Indonesia.
"Dengan tren penguatan yang masih berlanjut, pelaku usaha dan petani diharapkan tetap menjaga kualitas produksi. Konsistensi mutu bokar menjadi faktor kunci agar momentum kenaikan harga global benar-benar berdampak pada peningkatan pendapatan di tingkat petani," jelasnya.
3. Harga karet berdasar kualitas

Sebagai gambaran, harga karet dengan KKK 70 persen berada di kisaran Rp25.999 per kilogram, sementara KKK 50 persen sekitar Rp18.571 per kilogram. Selisih tersebut menunjukkan bahwa kualitas masih menjadi faktor utama dalam menentukan besaran pendapatan petani.
Selain itu, harga yang beredar juga belum memperhitungkan biaya produksi, sehingga keuntungan bersih yang diterima petani dapat berbeda di setiap daerah.

















