Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tarif Ekspor ke AS 0 Persen, Sumsel Tetap Harus Hilirisasi Karet
Ilustrasi karet alam untuk membuat bahan ramah lingkungan (Michelin.com)
  • Pembebasan tarif ekspor ke AS sebesar nol persen membuat karet Sumsel lebih kompetitif dan membuka peluang peningkatan volume ekspor serta pendapatan petani dan eksportir.
  • Apkarindo menekankan pentingnya menjaga kualitas, konsistensi produksi, serta kesiapan menghadapi persaingan global agar manfaat kebijakan ini bisa dimaksimalkan.
  • Dalam jangka panjang, sektor hilir perlu diperkuat agar karet tidak hanya diekspor mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Harga karet global kembali menguat pada awal pekan ini. Kenaikan ini diperkuat oleh kebijakan pembebasan tarif ekspor ke Amerika Serikat sebesar nol persen untuk sejumlah komoditas, termasuk karet.

Sekretaris DPW Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumsel, Rudi Arpian, menyebutkan tarif nol persen akan membuat produk karet Indonesia lebih kompetitif di pasar AS.

"Dengan tarif nol persen, peluang peningkatan volume ekspor sangat terbuka. Ini bisa berdampak langsung pada pendapatan petani dan eksportir," ungkap Rudi Arpian kepada IDN Times, Senin (23/2026).

1. Tarif nol persen harus didorong peningkatan kualitas ekspor

Getah Karet saat dikumpulkan (IDN Times/Rangga Erfizal)

Rudi menjelaskan, kesepakatan tersebut membuka peluang besar bagi peningkatan ekspor karet asal Sumsel. Kondisi ini harus menjadi langkah agar petani dan pelaku usaha lebih memperhatikan kualitas dan konsistensi produksi untuk memanfaatkan peluang yang ada.

"Perlu diingat bahwa ada beberapa faktor yang harus menjadi pertimbangan, seperti kualitas produk, kemampuan produksi, dan persaingan dengan produk karet dari negara lain," jelas dia.

2. Hilirisasi tetap harus dilakukan untuk mendukung industri karet dalam negeri

Petani karet Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)

Dalam jangka pendek, pembebasan tarif ekspor ke AS berpotensi meningkatkan pendapatan petani dan eksportir karet Sumsel. Namun dalam jangka panjang, Apkarindo mendorong penguatan sektor hilir agar karet tidak hanya diekspor sebagai bahan mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi.

"Kebijakan ini menguntungkan dan meningkatkan kesejahteraan petani dan eksportir karet Sumsel. Tetapi tetap perlu upaya hilirisasi untuk menghasilkan produksi jadi guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat," jelas dia.

3. Harga karet Sumsel menguat di awal pekan

Petani karet Sumsel tengah menyadap hasil kebunnya (IDN Times/Rangga Erfizal)

DPW Apkarindo mencatat harga karet di pasar Singapore Exchange (SGX) dan Sicom pada Senin (23/2/2026) tercatat sebesar 194,4 sen dolar per kilogram.

Dengan kurs Rp16.801 per dolar AS, harga Karet Karet Kering (KKK) 100 persen berada di angka Rp32.661 per kilogram atau naik Rp210 per kilogram dibandingkan Jumat (20/2/2026) yang berada di level Rp32.451 per kilogram.

"Kenaikan ini mempertegas momentum positif yang masih terjaga setelah penutupan pekan lalu yang stabil," jelas dia.

Editorial Team