2 Daerah di Sumsel Pernah Terindikasi PMK, DKPP Sebar 10 Dosis Vaksin

- Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih belum aman di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel).
- Gejala PMK terindikasi di Kabupaten Ogan Ilir dan OKU Selatan, pemerintah melakukan antisipasi dengan biosecurity dan vaksinasi.
- Pemerintah telah menyebar 10 ribu dosis vaksin ke setiap daerah di Sumsel, serta melakukan pengetatan keluar masuk sapi ke Sumsel.
Ogan Ilir, IDN Times - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih belum dinyatakan aman di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel). Meskipun penyakit pada ternak ini belum benar-benar dinyatakan ada, tapi pemerintah mengklaim dua daerah pernah terindikasi terduga Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Sumsel menemukan gejala PMK pernah ada di Kabupaten Ogan Ilir dan OKU Selatan. Kendati demikian, temuan tersebut belum benar-benar dinyatakan positif PMK dan cepat ditanggulangi.
1. Demam tinggi terjadi pada beberapa sapi

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Sumsel, Ruzuan Effendy mengatakan, pihaknya menerima laporan gejala PMK pernah ada di Ogan Ilir seperti demam tinggi terjadi pada beberapa sapi.
"Saat ini yang ditemukan baru terduga, dan ini juga cuma di beberapa daerah. Maka itu kami melakukan antisipasi jauh sebelum itu melalui program biosecurity, seperti penyemprotan disinfektan, dan vaksinasi," ujarnya saat dihubungi, Sabtu (18/1/2024).
2. Antisipasi gejala penyakit musim pancaroba

Ruzuan menambahkan, pemerintah juga sudah menyebar 10 ribu dosis vaksin ke setiap daerah di Sumsel. Termasuk ada juga yang melakukan vaksin secara mandiri terdata 725 ekor sapi.
"Sejak perubahan cuaca pada November 2024 kemarin, sudah dilakukan sosialisasi terhadap peternak di Sumsel. Termasuk surat edaran terhadap gejala-gejala penyakit musim pancaroba," terangnya.
3. Segera isolasi ternak jika temukan gejala PMK

Selain itu, upaya penanganan lain yang dilakukan yaitu melakukan pengetatan keluar masuk sapi ke Sumsel. Ruzuan memastikan setiap sapi ada surat kesehatannya, dan dilakukan isolasi jika terdapat tanda-tanda lalu kemudian diobati.
"Kami melakukan koordinasi dengan kabupaten atau kota, khususnya daerah yang memang lalu lintas sapinya tinggi. Memastikan pembersihan kandang dengan disinfektan, pengobatan, pemberian vitamin dan lainnya harus dilakukan pemilik ternak," tegasnya.



















