Harga Gambir Anjlok, Petani di Lima Puluh Kota Beralih jadi Penambang Emas

- Harga gambir di Sumatra Barat turun drastis dari sekitar Rp75 ribu menjadi Rp20–35 ribu per kilogram, membuat petani kehilangan minat mengolah lahan mereka.
- Gubernur Mahyeldi menyebut penurunan harga dipengaruhi konflik Timur Tengah dan terbatasnya tujuan ekspor, sambil menyiapkan solusi berupa pabrik pengolahan gambir.
- Banyak warga Galugua beralih menjadi penambang emas tradisional di sungai, dan pemerintah daerah berencana memperketat pengawasan agar aktivitas tetap terkendali.
Padang, IDN Times - Turunnya harga gambir membuat masyarakat di daerah Galugua, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, beralih profesi sebagai penambang emas tradisional di sungai yang ada di wilayah tersebut.
Kegiatan itu terungkap melalui platform media sosial TikTok oleh berbagai akun yang memperlihatkan banyak warga yang menambang emas di pinggir sungai. Anjloknya harga gambir tersebut membuat masyarakat enggan mengolah lahan gambirnya dan lebih memilih menambang emas secara tradisional.
1. Harga gambir turun

Gubernur Sumatra Barat, Mahyeldi, mengatakan bahwa penurunan harga gambir memang terjadi sejak beberapa waktu lalu dan ada masyarakat yang beralih menjadi penambang tradisional.
"Memang saya mendapatkan laporan adanya penurunan harga gambir. Maka dari itu, kita dari pemerintah mencarikan solusi dengan pengolahan gambir di sini," katanya.
Penurunan harga gambir di Sumatra Barat tercatat cukup drastis sejak beberapa pekan terakhir. Tercatat, harga gambir biasanya berkisar antara Rp75 ribu per kilogram.
Saat ini, harga gambir yang mampu dijual oleh petani turun lebih dari 50 persen, yakni berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram.
2. Penyebab harga gambir merosot

Mahyeldi mengatakan, penyebab anjloknya harga gambir tersebut diperkirakan karena konflik yang terjadi antara Iran dengan Amerika dan Israel di Timur Tengah.
"Mungkin penyebabnya bisa itu. Tapi yang jelas memang harga gambir itu merosot karena tujuan ekspor kita hanya India dan Pakistan saja," katanya.
Ia mengatakan solusi yang masih disiapkan adalah pendirian pabrik pengolahan gambir menjadi barang jadi atau barang setengah jadi nantinya.
"Untuk itu, kita masih menunggu dari Kementerian. Kabarnya sudah ada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditugaskan untuk membuat pabrik pengolahan gambir," katanya.
3. Warga beralih profesi jadi penambang emas

Mahyeldi mengatakan, terkait banyaknya warga yang beralih profesi menjadi penambang emas secara tradisional tidak akan terlalu bermasalah.
"Yang harus dilakukan pengawasan ketat itu kan penambangan emas menggunakan alat berat. Kalau secara tradisional itu kan tidak terlalu parah. Tapi kita akan tetap melakukan pengawasan," katanya.
Menurutnya, ia akan berkoordinasi dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk melakukan pengawasan terhadap tambang tradisional tersebut nantinya.


















