Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Penyumbang Kelima Produksi Padi, Sumsel Tak Mampu Tekan Inflasi Beras

Penyumbang Kelima Produksi Padi, Sumsel Tak Mampu Tekan Inflasi Beras
ilustrasi beras (pixabay.com/JIb_Enjoy)
Intinya Sih
  • Pertumbuhan ekonomi Sumsel tertinggi di Sumatra, mencapai 4,96 persen year on year menurut BPS.
  • Sumsel penyumbang kelima produksi padi di Tanah Air, namun belum mampu menekan kenaikan harga atau inflasi komoditas.
  • Produksi beras di Sumsel mencapai 1,7 juta ton per tahun namun konsumsi harian beras di Sumsel mencapai 800 ribu ton, memengaruhi harga pasar yang tidak bisa mencukupi permintaan masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Palembang, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Sumatra Selatan (Sumsel) tertinggi di Sumatra dengan nilai 4,96 persen secara year on year (yoy).

Angka tersebut jika dibandingkan dengan pencapaian nasional masih di bawah rata-rata. Namun pergerakan ekonomi Sumsel berada pada tren positif sebagai penyumbang kelima produksi padi.

1. Tahun 2023 produksi padi di Sumsel 2,83 juta ton

Pj Gubernur Sumsel Elen Setiadi (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Pj Gubernur Sumsel Elen Setiadi (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Jadi penyokong panen gabah tertinggi di Tanah Air dan penyumbang terbesar produksi beras, ternyata Sumsel belum mampu menekan kenaikan harga atau inflasi komoditas di pasaran sesuai permintaan.

"Produksi padi tercatat 2,83 juta ton pada 2023. Kalau dikonversi dari gabah menjadi beras kita hasilkan 1,7 juta ton per tahun," ujar Pj Gubernur Sumsel Elen Setiadi, Senin (12/8/2024).

2. Produksi beras dan permintaan masyarakat memengaruhi harga pasar

Potret beras Bulog (IDN Times/Dhiya Awlia Azzahra)
Potret beras Bulog (IDN Times/Dhiya Awlia Azzahra)

Namun konsumsi harian beras di Sumsel diangka 800 ribu ton seharusnya, pemerintah bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Kondisi ini sangat memengaruhi harga pasar yang tidak bisa mencukupi permintaan atau demand di masyarakat.

"Mestinya kita ada saving setengahnya. Tapi anomalinya ada sumber inflasi justru dari komoditi beras," kata Elen.

3. Inflasi terjadi karena hilirisasi komoditas Sumsel belum merata

ilustrasi beras ketan (freepik.com/jcomp)
ilustrasi beras ketan (freepik.com/jcomp)

Menurut Elen permintaan tinggi beras di pasaran dengan jumlah produksi yang bedar tidak bisa dinimmati keseluruhan oleh masyarakat, akibat nilai jual yang meningkat dipengaruhi aktivitas hilirisasi.

"Nilai yang tinggi ini karena hilirisasi komoditas di Sumsel belum merata," kata dia.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Feny Maulia Agustin
EditorFeny Maulia Agustin

Latest News Sumatera Selatan

See More