Pendapatan Pengemudi Ketek Palembang Merosot, Sepi Penumpang usai Libur Sekolah

Pengemudi Ketek hadapi pendapatan yang gak menentu
Pendapatan sempat naik waktu anak sekolah libur, tapi kini turun lagi usai libur
Pengemudi ketek akui kesulitan dapat Biosolar di perairan Sungai Musi
Palembang, IDN Times – Berakhirnya masa libur sekolah membawa dampak bagi pengemudi ketek di Sungai Musi, Palembang. Jumlah penumpang yang biasanya meningkat selama musim liburan kini kembali menurun, sehingga pendapatan harian mereka ikut menyusut.
Salah seorang pengemudi ketek, Zulkifli, mengaku saat ini aktivitas penyeberangan sungai tidak seramai beberapa pekan lalu. Menurutnya, lonjakan penumpang hanya terjadi saat anak-anak masih menikmati libur sekolah.
"Memang sekarang sepi nian ketek. Yang rame itu waktu budak libur sekolah. Kalau sekarang hari-hari biasa sepi kek ini," ungkap Zulkili kepada IDN Times, Jumat (24/7/2026).
1. Pendapatan kian tidak menentu

Zulkifli mengatakan penghasilannya tidak menentu setiap hari. Dalam kondisi normal, ia hanya mampu membawa pulang sekitar Rp100 ribu, bahkan terkadang kurang dari itu jika jumlah penumpang sedikit.
"Pendapatan kita enggak tentu. Kadang dapat sekitar Rp100 ribu, kadang lebih, kadang kurang. Kalau musim libur baru bisa narik jauh sampai Pulau Kemaro," ujarnya.
2. Andalkan penumpang Ulu-Ilir

Ia menjelaskan, pendapatan pengemudi ketek sepenuhnya bergantung pada tujuan penumpang. Untuk layanan penyeberangan dari kawasan Ilir ke Seberang Ulu, tarif yang dikenakan sebesar Rp5 ribu per orang. Sementara jika ada penumpang yang menyewa perjalanan wisata atau menuju destinasi lain di Sungai Musi, penghasilannya bisa lebih besar.
Meski begitu, sepinya penumpang membuat perjalanan jarak jauh kini semakin jarang didapat. Akibatnya, pengemudi hanya mengandalkan penyeberangan harian dengan jumlah penumpang yang terbatas.
"Kalau harian penumpang yang mau pulang ke Ulu, lumayan untuk pendapatan harian," jelasnya.
3. Akui ada kesulitan dalam membeli solar

Selain menghadapi penurunan pendapatan, Zulkifli mengaku pengemudi ketek juga dihadapkan pada persoalan operasional, terutama dalam memperoleh solar untuk menjalankan perahu. Menurutnya, kebijakan pembelian BBM menggunakan barcode membuat pengemudi transportasi sungai kesulitan mendapatkan bahan bakar.
"Sekarang beli solar juga susah karena harus pakai barcode. Dulu sempat diakomodir, sekarang enggak lagi. Kondisi kami di sungai berbeda dengan kendaraan di darat," tuturnya.
Ia berharap ada solusi dari pemerintah agar pengemudi ketek tetap dapat memperoleh solar dengan lebih mudah, sehingga transportasi tradisional di Sungai Musi tetap dapat bertahan di tengah menurunnya jumlah penumpang.





















