Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tanggapan BPH Migas usai Ada Sopir Tewas Antre Solar di Banyuasin
Anggota Komite BPH Migas, Hasbi Ansori (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • BPH Migas menyampaikan duka cita atas meninggalnya sopir truk di Banyuasin dan menegaskan penyelidikan sepenuhnya menjadi kewenangan aparat penegak hukum.
  • Lembaga tersebut berencana mengevaluasi kuota serta kapasitas penyaluran BBM subsidi di Sumsel agar distribusi lebih tepat sasaran dan tidak menimbulkan antrean panjang.
  • Organda menyoroti antrean solar yang berkepanjangan telah mengancam keselamatan pengemudi serta mengganggu operasional transportasi umum akibat keterbatasan pasokan BBM.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Hasbi Ansori, menyampaikan duka cita atas meninggalnya seorang pengemudi saat mengantre BBM di SPBU di Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan.

Hasbi mengatakan, BPH Migas turut prihatin atas peristiwa tersebut dan berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

"Pertama, kami turut berduka cita atas meninggalnya korban," kata Hasbi, Jumat (10/7/2026).

1. Kepastian hukum berada di tangan aparat

Sopir truk ditemukan meninggal saat antre solar di SPBU Sembawa. (Instagram: Banyuasin Daily)

Hasbi menegaskan, kasus meninggalnya sopir truk saat mengantre BBM sepenuhnya menjadi kewenangan aparat penegak hukum untuk menyelidiki penyebab kejadian dan mengambil langkah sesuai ketentuan yang berlaku.

"Kedua, terkait peristiwa itu merupakan kewenangan aparat penegak hukum," ujarnya.

2. Akan evaluasi kondisi penyaluran BBM di Sumsel

Pengisian BBM di SPBU Veteran Palembang pasca kenaikan BBM Non-Subsidi yang berlaku pukul 00.00 WIB, Sabtu (18/4/2026) (IDN Times/Rangga Erfizal)

Untuk mengatasi permasalahan antrean BBM tersebut, BPH Migas berjanji akan melakukan evaluasi mengenai kuota BBM subsidi di wilayah Sumsel. BPH Migas terlebih dahulu melakukan verifikasi kebutuhan dan kapasitas penyaluran di lapangan.

"Kapasitas penyaluran setiap SPBU berbeda-beda tergantung jumlah nozel, kapasitas tangki penyimpanan, dan waktu pengisian per kendaraan," jelasnya.

Ia mencontohkan, satu kendaraan membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam menit untuk mengisi 50 liter solar subsidi. Dengan kondisi tersebut, satu SPBU memiliki batas kemampuan dalam melayani antrean kendaraan setiap harinya.

Karena itu, BPH Migas menilai penambahan kuota harus dibarengi dengan evaluasi kemampuan distribusi di tingkat SPBU agar subsidi BBM benar-benar tersalurkan kepada masyarakat yang berhak dan tidak menimbulkan potensi penyimpangan.

"Kalau SPBU tidak cukup, gimana mau menyalurkan. Jika dikasih kuota satu juta kiloliter (KL), juga percuma kalau SPBU-nya gak cukup. Tetapi saya gak bisa komentar soal Sumsel kekurangan SPBU," bebernya.

3. Organda minta pemerintah berbenah

Potret kondisi saat antrean mengular di sejumlah SPBU di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

Sebelumnya, seorang pengemudi truk dilaporkan meninggal dunia saat mengantre BBM di salah satu SPBU di Kabupaten Banyuasin pada Senin (29/6/2026). Peristiwa tersebut terjadi di tengah antrean panjang kendaraan yang masih terjadi di sejumlah daerah di Sumsel akibat keterbatasan pasokan dan tingginya permintaan BBM subsidi.

Kondisi ini menambah keprihatinan mengingat permasalahan BBM telah berlangsung selama berbulan-bulan. DPP Organisasi Angkutan Darat (Organda) menilai antrean panjang solar subsidi kini telah mengancam keselamatan pengemudi dan layanan transportasi umum.

"Meninggal dunia memang menjadi takdir seseorang, tetapi meninggal saat mengantre BBM karena kelelahan seharusnya tidak perlu terjadi. Kondisi ini juga berpotensi memicu kecelakaan karena pengemudi kurang istirahat setelah mengantre berjam-jam," ungkap Sekjen DPP Organda, Kurnia Lesani Adnan.

Adnan menjelaskan, dampak kelangkaan BBM subsidi juga mulai dirasakan masyarakat pengguna transportasi umum. Banyak armada angkutan dan bus mengalami keterlambatan keberangkatan karena harus mengantre solar di SPBU tanpa kepastian waktu.

Tak sedikit kendaraan yang telah mengantre berjam-jam hingga mencapai dispenser pengisian, namun tidak bisa mendapatkan BBM karena stok keburu habis. Kondisi tersebut, kata dia, mengganggu operasional perusahaan angkutan dan pelayanan kepada penumpang.

"Awak kendaraan harus mengantre BBM berjam-jam bahkan semalaman di SPBU Pertamina," jelasnya.

Editorial Team

Related Article