Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sriwijaya FC Turun ke Liga 3 Usai Musim Tanpa Kemenangan

Sriwijaya FC Turun ke Liga 3 Usai Musim Tanpa Kemenangan
Otto Kapisa pemain Sumsel United eks Sriwijaya FC (Dok. Instagram Otto Kapisa)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
  • Sriwijaya FC resmi terdegradasi ke Liga 3 musim 2025/2026 setelah menutup kompetisi tanpa kemenangan dan kekalahan terakhir 4-0 dari Adhyaksa FC Banten.
  • Dari total 27 laga, Sriwijaya FC hanya meraih dua hasil imbang dan menelan 25 kekalahan, mencatat performa terburuk sepanjang sejarah klub akibat masalah internal dan finansial.
  • Klub legendaris asal Palembang ini kini terlilit utang sekitar Rp42 miliar, kehilangan investor, dan harus berjuang membangun kembali kejayaan yang pernah diraih pada era emas 2007–2012.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Palembang, IDN Times - Sriwijaya FC (SFC) resmi menutup kompetisi Pegadaian Championship 2025/2026 dengan hasil memilukan. Klub legendaris yang dikenal gagah pada masa kejayaannya terpaksa mengakhiri musim tanpa satu pun kemenangan. Tim berjuluk Laskar Wong Kito pamit dengan gelar degradasi ke kasta Liga Nusantara (Liga 3).

Sriwijaya FC menyelesaikan semua laga Grup 1 Wilayah Barat dan menutup pertandingan dengan kekalahan telak 4-0 saat dijamu Adhyaksa FC Banten. Skuad Elang Andalas tersingkir dari Liga 2 di Banten International Stadium, Kabupaten Serang, 2 Mei 2026.

1. Sriwijaya FC kalah telak di laga terakhir

Pemain Sriwijaya FC musim kompetisi Pegadaian Championship 2025/2026 (Dok. Sriwijaya FC).jpg
Pemain Sriwijaya FC musim kompetisi Pegadaian Championship 2025/2026 (Dok. Sriwijaya FC)

Saat bertemu klub asal Banten itu, Sriwijaya FC sudah kalah di awal. Sebab tuan rumah terus menggempur pertahanan sejak menit awal. Adhyaksa FC membobol gawang Laskar Wong Kito secara bertubi. Empat gol mereka diraih tanpa balas dari Elang Andalas.

Gol dari Adhyaksa FC dicatatkan oleh Rafly (22') (80'), Ramiro Fergonzi (73') dan Rafly Angga (90+2). Meski menang, Adhyaksa FC tetap tak mampu mengkudeta Garudayaksa FC dari puncak klasemen Grup A. Sehingga, Adhyaksa FC jadi runner up Grup A dan masih akan bertarung demi bisa mendapatkan satu tiket tersisa ke Liga 1 musim depan.

2. Sriwijaya FC sudah terlihat degradasi sejak Februari 2026

Sriwijaya FC
Pemain Sriwijaya FC (dok. Media officer untuk IDN Times)

Sementara nasib Sriwijaya FC pada musim ini jadi kondisi paling rendah. Hingga akhir musim reguler pada Mei 2026, catatan statistik Laskar Wong Kito sangat memprihatinkan. Dari 27 laga, Sriwijaya FC hanya mampu meraih hasil 2 kali seri dan 25 pertandingan lainnya menelan kekalahan. Klub cuma bisa mengantongi 2 poin sepanjang kompetisi.

Bahkan kekalahan terbesar Sriwijaya FC sempat mereka dapatkan. Yakni dibantai habis oleh Adhyaksa FC pada putaran pertama dengan skor 15-0. Kondisi klub yang kian buruk ini tak terlepas dari keadaan internal tak stabil. Masalah finansial hingga persoalan struktur kepengurusan pun jadi penyebab utama Sriwijaya FC keos.

Berdasarkan pencapaian, sebenarnya Sriwijaya FC sudah gagal dan dipastikan degradasi sejak Februari 2026 usai kalah dari klub se-provinsi Sumsel United. Namun setelah pertandingan tersebut, Laskar Juaro masih harus profesional menyelesaikan sisa laga.

3. Kondisi krisis Sriwijaya FC picu klub degradasi

Sfc
Sriwijaya FC (Dok. Media Officer)

Melihat riwayat dan kondisi klub yang krisis, prestasi Sriwijaya FC makin merosot dipengaruhi karena manajemen kesulitan mendapatkan investor baru. Klub dikabarkan memiliki utang hingga Rp42 miliar. Masalah ini kian menyulitkan langkah Sriwijaya FC untuk berbenah dan bangkit dari keterpurukan. Sekarang? Sriwijaya FC resmi berada di Liga 3. Klub yang dahulu disegani hanya menyisakan kenangan tentang masa kejayaan.

Namun jika melihat sejarah panjang pemilik gelar double winner, Sriwijaya FC memang mempunyai kharisma. Tim yang lahir pada 23 Oktober 2004 saat Pemerintah Provinsi Sumsel dipimpin Gubernur Syahrial Oesman ini menjelma menjadi simbol kebanggaan masyarakat Sumsel.

Laskar Wong Kito pernah meraih puncak kejayaan pada tahun 2007. SFC sukses menjuarai Divisi Utama Liga Indonesia dan Copa Indonesia sekaligus. Prestasi tersebut berhasil mengangkat derajat klub sebagai kekuatan baru di sepak bola nasional.

Kejayaan tim berlanjut, pada tahun 2008 hingga 2011, Sriwijaya berkesempatan berlaga di level Asia dalam partisipasi klub di AFC Cup. Ketika itu, Sumsel dipimpin oleh Gubernur Alex Noerdin yang telah tutup usia pada 25 Februari 2026.

4. Kondisi finansial Sriwijaya FC kian berat sejak akhir 2025

(Dok: MO Sriwijaya FC)
(Dok: MO Sriwijaya FC)

Usai terlibat dalam even Asia, nama Sriwijaya FC makin dikenal luas sebagai tim elit Indonesia. Pada 2012, kejayaan kembali terulang. Tahun itu, SFC sukses menjadi juara Indonesia Super League (ISL). Namun, pada medio 2015–2018, performa klub mulai menurun.

Konflik internal, masalah finansial, dan lemahnya manajemen perlahan menggerus kekuatan tim. Hingga akhirnya pada 2019, SFC harus menerima kenyataan pahit: degradasi ke Liga 2. Sepanjang tahun itu, alih-alih bangkit, krisis klub justru kian dalam. Sejak 2023, Sriwijaya FC dilanda kesulitan finansial akibat minimnya sponsor. Puncaknya terjadi pada 31 Desember 2025, saat dukungan utama dihentikan dan operasional klub terganggu berat.

Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More