Herman Deru Akan Jembatani Polemik Penutupan Wisata Gunung Dempo

- Gubernur Sumsel Herman Deru menanggapi penutupan destinasi wisata di Gunung Dempo akibat polemik perizinan lahan HGU milik PTPN VII yang berdampak pada aktivitas ekonomi warga.
- Herman Deru berencana mempertemukan Pemkot Pagar Alam dan PTPN VII untuk mencari solusi agar kegiatan wisata dan usaha masyarakat dapat kembali berjalan tanpa hambatan hukum.
- Penutupan sementara sejumlah objek wisata di kawasan Gunung Dempo dilakukan karena kendala regulasi, memicu kekhawatiran masyarakat terhadap turunnya kunjungan wisata ke Kota Pagar Alam.
Palembang, IDN Times - Gubernur Sumatra Selatan (Sumsel) Herman Deru merespons penutupan sejumlah destinasi wisata di kawasan Gunung Dempo, Pagar Alam, akibat polemik perizinan lahan Hak Guna Usaha (HGU) milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII.
Deru mengaku telah menerima laporan dari anggota DPRD Sumsel terkait permasalahan pengelolaan di desa wisata yang sempat terhenti. Ia memastikan akan turun tangan menjembatani persoalan tersebut agar aktivitas wisata dan ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan.
"Ini kemarin saya dapat laporan dari Ojik (Alfrenzi Panggarbesi) anggota DPRD Sumsel mengenai banyak pedagang dimintakan syarat rekomendasi dari pemerintah kota untuk tetap mengisi kegiatan di desa wisata itu," ungkap Herman Deru, Sabtu (2/5/2026).
1. Gubernur coba menjembatani Pemkot Pagar Alam dan PTPN VII
Deru mengaku akan mempertemukan pihak pemerintah kota dan PTPN untuk mencari solusi bersama atas persoalan yang terjadi. Dia berharap, kondisi yang ada tidak berlarut dan mengganggu aktivitas di jantung wisata Sumsel.
"Mudah-mudahan ini tidak sampai terhenti, akan terus jalan. Akan saya jembatani antar pemerintah kota (Pagar Alam dan PTPN)," jelasnya.
2. Gubernur Deru berharap polemik dapat diselesaikan

Menurut Deru, penataan kawasan wisata memang diperlukan, namun tidak boleh menghambat roda perekonomian masyarakat lokal yang bergantung pada sektor pariwisata.
Ia berharap koordinasi antar pihak dapat segera membuahkan hasil, sehingga destinasi wisata di kawasan Gunung Dempo dapat kembali beroperasi tanpa mengabaikan aspek legalitas.
"Kita bukan mendukung penertiban saja, tapi mendukung desa wisata ini agar menjadi episentrum ekonomi bagi pengrajin, para peramu wisata dan wisatawan," ungkapnya.
3. Penutupan Gunung Dempo

Diberitakan sebelumnya, Sejumlah destinasi wisata populer di kawasan Gunung Dempo Pagar Alam resmi ditutup. Penutupan ini dilakukan baik secara sementara maupun total akibat adanya kendala pada aspek regulasi dan perizinan lahan Hak Guna Usaha (HGU) milik PTPN VII.
Kabar penutupan sementara sejumlah destinasi wisata yang ada di kawasan Gunung Dempo ini mengehebohkan masyarakat Pagar Alam. Sebab dengan adanya keputusan ini, destinasi wisata yang selama ini menjadi andalan akan berdampak pada jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Pagar Alam.
"Dengan penuh kesadaran dan rasa haru, kami dari pengelola desa wisata di kawasan Gunung Dempo menyampaikan bahwa destinasi wisata ini untuk sementara waktu ditutup. Keputusan ini bukanlah yang kami inginkan. Selama ini kami bersama pihak HGU PTPN I Regional 7 telah berupaya mengembangkan pariwisata dan memberdayakan masyarakat lokal melalui wisata berbasis komunitas," ungkap Ketua Desa Wisata Gunung Dempo, Wawan Alamsyah.
















