Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sopir Tewas saat Antre BBM, Organda Soroti Keselamatan Pengemudi
Antrean BBM di SPBU Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • Seorang sopir truk meninggal saat mengantre BBM di Banyuasin, memicu perhatian Organda terhadap ancaman keselamatan pengemudi akibat antrean panjang solar subsidi.
  • Organda menyoroti kelangkaan dan pembatasan pembelian BBM subsidi yang membuat banyak armada angkutan terlambat beroperasi serta stok sering habis di SPBU.
  • Pemerintah dinilai belum mengambil langkah konkret atasi kelangkaan BBM, sementara Organda mendesak evaluasi sistem distribusi dan perbaikan mekanisme barcode agar lebih tepat sasaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Kematian seorang sopir truk saat mengantre BBM di Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan (Sumsel), menjadi sorotan DPP Organisasi Angkutan Darat (Organda). Mereka menilai antrean panjang solar subsidi kini telah mengancam keselamatan pengemudi dan layanan transportasi umum.

"Meninggal dunia memang menjadi takdir seseorang, tetapi meninggal saat mengantre BBM karena kelelahan seharusnya tidak perlu terjadi. Kondisi ini juga berpotensi memicu kecelakaan karena pengemudi kurang istirahat setelah mengantre berjam-jam," ungkap Sekjen DPP Organda, Kurnia Lesani Adnan, Jumat (10/7/2026).

1. Soroti fenomena sopir yang bermalam di SPBU

Pengisian BBM di SPBU Veteran Palembang pasca kenaikan BBM Non-Subsidi yang berlaku pukul 00.00 WIB, Sabtu (18/4/2026) (IDN Times/Rangga Erfizal)

Adnan menjelaskan, dampak kelangkaan BBM subsidi juga mulai dirasakan masyarakat pengguna transportasi umum. Banyak armada angkutan dan bus mengalami keterlambatan keberangkatan karena harus mengantre solar di SPBU tanpa kepastian waktu.

Tak sedikit kendaraan yang telah mengantre berjam-jam hingga mencapai dispenser pengisian, namun tidak bisa mendapatkan BBM karena stok keburu habis. Kondisi tersebut, kata dia, mengganggu operasional perusahaan angkutan dan pelayanan kepada penumpang.

"Awak kendaraan harus mengantre BBM berjam-jam bahkan semalaman di SPBU Pertamina," jelasnya.

2. Nilai suplai BBM subsidi tersendat

Potret kondisi saat antrean mengular di sejumlah SPBU di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

Organda juga menyoroti adanya pembatasan pembelian BBM di sejumlah SPBU meski kendaraan masih memiliki kuota berdasarkan barcode. Menurutnya, kondisi itu terjadi karena pasokan BBM di lapangan tidak mencukupi kebutuhan.

"Kami sangat menyayangkan sampai saat ini para pemangku kepentingan hanya saling menghindar dari persoalan pokok, yakni tersendatnya suplai BBM di lapangan," katanya.

3. Belum ada langkah dari pemerintah atasi kelangkaan BBM

Potret kondisi saat antrean mengular di sejumlah SPBU di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

Adnan menilai pemerintah belum menunjukkan langkah konkret untuk mengatasi kelangkaan BBM subsidi yang terjadi di berbagai daerah. Padahal, selain telah memakan korban jiwa, antrean panjang juga kerap memicu perselisihan antara pengemudi dan operator SPBU maupun antarpengemudi.

Organda mendesak pemerintah dan pemangku kepentingan segera mengevaluasi sistem distribusi BBM subsidi, termasuk mekanisme penggunaan barcode yang dinilai masih menyisakan banyak persoalan di lapangan.

"Kami sudah mengusulkan perubahan dari sistem barcode statis menjadi barcode dinamis dan pengetatan persyaratan penerima, khususnya bagi kendaraan umum yang legalitasnya masih aktif. Hari ini barcode masih bisa didapat tanpa melihat ketaatan terhadap legalitas kendaraan dan banyak disalahgunakan oleh oknum," jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article