Sumsel Diprediksi Inflasi Jelang Imlek-Ramadan 2026

- Prediksi inflasi Sumatra Selatan (Sumsel) mengalami kenaikan jelang momen Imlek dan Ramadan 2026.
- Kekhawatiran terjadi kenaikan harga terdekat potensi berlangsung saat Isra Miraj pada pekan kedua Januari 2026.
- Data ekonomi Sumsel terakhir menunjukkan nilai inflasi masih dalam rentang aman, tetapi ada potensi risiko yang berpeluang mengganggu pergerakan inflasi pada awal 2026.
Palembang, IDN Times - Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan inflasi Sumatra Selatan (Sumsel) mengalami kenaikan. Proyeksi itu sejalan momen Imlek dan Ramadan 2026 yang berlangsung pada Februari mendatang.
"Ke depan, inflasi diprakirakan terjaga, tapi ada beberapa yang perlu diantisipasi bersama," ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Sumsel Bambang Pramono dalam keterangan rilis yang diterima, Rabu (7/1/2026).
1. Tren konsumsi masyarakat picu inflasi Sumsel

Selain mengantisipasi adanya lonjakan inflasi atau kenaikan harga pada Februari nanti, kekhawatiran terjadi kenaikan harga terdekat potensi berlangsung saat Isra Miraj yang jatuh pada pekan kedua Januari 2026.
"Faktor-faktor yang perlu diperhatikan di beberapa bulan ke depan, seperti tren peningkatan konsumsi masyarakat pada peringatan Isra Miraj," jelasnya.
2. Sebut inflasi Sumsel pada Desember 2025 masih dalam rentang aman

Sementara berdasarkan data ekonomi Sumsel terakhir pada Desember 2025 tercatat nilai inflasi sebesar 0,49 persen secara month to month (mtm) dan 2,91 persen secara tahunan (year on year).
"Nilai ini masih berada pada rentang aman. Tapi tetap ada potensi risiko yang berpeluang mengganggu pergerakan inflasi Sumsel pada awal 2026 ini," kata dia.
3. Kondisi curah hujan dorong inflasi di Sumsel

Bambang menyampaikan, selain momen hari besar keagamaan, potensi munculnya tekanan harga pangan dan hortikultura bisa terjadi karena kondisi curah hujan yang diprakirakan masih tinggi hingga Februari.
"Termasuk imbas dan sisa dampak banjir bandang di beberapa wilayah Sumatra yang dapat mengganggu ketersediaan suplai di pasar. Sehingga penguatan koordinasi pasokan dan distribusi pangan menjadi sangat penting agar ketersediaan tetap terjaga dan harga terkendali," jelasnya.


















