Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Daerah di Sumsel Catat Udara Tak Sehat, Tak Terpusat di Palembang
Kondisi kabut asap menyelimuti perairan Sungai Musi kota Palembang, Rabu 12 Agustus 2026. ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI
  • Lima daerah di Sumsel—PALI, Musi Rawas, Palembang, Lahat, dan Prabumulih—mencatat kualitas udara tidak sehat pada 11 Agustus 2026, dengan ISPU tertinggi di PALI sebesar 168.
  • Penurunan kualitas udara tahun ini tidak terpusat di Palembang atau OKI, melainkan tersebar di berbagai wilayah akibat kebakaran lahan di sejumlah daerah.
  • Titik api yang bertambah, hampir tiga minggu tanpa hujan, serta kebakaran di lahan gambut dan mineral berpotensi memperburuk udara; kabut asap biasanya lebih pekat pada pagi hari.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Penurunan kualitas udara mulai meluas di Sumatra Selatan (Sumsel). Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada 11 Agustus 2026 menunjukkan lima daerah berada dalam kategori tidak sehat, yakni Palembang, Prabumulih, Musi Rawas, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), dan Lahat.

PALI mencatat ISPU tertinggi dengan nilai 168, disusul Musi Rawas 131, Palembang 115, Lahat 110, dan Prabumulih 108. Kondisi serupa juga tercatat sehari sebelumnya, ketika kelima daerah tersebut masih berada di atas angka 100.

Kepala Seksi Pengendalian Pencemaran Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel, Rezawahya, mengatakan penurunan kualitas udara saat ini tidak hanya terjadi di Palembang dan Ogan Komering Ilir (OKI), tetapi mulai terpantau di sejumlah daerah lainnya.

"Data ISPU kita ada di beberapa daerah, PALI, Prabumulih, Muba, Ogan Ilir, dan Musi Rawas. Saat ini kondisi udara bukan hanya terjadi di OKI atau Palembang saja, tapi merata di daerah lain," ungkap Rezawahya kepada IDN Times, Rabu (12/8/2026).

1. Banyak wilayah alami kebakaran lahan

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)

Pola tersebut berbeda dengan kondisi karhutla pada 2023. Saat itu, asap dari kebakaran di OKI lebih banyak terbawa angin sehingga dampaknya menyebar ke wilayah lain. Sementara tahun ini, sumber gangguan kualitas udara tidak terpusat pada satu daerah.

"Kalau di 2023 kebanyakan asap terbawa angin dari OKI, kalau tahun ini tidak terpusat tapi rata," katanya.

2. Areal gambut dan mineral Sumsel terbakar

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)

Data ISPU dua hari terakhir memperlihatkan kondisi tersebut. Meski angka di beberapa daerah mengalami penurunan pada 11 Agustus, seluruh wilayah yang dipantau tetap berada dalam kategori tidak sehat.

"Kalau dilihat dari jumlah titik api yang terus bertambah tiap hari dan diikuti oleh hujan yang belum turun sudah hampir tiga minggu lebih, dan juga karhutla sudah ada yang di lahan gambut dan mineral, maka kemungkinan kualitas udara akan menurun secara perlahan," jelasnya.

3. Kabut asap juga dipengaruhi pergerakan angin

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)

Sebaran titik api di sejumlah wilayah membuat dampak penurunan kualitas udara dirasakan masyarakat di lebih banyak daerah. Kondisi udara juga dapat berubah sepanjang hari mengikuti pergerakan angin.

Rezawahya mengatakan kabut asap biasanya lebih pekat pada pagi hari. Pada pukul 08.00 hingga 10.00 WIB, pergerakan angin membuat kepekatan kabut berkurang.

"Biasanya, memasuki pukul 08.00-10.00 WIB, angin mulai bergerak, sehingga ada pengurangan kepekatan kabut asap. Itu pengaruh arah mata angin saja," jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article