Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Alasan Keturunan Tionghoa Mudik demi Tradisi Imlek Bersama Keluarga
Persiapan menyambut tahun baru imlek di Klenteng Dewi Kwan Im Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Palembang, IDN Times - Perayaan Tahun Baru Imlek begitu identik dengan tradisi-tradisi yang sangat menarik untuk diketahui. Karena itulah, Tahun Baru Imlek menjadi momen yang ditunggu-tunggu warga keturunan Tionghoa di mana pun berada, termasuk di Palembang Sumatra Selatan (Sumsel).

Untuk memeriahkannya, warga keturunan Tionghoa menjalankan berbagai tradisi yang diwariskan turun temurun. Salah satunya pulang kampung demi kumpul dengan keluarga besar. Biasanya, kalau kalau tidak ada lagi orang tua, orang Tionghoa akan berkumpul di rumah keluarga mereka yang dituakan.

Meskipun bukan hari raya keagamaan seperti Lebaran dan Natal yang identik dengan mudik, perayaan Imlek pun merupakan momen bagi warga keturunan Tionghoa pulang kampung demi menjalani berbagai tradisi dengan keluarga besar. Tak heran jika saat perayaan Imlek ini mereka berbondong-bondong mudik agar bisa merasakan kemeriahan Imlek bersama keluarga tercinta.

Berikut beberapa alasan warga Tionghoa mudik saat Tahun Baru Imlek!

1. Membersihkan dan menghias rumah

ilustrasi imlek (pexels.com/angelaroma)

Tradisi ini dipercaya dapat membuang seluruh energi buruk yang menghalangi jalan masuk keberuntungan. Maka dari itu, kegiatan ini sering kali dilakukan satu hari sebelum Imlek.

Setelah membersihkan rumah, masyarakat Tionghoa juga wajib menghias rumahnya dengan berbagai ornamen khas Imlek yang dominan warna merah, seperti lampion, pohon buat kumquat, dan pernak pernik lainnya. 

Namun harus diingat, saat hari Imlek tiba membersihkan rumah sama sekali tidak boleh dilakukan. Masyarakat Tionghoa percaya bahwa membersihkan rumah pada tiga hari pertama perayaan Imlek bisa menghilangkan keberuntungan yang datang di tahun baru.

2. Makan malam bersama (Cia Tok)

ilustrasi keluarga yang makan bersama (istockphoto.com/Patrick Chu)

Salah satu budayawan Tionghoa di Palembang, Tjik Harun mengatakan, pada malam pergantian tahun keluarga besar akan makan bersama (Cia Tok) baik itu di rumah atau restoran. 

Saat Cia Tok, tentu ada beberapa hidangan khas yang selalu ada dalam hidangan. Apalagi kalau bukan Siu Mie (mi panjang umur). 

"Siu Mie adalah makanan yang wajib hadir saat malam tahun baru Imlek. Hidangan ini melambangkan harapan untuk umur panjang, kesehatan, dan kebahagiaan," ujarnya.

Tak hanya itu, dalam jamuan makan malam keluarga tak lupa ada menu ikan. Ikan merupakan simbol makanan bergizi apalagi khusus ikan bandeng yang menjadi lambang harapan dan keberuntungan. 

"Kebiasaan makan ikan bandeng dilakukan di malam Imlek bagi warga Tionghoa. Ikan bandeng merupakan simbol kemakmuran dan rezeki melimpah," ungkapnya.

3. Mendoakan leluhur

Keluarga tionghoa melakukan tradisi Ji Kau Meh atau sembahyang leluhur saat Imlek. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Tradisi turun-temurun lain yang sangat penting menurut Tjik Harun adalah mendoakan leluhur. Biasanya, dua hari atau sehari sebelum hari H, bersama keluarga akan melakukan sembahyang kepada leluhur baik di rumah atau tempat ibadah.

"Dalam ibadah itu, biasanya disertai doa agar di tahun baru diberikan kemudahan, kelancaran dan rezeki berlimpah. Tentunya kita berharap dilimpahkan keselamatan dan kesehatan," jelasnya.

4. Menonton barongsai dan pesta kembang api

ilustrasi barongsai (pexels.com/lucastran)

Pertunjukan barongsai menjadi salah satu acara yang paling dinantikan bagi keluarga Tionghoa. Namun, sebenarnya masyarakat umum yang tinggal di sekitar kawasan Pecinan juga bisa menikmatinya. 

Pertunjukkan ini identik dengan tarian dan musik yang meriah dan gaduh. Tarian ini dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan. Sedangkan untuk musik yang sengaja dibuat gaduh tersebut, diyakini akan mengusir roh-roh jahat yang bisa membawa kesialan di malam pergantian tahun baru.

Selain barongsai, keluarga Tionghoa juga menyaksikan kemeriahan kembang api dan petasan. Suara gaduh yang ditimbulkan dari petasan maupun kembang api diyakini dapat menakut-nakuti Nian atau makhluk halus yang dapat mengundang kesialan dalam kepercayaan etnis Tionghoa.

Maka itu, petasan dan kembang api wajib dinyalakan pada perayaan Imlek. Keduanya juga dinyalakan untuk semakin membuat hari raya Imlek meriah dan mengusir nasib buruk yang terjadi di tahun sebelumnya.

5. Memberikan angpau

ilustrasi imlek(pexels.com/angelaroma)

Tradisi Imlek yang tak boleh dilewatkan yakni memberikan angpau. Angpau dikenal dengan amplop bergambar berwarna merah dan berisi sejumlah uang kertas. Tjik Harun mengatakan, angpau biasanya diberikan kepada anak-anak. Namun, seorang anak yang sudah menikah juga wajib memberikan kepada orang tuanya.

"Anak yang sudah menikah boleh menerima angpau dari orang tuanya. Selain itu anak yang sudah dewasa dan mapan tapi belum menikah masih bisa menerima angpau," ungkapnya.

Warna merah pada angpau melambangkan keberuntungan dan mengusir roh jahat, sementara uang di dalamnya diharapkan membawa kemakmuran bagi penerimanya. Tak heran jika angpau juga kerap diberikan saat momen penting seperti perayaan kelulusan dan pernikahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team