Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gen Z Sumsel Lebih Pilih Saham dan Kripto, Aset Aman Ditinggal
ilustrasi investasi saham (pexels.com/Romulo Queiroz)
  • Minat investasi Gen Z di Sumsel meningkat, namun mayoritas memilih aset berisiko seperti kripto dan saham dibandingkan instrumen aman seperti reksa dana.
  • Data BPS 2025 menunjukkan hanya sekitar 12,82 persen investor muda memilih investasi aman, menandakan literasi keuangan masih rendah di kalangan generasi muda.
  • Fenomena FOMO dan tren media sosial mendorong Gen Z lebih tertarik pada keuntungan cepat, sementara edukasi tentang profil risiko dan tujuan investasi dinilai masih perlu diperkuat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Generasi Z di Sumatera Selatan lebih memilih investasi berisiko seperti kripto dan pasar modal dibandingkan aset aman seperti reksa dana.
  • Who?
    Pernyataan disampaikan oleh Gresia Kusyanto, pengurus Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI), berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2025.
  • Where?
    Kondisi ini dilaporkan terjadi di wilayah Sumatera Selatan, dengan penjelasan disampaikan di Palembang.
  • When?
    Pemaparan dilakukan pada Jumat, 24 April 2026, dengan data yang mengacu pada periode Desember 2025.
  • Why?
    Banyak anak muda memilih instrumen berisiko karena dorongan FOMO serta kurangnya pemahaman tentang investasi aman dan pengelolaan dana yang bijak.
  • How?
    Minat tinggi terhadap kripto dipicu tren media sosial dan keinginan meraih keuntungan cepat, sementara edukasi literasi keuangan masih terbatas di kalangan generasi muda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Anak muda di Sumsel banyak yang suka investasi yang berani, kayak kripto dan saham. Mereka belum terlalu tahu cara investasi yang aman. Katanya mereka takut ketinggalan teman, jadi ikut-ikutan. Ada ibu namanya Gresia bilang cuma sedikit yang pilih reksa dana. Sekarang banyak anak muda mau belajar investasi biar lebih paham dan hati-hati.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meningkatnya minat investasi di kalangan Gen Z Sumsel menunjukkan kesadaran finansial yang tumbuh pesat di generasi muda. Meskipun banyak yang masih tertarik pada instrumen berisiko seperti kripto, hal ini mencerminkan semangat eksploratif dan keinginan untuk memahami peluang baru. Tren tersebut menjadi tanda bahwa literasi keuangan mulai mendapat perhatian lebih luas di kalangan anak muda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Pengurus Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI), Gresia Kusyanto, mengatakan berdasarkan data Desember 2025, minat investasi Generasi Z mulai mendominasi. Namun, secara pilihan aman, mereka cenderung mengambil aset berisiko dengan fokus pada pasar modal dan saham kripto.

Pilihan investasi dimulai dari kripto kata Gresia, dipengaruhi kuat karena Gen Z saat ini belum memahami betul apa itu investasi aman dan bagaimana mengelola dana dengan bijak. Kebanyakan anak muda memilih kripto karena FOMO (Fear of Missing Out).

"Termasuk Sumsel, kebanyakan investasi aset aman belum terliterasi dengan baik. Anak muda nekat ambil risiko dan mengabaikan cara aman," ujarnya, dikutip Jumat (24/4/2026).

1. Baru sekitar 12 persen investor pilih investasi aman

ilustrasi investasi (freepik.com/rawpixel.com)

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025, generasi muda usia 15-34 tahun yang telah mencari tahu tentang investasi mencapai 88,96 juta jiwa. Namun, dari angka itu, hanya 11,41 juta investor yang memilih investasi aman, termasuk menjadi bagian dari investor Reksa Dana.

"Baru sekitar 12,82 persen yang memilih investasi aman dilihat dari data," katanya.

2. Gen Z dominan pilih investasi untung cepat

ilustrasi investasi saham (pexels.com/Anna Tarazevich)

Gresia menyampaikan, minat generasi muda terhadap investasi memang terus meningkat. Namun, sebagian besar investor muda masih cenderung berorientasi pada keuntungan instan.

“Generasi muda sebenarnya makin sadar pentingnya investasi. Tapi, banyak yang berorientasi pada instrumen dengan potensi untung cepat. Sehingga, edukasi perlu terus dilakukan agar paham profil risiko dan tujuan investasi," jelas dia

3. Inklusi keuangan investasi aman Indonesia masih 1,5 persen

Ilustrasi investasi naik (unsplash.com/Getty images)

Menurut dia, kripto saat ini banyak diminati anak muda karena dianggap lebih agresif dan menjanjikan keuntungan cepat. Selain itu, instrumen tersebut kerap viral di media sosial hingga memicu rasa ingin ikut-ikutan (FOMO).

"Kripto banyak diminati karena sifatnya lebih agresif dan viral di media sosial. Sementara reksa dana cenderung dipilih oleh investor yang mencari stabilitas dan pengelolaan profesional,” katanya.

Bila dibandingkan dengan negara Asia lain, Indonesia masih sangat minimnya inklusi keuangan dalam aspek investasi aman. Indonesia tercatat baru di angka 1,5 persen. Sementara negara lain seperti Malaysia, Singapura dan Thailand sudah terliterasi baik di angka 30 persen.

Kondisi tersebut disebabkan oleh investor maupun calon investor yang belum memiliki visi serta misi yang kuat untuk investasi. Sebagian dari mereka tidak paham dan mengenali risiko hingga tak ada tujuan pasti untuk investasi jangka panjang atau berkala.

Editorial Team