Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Percepat Masa Tanam, Produksi Gabah Sumsel Tembus 2,88 Juta Ton
Ilustrasi kemarau (ANTARA FOTO/Arnas Padda)
  • Produksi gabah kering giling Sumatra Selatan hingga Agustus 2026 diperkirakan mencapai 2,885 juta ton, naik sekitar 108 ribu ton dibanding 2,776 juta ton pada periode sama tahun sebelumnya.
  • Percepatan masa tanam sejak April membuat area berpotensi kekeringan dipanen sebelum puncak kemarau, sehingga El Nino belum menimbulkan gangguan berarti terhadap produksi padi.
  • Dinas Pertanian memetakan potensi tanam, memanfaatkan beragam tipologi lahan, dan menyiapkan pompa air untuk menjaga produktivitas serta mengejar target produksi saat El Nino berlangsung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Fenomena El Nino yang mulai menguat belum berdampak pada penurunan produksi padi di Sumatra Selatan (Sumsel). Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel mencatat hingga Agustus 2026, hasil panen gabah kering giling (GKG) akan lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Produksi sampai Agustus tahun lalu sekitar 2,776 juta ton, sedangkan tahun ini diperkirakan mencapai 2,885 juta ton. Jadi ada kenaikan sekitar 108 ribu ton," ungkap Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Sumsel, Tuti Murti, Senin (3/8/2026).

1. Wiayah rawan kekeringan berhasil panen lebih dulu

Ilustrasi kemarau (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

Tuti menjelaskan, kenaikan GKG dipengaruhi oleh percepatan masa tanam yang dilakukan sejak April 2026. Strategi itu membuat sebagian besar areal yang berpotensi mengalami kekeringan telah dipanen sebelum memasuki puncak musim kemarau.

Karena itu, hingga memasuki Agustus, pihaknya belum melihat adanya gangguan berarti terhadap produksi padi akibat berkurangnya ketersediaan air.

"Wilayah yang diperkirakan rawan kekeringan sebagian besar sudah selesai dipanen, sehingga sejauh ini belum menjadi kendala," katanya.

2. Lahan lebak dan rawa masih dapat ditanami

Ilustrasi pekerja menjemur gabah. (ANTARA FOTO/Putra M Akbar)

Ia menjelaskan, karakteristik lahan pertanian di Sumsel juga menjadi keuntungan tersendiri dalam menghadapi musim kemarau. Daerah ini memiliki beragam tipologi lahan, mulai dari lahan irigasi, lebak, pasang surut, hingga lahan kering, sehingga pola tanam dapat disesuaikan dengan kondisi di setiap wilayah.

Untuk lahan lebak dalam, kata Tuti, aktivitas tanam masih dapat dilakukan karena cadangan air masih tersedia. Sementara pada lahan lebak pematang, sebagian besar tanaman sudah memasuki masa panen, meski masih ada beberapa areal yang belum dipanen.

"Kalau lahan kering, tentu belum bisa ditanami sekarang. Tetapi untuk lebak dalam masih memungkinkan karena airnya masih tersedia. Sedangkan lebak pematang sebagian besar sudah panen, meskipun masih ada sebagian tanaman yang berada di lapangan," jelas dia.

3. Produksi padi Sumsel diperkirakan sesuai target

Serap 1,06 Juta Ton Gabah, Bulog Jabar Jamin Stok Cadangan Beras. IDN Times/Istimewa

Sebagai langkah antisipasi, Dinas Pertanian Sumsel terus memetakan daerah yang masih memiliki potensi tanam agar produksi tetap terjaga. Pemerintah juga menyiapkan bantuan pompa air bagi wilayah yang membutuhkan untuk menjaga produktivitas lahan.

Dengan berbagai upaya tersebut, Dinas Pertanian optimistis target produksi padi di Sumsel tetap dapat tercapai meskipun El Nino diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan mendatang.

"Dengan strategi percepatan tanam, pemanfaatan tipologi lahan, dan dukungan sarana produksi, kami optimistis target produksi padi tahun ini tetap dapat tercapai meski fenomena El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa bulan ke depan," jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article